Jakarta In Love Part#9


Adit berjalan meninggalkan makam istri dan anaknya. Ada rasa bahagia di hatinya saat ia berhasil menyiksa diri. Ada beban seolah berkurang di pundaknya. Baginya itulah permintaan maaf pada istri dan anaknya. Setiap kali mengenag peristiwa tragis itu, hatinya berontak, marah hingga membuatnya frustasi.

Ia tidak bisa memafkan dirinya. Ia terus berandai. Andai saja saat itu ia tidak menyuruh Tata pulang sendiri, mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi. Mungkin saat ini mereka menjadi keluarga bahagia. mungkin saat ini ia tengah bermain bola dengan Ziddan, anak yang sangat ia tunggu tunggu kelahirannya.
Namun, semua sirna dalam sekejap. Ban depan mobil yang dinaiki Tata, pecah, dan supir pribadinya tidak bisa mengendalikan mobil hingga menabrak mini bus di depannya.

Pak Bejo sendiri tidak mengalami luka parah, namun Tata mengalami pendarahan hebat, saat di larikan kerumah sakit nyawanya sudah tidak tertolong. Sementara Zidan hanya mampu bertahan satu hari karena keracunan air ketuban.

Sebelum melaju mobilnya, Adit menghubungi Ica, agar datang menemaninya di rumah. Ica adalah salah seorang lady escord nya yang paling loyal.

kamu udah baca yang ini Jakarta In Lovo Part #8

***

Di tempat lain, Menik, Tiyas dan Ihang, duduk dalam satu ruangan di rumah Pak Andre. Wita menyiapkan minuman dan cemilan kecil untuk mereka. Tak lama kemudian Pak Andre keluar dari kamar lalu duduk diantara mereka.

Tiyas menggenggam tangan Menik dengan erat. Petualannya tiga hari bersama Adit, mampu merubah rasa di hatinya. Tak adalagi amarah, tak ada lagi cemburu. Kini yang ia ingginkan hanyalah melihat Menik tersenyum.

Mata Menik berkaca-kaca menatap Tiyas yang terlihat tegar. Kini ia yakin, sahabat ceriwisnya itu sudah merelakan Ihang. Menik bisa merasakan ketertarikan Tiyas pada Adit walau ia penasaran siapa yang akan di pilih antara Adit dan Dirga.

"Hei... bengong aja, itu ditanyaain!" ujar Tiyas sembari menyikut Menik

Menik kaget alang kepalang, Ia tidak mendengar pertanyaan Pak Andre.

"Yas, apa kata Pak Andre tadi?" bisik Menik pada Tiyas sembari berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dari mata yang tertuju padanya.

"Pak Andre, Menik nanya, tadi Pak Andre ngomong apa?" ujar Tiyas dengan kencang, membuat Ihang mengulum senyumnya, Pak Andre dan Wita saling melempar senyum lebar. Sedangkan Menik, ingin rasanya ia lari kebelakang dan bersembunyi di balik tembok.

"Tiyaaaas..." suara menik hampir tak terdengar, giginya merapat, matanya melotot, dan jemarinya menyubit pinggang Tiyas, sembari menahan malu.

Tiyas berusaha menahan tawanya yang hampir meledak melihat wajah Menik yang merah bagai tomat. Begitulah Tiyas, gadis periang dan jahil membuat orang disekitarnya selalu bahagia bersamanya.

Setelah hari pernikahan di tetapkan, Ihang mengantar Menik dan Tiyas ke kosan. Menik meminta Tiyas agar malam ini nginap di kosan bersamanya.

Menik berbaring di kasur busa berukuran king size itu. Ia menatap bintang bintang akrilik yang menempel pada langit langit kosan. Hatinya berkecamuk, ada rasa rindu, bahagia, sedih bercampur jadi satu. Menjelang hari pernikahannya, rsanya ingin sekali ia bertemu dengan orang tuanya. Namun ia tidak tahu harus mencari kemana. Ia tumbuh dan besar di panti asuahan Nurul Hikmah. Penjaga panti menemukannya terbungkus kain di depan pintu panti asuhan, tanpa identitas apapun. Hanya sebuah gelang yang terbuat dari logam mulia tertulis nama Menik Pramudita, melingkar di lengan yang terbalut kain bedong.

