Jakarta In Love Part #3




“Yas, kamu kemana aja sih? Udah beberapa hari ini, pulang malam terus, pagi pagi berangkat cepat” tanya Menik di pagi hari setelah selesai salat subuh. 
“Di kantor lagi banyak kerjaan, Nik” jawab Tiyas datar. 
“Kamu baik baik aja kan, Yas?” selidik Menik
“Udah deh, nggak usah ngurusin orang, urus aja rencana pernikahan kamu” jawab Tiyas ketus. 
Menik terkejut mendengar jawaban Tiyas, Tiyas yang ia kenal sangat manis berubah menjadi jutek dan ketus. 
“Astaghfirullah hal aziim, istghfar Tiyas! Kamu ada masalah? Aku selalu siap mendengarkan curhatan kamu” ujar menik.
Tiyas tidak menggubris ucapan Menik, ia melanjutkan memakai handbody ke tangannya. Menik menatap Tiyas yang memakai celana bahan ketat dan memakai blouse shirt lengan panjang berwarna putih. Kali ini dandanan Tiyas sedikit terlihat menor. Setelah selesai berdandan Tiyas mengambil Tas nya lalu memakai sepatu.
“Tiyas, kamu mau kemana?” tanya Menik sembari mendekati Tiyas.
“Kerjalah! Emang kemana?” jawab Tiyas dengan nada Tinggi.
“Tapi kamu belum pakai jilbab!” ujar Menik mengingatkan Tiyas.
“Suka Banget sih ngurusin orang lain!” jawab Tiyas dengan wajah memerah. 
Menik sangat bingung dengan perubahan Tiyas, dia tidak habis pikir, mengapa Tiyas melepaskan Hijabnya dengan begitu mudah. 
“Apa ini ada hubungannya dengan Rencana walimahanku dengan mas Ihang?” tanya Menik dalam hati. 
Sementara Tiyas berjalan menyusuri tangga kosan dengan mata berkaca kaca. Ia melepaskan busana Muslimahnya. Hatinya dipenuhi kekalutan, yang ia inginkan hanyalah membuat Ihang tidak tenang. 
“Kita lihat saja mas Ihang, sedalam apa perasaanmu padaku” bisik Tiyas dalam hatinya yang terasa sesak hingga membuatnya sulit bernapas. 
Seperti biasa Tiyas menaiki Busway Trans Jakarta, beberapa pasang mata mengawasi gadis bertubuh langsing itu. Tiyas terlihat sangat menarik dengan penampilannya, rambut segi sebahu yang ia biarkan tergerai lemas ditiup angin, menarik perhatian setiap mata yang memandang. 
Setelah tiga puluh menit diperjalanan Tiyas sampai di halte sudirman pemberhentiannya. Ia hanya tinggal berjalan kaki menuju kantornya.
Sesampainya di kantor, beberapa pasang mata mengawasi Tiyas, bahkan beberapa temannya menanyakan keberadaan jilbabnya. Namun Tiyas hanya menjawab dengan senyuman. Tiyas segera menuju meja kerjanya, tak dihiraukannya prasangka yang tertuju padanya. Hingga sebuah salam menyapanya.
“Assalammualikum” sapa Ihang yang kini berada disamping meja kerjanya. 
“Waalikum salam” jawabnya singkat. 
“Tiyas, saya ingin bicara sama kamu, saya tunggu di ruangan saya” kata Ihang sambari berjalan menuju ruangannya. Tak lama kemudian, Tiyas mengikutinya dari belakang. 
“Tiyas! Apa apaan ini?” kenapa Kamu tidak memakai hijab, dan lihat pakaian kamu, semua serba ketat! Apa kamu nggak salah berpakaian seperti ini?” tanya Ihang, matanya melotot pada Tiyas, terlihat kekecewaan mendalam di wajahnya. 
“Ada urusan apa Mas Ihang komentar dengan busana saya? Emang dilarang berpakaian seperti ini ke kantor? Teman teman yang lain juga banyak berpakaian seperti ini” jawab Tiyas cuek. 
“Astaghfirulah hal Azim Tiyas, Istighfar!, bukan bigini caranya melampiaskan sakit hati kamu” suara Ihang mulai terasa berat, ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. 

