Jakarta In Love Part #8




Udara sejuk meniup dedaunan, melaimbai lembut menari-nari bergelantungan di dahan-dahan ramping. Tiyas menghela napas panjang, hatinya bergejolak, sejuta rasa bergantian mempermainkan perasaannya. Dirga mencoba menahan pandangannya pada Tiyas, gadis yang ia siapkan menjadi pendamping hidupnya. Namun, sepertinya ia mulai ragu dengan semua mimpinya. Gadis idamannya terlibat kasih dengan kakak kebanggaannya.

Walau ia tahu sejak dulu, ketika Tiyas masih tinggal bersama keluarganya. Tiyas sering curi pandang pada Adit  lalu menunduk. Pipinya merah merona menahan malu tatkala tanpa sengaja Adit memergoki lirikannya.

Kini Dirga hanya pasrah dengan pilihan Tiyas. Baginya memberi kebahagiaan pada dua insan yang sangat ia sayangi adalah kebahagiaan tersendiri.

"Jadi selama ini, Mas Gaga yang memberi beasiswa pada Tiyas?"

Dirga menganggukkan kepalanya

"Tapi kenapa Mas Gaga tidak menemui Tiyas?!"

Dirga menarik napas  panjang, ia mencoba mencari alasan yang tepat.

"Aku tidak mau menjerumuskan Kamu mendekati zina!" ucap Dirga datar.

Tiyas tersentak, mendengar jawaban Dirga, tiba tiba dadanya sesak, napasnya tersengal sengal, tenggorokannya mengering. Tangis Tiyas pun meledak. Ucapan Dirga bagai tamparan keras di pipinya. Seakan baru sadar dari amnesia, ia mencoba mengingat kembali dirinya yang dulu.

Seorang muslimah yang aktif berdakwah, kini tergelincir dalam kubangan dunia. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, luka yang terpendam di dadanya yang kini  samar dengan kehairan Adit dan Dirga. Tak ada lagi luka yang perih selain rasa malu, tidak ada lagi sakit hati kecuali penyesalan.

Tiyas tidak berani membuka wajahnya, ia merasa seperti telanjang di depan umum. Menik menggeser duduknya mendekati Tiyas dan mengusap kepala sahabatnya itu.

"Maafkan Aku, Yas, Aku tidak tahu tentang hubunganmu dengan Mas Ihang! Kami sudah membatalkan rencana walimahan itu!" ujar Menik berbisik pada Tiyas.

Tangis Tiyas semakin menjadi, tenggorokannya seolah tercekik, dadanya seperti dihantam sebuah batu besar. Tiba tiba ia merasa bersalah, ia begitu egois pada Menik. Meninggalkan Menik tanpa penjelasan apapun, menghukumnya dalam perasaan bersalah.

Berlahan ia berpaling menatap sahabat dekatnya itu, menatap penuh sesal, kemudian keduanya berpelukan.

"Maafkan Aku, Menik, maafkan Aku begitu egois padamu!" bisik Tiyas terbatah-batah berurai air mata.

"Aku yang minta maaf, Yas, Aku yang tidak peka padamu"

Suasana menjadi hening, Ihang menundukkan kepalanya, Dirga membuang jauh tatapannya, Pak Andre memainkan smartphonnya, sedangkan Sadeq menatap dedaunan yang terus menari.

Tiyas melepas pelukan Menik, lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam. Menik mengambil tasnya lalu menarik tangan Tiyas. Tiyas pasrah pada Menik, ia mengikuti Menik menuju toilet.

"Ganti baju, gih" Menik menyerahkan bungkusan yang berisi gamis, lalu mendorong Tiyas ke kamar mandi. Tiyas tersenyum padanya, sembari menutup pintu.

Tiyas mengenakan gamis pemberian Menik, lalu menutup seluruh Auratnya.

"Masya Allah, temanku sudah kembali seperti dulu!"

Menik segera menyambut Tiyas yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gamis hijau pemberiannya.

"Makasih ya, Nik, udah bawain Aku baju" ujar Tiyas syahdu.

Menik mengangguk dan tersenyum pada Tiyas, lalu keduanya kembali ketempat semula.

Melihat Tiyas kembali menggunakan baju takwanya, Ihang tersenyum lega, begitupun Dirga. Ada rasa senang di hati keduanya, saat melihat gadis pujaannya kembali seperti yang mereka inginkan.

Pak Andre mengajak mereka untuk kembali ke Cililitan, dan mengundang Menik dan Ihang kerumahnya. Menik melirik Tiyas seolah minta jawaban. Tiyas tersenyum tipis sembari menganguk kecil. keduanya mengerti bahasa itu, kemudian berjalan mengikuti Pak Andre dan Dirga sambil bergandengan tangan, sedangkan Ihang dan Sadeq mengiringi dari belakang.

***

Kamu sudah baca yang ini Jakarta In Love Part #7

  Ditempat lain, Adit melaju mobilnya menuju TPU Tanah Kusir, tidak ada yang ingin ia lakukan kecuali menemui almarhum istrinya.

