Jakarta In Love Part #11





Berlahan Adit bangkit dari duduknya menuju tempat wudhu. Tangannya mulai menadah air lalu membasuh wajah nya. Air membasahi anggota tubuh Adit, menyirami jiwanya yang gersang. Kemudian ia menegadahkan tangannya ke langit memanjatkan doa setelah berwudhu.
Berlahan ia menuju mimbar berdiri di belakang pria berjanggut tipis itu yang sedari tadi sabar menantinya. Adit melantunkan Iqomat. Kemudian mereka sholat berjamaah. Adit meresapi setiap lantunan yang dibacakan oleh Imam sholat. Tak terasa air matanya membasahi pipinya. Kini hatinya bergetar mendengar lantunan Ayat ayat suci Alquran. Kenagan saat ia menjadi Imam bagi istrinya melintas di pelupuk matanya.

Setelah menyelesaikan shalat, Adit duduk menyendiri di sudut ruangan. Mengenang kembali apa yang ia alami. Tak terasa matanya terpejam. Ia tertidur dengan posisi duduk, hingga fajar menyingsing. Satu persatu kaum muslimin mulai berdatangan untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Adit terbangun dari tidurnya saat adzan subuh diperdengarkan.

***

Pagi ini matahari bersinar dengan gagahnya, membuat kupu kupu berterbangan dengan ceria menghampiri bunga bunga yang bermekaran di taman rumah sakit. Adit duduk termangu seorang diri duduk di kursi taman, menatap kupu-kupu yang ayun ayun di kelopak bunga yang sedang merekah.

Dari kejauhan Ihang mendekati Adit, ada keraguan dihatinya untuk menyapa, Namun ia tetap memberanikan diri.

"Assalammualaikum, Pak Adit, Ini sarapan Anda" sambil menyerahkan sebungkus nasi beserta sebotol air mineral, Ihang duduk disamping Adit.

Adit menatap bungkusan itu, namun ia bergeming. Tak ada selera makan, tak ada rasa lapar sedikitpun yang ia rasakan. Tidak ada yang ia inginkan selain melihat Tiyas kembali sadar. Namun ia tahu, tidak ada kekuatan apapun yang ia miliki selain pasrah dan berdoa pada Sang Pencipta.

"Bagaimana keadaan Tiyas?" tanya Adit tanpa ekspresi.

"Keadaannya stabil, semoga hari ini Tiyas segera sadar dari komanya" Jawab Adit sembari menatap kupu-kupu yang bermain di taman.

"Makanlah, Pak, walau sedikit. Anda harus menjaga kesehatan, Siapa yang akan menjaga Tiyas jika Anda sakit?"

Adit menatap bungkusan nasi didepannya. Walau tak ingin memakannya, namun ia mencoba mengisi perutnya yang sejak kemarin siang belum terisi apa-apa.

***

Ihang menghentikan tilawahnya, sayap sayup ia mendengar Adit membaca Kalam Ilahi itu menggunakan ponselnya. Suara itu bergetar, buliran air bening mengalir dari mata elang itu.  sesekali suaranya terhenti karena menahan isak. Tiba tiba suara suster memecah keheningan suasana.

"Pak Adit Pratama! Silakan masuk ke ruangan. Pasien memanggil nama Anda!" ujar suster sambil membukakan pintu untuk Adit.

Segera Adit masuk keruangan, ia memakai baju biru steril yang sudah disiapkan oleh suster. Bergegas ia masuk menemui Tiyas.

"Tiyas! Kamu sudah sadar?"

"Sudah, Mas, terimaksih sudah menolong Saya" ucar Tiyas dengan suara lemah.

Mendengar ucapan Tiyas, Adit menundukkan kepala, penyesalan terlihat dari raut wajahnya.

"Maafkan Aku, Yas, Kamu sampai meregang nyawa begini karena ulahku! Aku nggak bisa ngendalikan diri sendiri" Adit membuang pandangannya ke sudut ruangan. Rasa bersalah memenuhi dadanya. 

"Bukan salah Mas Adit sepenuhnya, andaikan malam itu saya tidak nekat ke rumah Mas Adit, mungkin saya tidak perlu berbaring di ruangan ini" mata Tiyas mulai berkaca kaca. Namun penyesalan hanya tinggal penyesalan. Semua telah terjadi. 

"Tiyas, apa Kamu membenciku? Adakah kesempatan untukku memperbaiki semua ini?" 

"Saya tidak tahu bagaimana caranya membenci, Mas Adit. Andaikan bisa pasti saya lakukan" 

Sepasang mata itu saling beradu. Meraka hanyut dalam perasaan masing-masing. 


Izinkan Aku mencintaimu, Izinkan Aku mengungkapkan rasa di hati ini. Beri Aku waktu untuk memperbaiki kesalahanku. Biarkan Aku menanggung seluruh beban hidupmu. Duduklah disampingku dan berikan senyuman termanis untukku. Kan kubalas dengan dekapan hangat untumu.
Sebuah bait puisi cinta terkirim dalam ponsel Tiyas. Saat gadis bermata bening itu memandang pria bertubuh atlit itu menuliskan bait bait cinta.

*

Baca juga : Jakarta in love part-10

Walau Tiyas tak lagi di rawat di ruang ICU, namun Tiyas belum diizinkan untuk pulang Ia masih harus menjalani perawatan di ruangan. Menik selalu setia mendampinginya. Merawat sahabatnya itu hingga pulih seperti sedia kala. 