Sedangkan Tiyas, sibuk memainkan smartphone nya. menggeser naik turunkan layar instagram di tangannya. pikirannya jauh melayang menusuri lorong waktu lima belas tahun yang lalu.

Kenangan masa kecil saat simbok dan bapak bekerja pada keluarga Adit. Orang tua Adit adalah seorang pengusaha elektronik di Jakarta. Bapak menik bekerja sebagai supir dan tukang kebun, sedangkam simbok mengurus rumah, masak dan mengerjakan semua tugas rumah tangga. Tiyas bersekolah ditempat yang sama dengan Dirga. semua keperluan Tiyas ditanggung oleh keluarga Adit.

Tiyas dan Dirga sangat dekat, mereka selalu bersama. Dirga sangat menyayangi Tiyas, ia selalu menjaga Tiyas dari teman temannya yang mencoba mengganggu Tiyas. Tiyas pun sangat manja pada Dirga, ia menganggap Dirga sebagai kakak kandungnya sendiri.

Namun berbeda dengan Adit. Bagi Tiyas, sosok Adit adalah pangeran tampan yang menjadi idolanya. Adit jarang menyapanya, namun sesekali Adit membelikan Tiyas sebungkus coklat silverqueen. Dan itu menjadi momen momen terindah bagi Tiyas. Bahkan jepitan rambut yang pernah dibelikan Adit masih ia simpan rapi di lemari pakaiannya di kampung. Namun sayang, suatu pagi yang cerah, Mami Adit kehilangan cincin berliannya, lalu menuduh simbok yang telah mencurinya.

Karena tidak merasa mengambil, simbok tidak mau mengakui kalo cincin itu ia yang mencuri. akhirnya orang tua Adit emosi dan kesal, lalu mengusir keluarga Tiyas.

Tak terasa Air mata Tiyas merembes membasahi pipinya. Tak pernah ia duka jika akan bertemu lagi dengan Dirga dan Adit.

***

Di rumah Adit tengah berlangsung sebuah party kecil. Obat obat terlarang bergeletakan di sembarang tempat. Adit berusaha menenangkan pikirannya. Ia mencoba menipu dirinya dengan kenikmatan semu. Ica yang setia menemaninya, terlihat mulai menyuntikkan cairan penenang kedalam tubuhnya, lalu terkulai lemas di pojok sudut ruangan.

***

Malam semakin larut. Rembulan tampak malu malu menampakkan dirinya dari balik awan. Hingga sang Mentari pagi mulai beranjak naik kembali ke tahtanya, melaksanakan tugas yang di embannya menyinari bumi.

Pagi ini Tiyas sudah bersiap kembali ke kantor. Wajah teduh nan ceria di balik kerudung pasmina kembali menghiasi wajahnya.

Kini ia tidak lagi menghiraukan Ihang yang lewat di depannya. Ia berusaha menyelesaikan tugas tugasnya yang banyak tertunda. Suasana kantor telihat sibuk dengan rutinitas pegawainnya. Sepasang mata mengawasi Tiyas dari sebuah layar monitor. Dirga mengawasi gerak gerik Tiyas sesekali ia tersenyum melihat tingkah Tiyas yang berecermin di layar komputer memainkan senyuman dari segala sudut di wajahnya, bak selebritis yang sedang melakukan pemotretan.

***

Baru saja Tiyas ingin berdiri meninggalkan kursinya, Dirga sudah berada tepat di sampingnya.

"Yas, Aku teraktir makan, Yuk?"

Tanpa menjawab Tiyas memandangi Dirga tanpa berkedip.

"Nggak usah terpesona gitu! Aku gak tanggung jawab ya, kalau Kamu jatuh cinta"

Tiyas nyengir mendengar ucapan Dirga. Lalu mengikuti Dirga menuju mobil.

"Mas Dirga, sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Adit? Kenapa dia sampai terjerumus pada Narkotika seperti itu?"

"Tanya aja langsung sama orangnya, bukannya Kamu dekat dengan Mas Adit?"

Tiyas menarik napas panjang. Bayangan Adit terus menempel dalam ingatannya.

"Kamu mau makan apa?" pertannyaan Dirga menyadarkan Tiyas dari lamunannya tentang Adit.

"Apa aja" jawabnya singkat

"Bekicot mau?"