Langkahnya terhenti di depan pusaran wanita yang amat ia cintai, ia duduk disamping pusaran itu kemudian meletakkan setangkai mawar putih, bunga favorit Tata.

"Yang, maafkan Aku ya, sudah dua hari tidak mengunjungimu. Aku sedang tertarik pada seorang wanita. Kamu jangan marah, ya?! Aku kesepian yang! Dua tahun sudah, Kamu pergi meninggalkan Aku, membawa serta calon anak kita. Ini membuatku gila! Aku gila, Yang! Aku Gila..." suara Adit terhenti, ada rasa perih di tenggorokannya. Matanya berkaca-kaca, kemudian belurian bening menetes dipipinya.

Ia memeluk gundukan tanah yang ditumbuhi rumput hijau nan lembut. Kemudian seperti biasa, ia merebahkan tubuhnya sejajar dengan makam istrinya. sesekali Adit menoleh kesebelah kiri, pada sebuah gundukan kecil yang tersemat Bin atas namanya.

Adit memandang langit mendung, awan gelap bergerak berlahan memayunginya. Ia tersenyum seolah menanti siraman dingin yang merendam punggung dan rambutnya.

Adit tertidur, hanya di tengah makam anak dan istrinya ia bisa tertidur dengan lelap. Sesekali dedaunan menampar wajahnya, namun angin kembali membelainya dan mengantar kembali ke alam mimpi. Rintik hujan mulai berjatuhan, awan mulai menumpahkan bebannya, mengguyur tubuh Adit yang terbaring lelap di antara makam anak dan istrinya. Ia terbangun saat hujan tak lagi menghantam tubuhnya.

"Pak, Adit bangun, nanti bapak sakit kelamaan tidur disini, hayuk Saya bantu?!" ucap pak Soleh penjaga makam sembari mengulurkan tangannya.

Adit bangun dari tidurnya, lalu menyatukan wajah dan lututnya, tangannya mendekap erat kakinya, ia meringkuk kedinginan. Pak Soleh memberinya handuk, yang selalu ia siapkan untuk Adit. Sebab ini bukan yang pertama dilakukan Adit.

Adit mengambil handuk pemberian Pak Soleh, lalu berdiri dan melilitkan handuk itu ketubuhnya. Kemudian mengambil payung dari tangan Pak Soleh lalu beranjak pergi.

Bersambung









28 comments:

  1. Wow ... ternyata sudah sedemikian jauh ceritanya. Saya perlu membaca lagi part sebelumnya supaya tahu kaitannya adit dirga tyas

    ReplyDelete
  2. saya enggak nyambung wkwk, belum baca cerita kemarin, terakhir saya baca tyas yang mau party itu, nanti saya runut deh hihi.

    ReplyDelete
  3. Kisah yang menarik nih, tapi belum baca dari awal. Pastinya kalau baca runut seru nih

    ReplyDelete
  4. Aaah, makin penasaran, ntar Tyas milih siapa? Dirga atau Adit?

    ReplyDelete
  5. hihi, tunggu part berikutnya ya mbak, makasih

    ReplyDelete
  6. Aku tim Adit ajaaa
    Aku mau Tyas sama Adit. Klop ini hihihi
    Jangan pakai lama sambungannya ya Mbak Ati:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha...Adit dapet sponsor...

      Oke mbak Dian InsyaAllah
      Makasih ya

      Delete
  7. Huaaa... aku makin penasaran baca ini. Bagus banget sih mbak, serasa masuk ke dalam cerita.

    ReplyDelete
  8. Waw....masih bersambung lagi ceritanya. Makin bikin penasaran. Kira-kira sampai part berapa ya, ini?

    ReplyDelete
  9. Hiii masih betsambung, gmn yaa cerita selnjutnya. Gelsr tikar tggu next..
    ��

    ReplyDelete
  10. Lama gak ikutin, tahu-tahu udah episode kedelapan aja.....

    ReplyDelete
  11. Belum baca semua, eh udah sampai segini banyak. Harus baca dari awal nih, supaya paham kaitannya dirga, aldi dan tyas

    ReplyDelete
  12. Mengingatkan tanpa harus menghakimi itulah yang bijak, menarik

    ReplyDelete
  13. hanyut aku, dan jadi keki...keki ingin nulis fiksi jugaa

    ReplyDelete
  14. Pilihan kata-kata yang indah dan kuat...betah ngebacanya

    ReplyDelete
  15. Udah lamaaa baca part ini tapi belum ninggalin komen. Lanjut ke penerbitkah, Mak Ati?

    ReplyDelete
  16. Waaah, baru ngeh kalau bersambung yaaa. Jadi penasaran sama kelanjutan ceritanya��

    ReplyDelete
  17. numpang share ya min ^^
    buat kamu yang lagi bosan dan ingin mengisi waktu luang dengan menambah penghasilan yuk gabung di di situs kami www.fanspoker.com
    kesempatan menang lebih besar yakin ngak nyesel deh ^^,di tunggu ya.
    || bbm : 55F97BD0 || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    ReplyDelete