*

Pagi ini mentari terlihat malu malu menampakkan sinarnya, angin berhembus dengan lembut meniupkan udara dingin yang membelai wajah siapa saja yang dilewatinya. Tiyas berjalan menaiki tangga Busway dengan langkah terburu buru mengejar Busway yang akan segera berhenti di halte. Napasnya tersengal sengal, namun semua terbayar lunas karena ia berhasil naik sebelum busway jurusan Sudirman tersebut melaju. 

sesampainya di kantor, Tiyas meletakkan tas di meja kerjanya. Tapi seperti ada yang berbeda dengan meja tersebut. Ia tidak melihat barang barang miliknya, catatan catatan kecil yang biasa ia tempelkan di pinggir monitor komputernya, kini semua besih. Berlahan ia membuka laci mejanya, semua isinya juga sudah berubah, meja yang biasanya selalu akrab dengannya kini terasa asing. 

"Mbak Tiyas, ya? maaf mbak ini meja kerja saya sekarang" ujar seorang wanita berpakaian kemeja hitam dan rok putih. Tiyas menatapnya lekat-lekat. Seribu pertannyaan mulai bermunculan di kepalannya. 

"Kamu siapa? sejak kapan meja ini jadi meja kerja kamu? Kemana semua barang barangku?" belum selesai Tiyas membrondong pertannyaan pada wanita muda didepannya, telpon dimeja berbunyi. 

"[halo...]" sapa Tiyas 

"[Tiyas, Saya tunggu Kamu di ruangan saya sekarang!]" Tiyas menutup telpon, lalu segera melangkah ke ruangan Ihang. 

"Assalammualaikum..." setelah memberi salam Tiyas langsung masuk dan duduk di kursi yang terletak di depan meja Ihang."Mas, kenapa meja saya berubah, dan sepertinya ada pegawai baru yang menempati meja saya. Lalu kemana semua barang barang saya?" 

"Tiyas, mulai hari ini Kamu dimutasi ke kantor pusat. Ini alamat kantor pusat kita di Kuningan, lalu temui Pak Adit di sana. Barang barang Kamu semua sudah dipindahkan ke sana." Jawab Ihang sembari menyerahkan sebuah kartu nama. 

"Tapi Mas, kenapa Saya dimutasi tanpa pemberitahuan sebelumnya?"

"Maafkan Saya, Yas, ini perintah Pak Adit langsung" 

Wajah Tiyas memerah, rasanya ia enggan untuk mininggalkan kantor yang sudah dua tahun menjadi tempatnya beraktivitas.Namun ia tahu, jika Pak Adit yang memberi perintah, siapa yang berani membantah? Karena pimpinan tertinggi sekaligus owner perusahaan adalah Pak Adit. 

"baiklah Mas Ihang, Tiyas akan berangkat ke kantor pusat" segera ia beranjak dari duduknya lalu berlalu dari ruangan Ihang. 

***

"pagi, Mbak, saya Tiyas, hari ini saya dimutasi ke kantor ini dan saya diminta menghadap Pak Adit, apa Pak Aditnya ada?" 

"Oh, Mbak Tiyas, ya? Silakan tunggu sebentar ya, Mbak, Saya hubungi Pak Adit dulu." 

Sambil menunggu, Tiyas memperhatikan keadaan sekelilingnya, terlihat karyawan yang tampak serius bekerja menatap tajam ke layar monitor masing masing. 

"Mbak Tiyas silakan naik ke atas, Pak Adit sudah menunggu di ruangnnya" Tiyas pun segera mencari ruangan Adit. 

"Assalammualaikum, permisi Pak!" ujar Tiyas memberi salam pada Adit sembari membuka pintu. 

" Waalaikum salam, masuk!" jawab Adit singkat. Tiyas segera masuk dan duduk di kursi yang berada tepat di depan meja Adit. Tiyas tertunduk, Ada rasa enggan di hatinya menatap Adit, tiba tiba peristiwa menyeramkan itu kembali melintas di kepalanya. Ia menarik napas dalam, tak ada kebencian di hatinya, namun getaran yang selama ini hangat menjalar keseluruh tubuhnya setiap kali bersama Adit, juga sirna. 

bersambung. 

sumber gambar: Bababeli


 









9 comments:

  1. Tahu-tahu sudah ke-11 ya ketinggalan saya ya

    ReplyDelete
  2. Asyiik jadi makin deket deh Tyas sama Adit kalau sudah pindah ke kantor pusat. Jadi penasaran apakah mereka akan bersatu atau tetap sendiri seperti dulu...duh

    ReplyDelete
  3. Jadi, perasaan cinta Tyas pada Adit sudah luntur? Akankah cintanya bermuara pada Dirga? Akankah begini? Akankah begitu? Arrghhh ... Pembaca mah berisik aja ya kebanyakan tanya, wkwkwwk ...

    ReplyDelete
  4. saya ketinggalan banyak part sebelumnya..hoho. Btw, saya suka tulisannya, Mbak Narti. :)

    ReplyDelete
  5. O'ow tau-tau dimutasi. Apakah rencana dibalik ini semua? Oya Dirga apa kabar ya?

    ReplyDelete
  6. Masya Allah, mbak. Msih bersambung, ya? jadi sampai berapa part ya kira-kira?? ku tak sanggup jika digantung gini. hehehe

    ReplyDelete
  7. Duh, belum tuntas rupanya, wkwkwkwk. Sampek aku lupa part terakhir yang udah kubaca yang mana. Hihihihi. Harus ubek-ubek lagi postingan sebelumnya nih.

    ReplyDelete
  8. Waw udah part 11,kayaknya aku ada yang bolong bacanya. Tiyas apakah akan bersatu dengan Adit, ah penasaran. Berasa abg lagi bacanya, hehe :(

    ReplyDelete
  9. Wih wih wih makin ramek aja nih cerita. Nanti tau-tau jadi novel hehe. Makin seru banget. Gak sabar kelanjutan kenapa Tiyas di mutasi nih.

    ReplyDelete