Tiyas melotot lalu tersenyum sinis pada Dirga. Dirga menaikkan Alisnya sambil mengulum senyumnya.

"Makanya jawab yang benar dan jelas!" ujar pemuda berkulit Kuning langsat itu.

"Kamu mikirin Mas Adit?" selidik Dirga

"Nggak"

"Gak salah" celetuk Dirga

Tiyas menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.

"Tadinya Aku ingin ngajak Kamu nikah, tapi sepertinya itu hanya jadi mimpi di siang bolong. Sepertinya Mas Adit sudah lebih dulu memikat hati Kamu, Iya kan?"

"Entahlah Mas Dirga, mungkin Tiyas hanya bertepuk sebelah tangan. Tiyas tidak yakin apa yang Tiyas rasakan juga dirasakan oleh Mas Adit."

"Selagi Aku belum menikah dengan wanita lain, Mas Adit pasti akan menjauhi Kamu"

"Kenapa begitu" tanya Tiyas penasaran

"Karena dia peka, gak kayak Kamu. Cuek kayak bebek. Apa perlu Aku teriak pake towa, kalau Kamu adalah cinta pertamaku. Makanya bantu Aku cari jodoh!"

"Mas Dirga, Tiyas kenalin sama mbak Andin ya? Dia adalah sorang dokter yang baru saja menyelesaikan pendidikannya. Orangnya juga baik, ramah, cerdas dan cantik"

"hem, Kamu yang ataur ya pertemuan Kami, Aku ingin secepatnya menikah, kalau bisa minggu depan Kami sudah sah jadi suami istri"

"Uhuk" Tiyas terbatuk mendengar ucapan Dirga

"Mas Dirga buru-buru amat?"

"Ada yang jauh lebih penting dari urusanku, Yas!"

"Apa itu?" tanya Tiyas penasaran

"Mas Adit! Aku tidak ingin dia semakin jauh terseret dalam dunia gelapnya. Cuma Kamu yang bisa nolong Mas Adit, Yas!"

Tiyas menarik napas dalam, ia mulai cemas dengan keadaan Adit.

Bersambung

sumber gambar: iprice








20 comments:

  1. Duh kirain jadi sama Dirga eh malah dijodohin sama yang lain
    Bagaimana pula..huhuhu
    Ya udah Tyas bantu Adit sembuh aja ya
    Hmmm makin penasaran jadinya

    ReplyDelete
  2. Sayang yaaa baru baca di pwrtengahan....

    ReplyDelete
  3. Wahwah ternyata ada sebabnya kenapa Adit sedih dan akhirnya terjerumus. Duh...semoga kembali ke jalan yg benar...
    Lanjut ah...akhirannya gimana?

    ReplyDelete
  4. Lah, lah, lah, ternyata masalahnya tak sesederhana yang kubayangkan. Welah, Adi, Adit. Lha kok aya-aya wae dirimu, Nak.

    ReplyDelete
  5. Hiks awalnya baca sedikit menitikkan air mata. Ceritanya enggak mudah di tebak nih, mana selalu buat penasaran deh bunda... hihihi, lanjutkan��

    ReplyDelete
  6. Duh ini makin rumit ya alurnya. Kebetulan kelewat beberapa,part ni bacanya jd agak dungdeng gitu. Hm harus back to previous chapter kayaknya saya. Penasaran soalnya

    ReplyDelete
  7. Yah, telat bacanya nih saya. Jadi penasaran cerita sebwlumnya. Alurnya menarik mba. Menanti lanjutannya ya..

    ReplyDelete
  8. Penasaran nih dengan alur ceritanya, lupa lagi dengan ceria sebelumnya sih. Itu alur ceritanya maju mundur nggak?

    ReplyDelete
  9. Kayaknya aku harus mundur bacanya dari part 1. Penasaran euy 😁

    ReplyDelete
  10. Iya nih aku baca masih lompat-lompat mbacanya harus dari awal nih kayanya

    ReplyDelete
  11. numpang share ya min ^^
    buat kamu yang lagi bosan dan ingin mengisi waktu luang dengan menambah penghasilan yuk gabung di di situs kami www.fanspoker.com
    kesempatan menang lebih besar yakin ngak nyesel deh ^^,di tunggu ya.
    || bbm : 55F97BD0 || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    ReplyDelete