Tiba tiba handphon Tiyas berbunyi memecah keteganggan suasana, segera Tiyas mengangkatnya. 
“Hai Ca, iya jadi, entar malam kita ketemu di diskotik ya!, bye..” setelah menutup telphonnya, Tiyas melirik Ihang dengan tajam, dari wajahnya terpancar kebencian yang mendalam, kemudian ia berbalik dan pergi meninggalkan Ihang. 
Ihang duduk di kursi kerjanya, kedua tangannya menutupi wajahnya. Ingin rasanya ia menahan Tiyas mencegahnya agar tidak pergi ke diskotik, tapi ia tidak punya kuasa. Ihang  tidak kehabisan akal, bergegas ia menghubungi Sadeq dan memintanya agar nanti jam lima sore diadakan rapat, guna membahas follow up persiapan acara bakti sosial yang akan segera berlangsung. Ia berharap Tiyas akan membatalkan rencananya pergi ke diskotik dan kembali memakai hijabnya.

Siang ini, Ihang pulang lebih awal, karena ada janji bersama Menik di rumah pak Andre. Saat melewati meja Tiyas, Ihang melirik kearahnya. Sekilas terlihat Tiyas dengan wajah gusar, dendam dan benci menatap tajam padanya. Ihang terus berjalan melewati Tiyas, tanpa sepatah katapun. 
 
Tiyas menjerit dalam hati, ingin rasanya ia berlari memeluk dan menahan langkah Ihang, namun kakinya seolah lumpuh, rasanya ia tak mampu berlari, bahkan hanya untuk sekedar berdiri,  hanya air mata yang mengalir deras membasahi saputangannya melepas kepergian Ihang. 

Kamu udah baca yang ini: Jakarta In Love Part #2
 
Handphone nya berbunyi menghentikan sejenak jeritan di hatinya. Sebuah pesan dari Sadeq, Tiyas segera membaca pesan itu. “ Assalammualaikum, Bu Tiyas, hari ini jam lima sore kita rapat pengurus lagi di masjid Intirup, ya, ada beberapa agenda yang harus kita bahas bersama” 

Tiyas menghela napas panjang. Semakin bulat tekatnya menghancurkan dirinya hanya untuk membuat Ihang bersedih, setidaknya itulah yang ia harapkan. Tiyas tidak membalas pesan Sadeq, ia menutup Handphonenya lalu melanjutkan pekerjaannya. Sebenarnya ia sudah tidak konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya, namun ia tidak ingin mendapat surat peringatan dari kantor yang akan mengancam karirnya. Ia masih sangat butuh uang untuk membantu orang tuanya di kampung. 
 
Tiyas adalah anak tertua di keluarganya, ia mempunyai enam orang adik yang masih kecil kecil, sedangkan ayahnya hanya seorang petani yang memiliki sawah sepetak. Ibunya berjualan gorengan keliling kampong. Tiyas mendapat beasiswa dari perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Seluruh kebutuhannya di penuhi oleh kantor, termasuk uang jajannya, sehingga Tiyas tidak pernah kesulitan uang, bahkan ia masih bisa menyisihkan uang jajannya untuk dikirim ke kampong. 

*
Dalam masjid Intirup sudah berkumpul Ihang, Menik, Sadeq, dan Dimas, mereka masih menunggu kehadiran Tiyas. Menik duduk bersila seorang diri dibalik tirai hijau yang membatasi syaf laki laki dan perempuan. Menik mencoba menghubungi Tiyas namun Handphone Tiyas tidak aktif. Menik menarik nafas panjang, ia sangat cemas pada sahabat satu kamarnya itu. 
Ihang tidak juga memulai rapat, sedangkan waktu magrib hamper tiba. Jamaah masjid mulai berdatangan satu persatu untuk menunaukan shalat Magrib berjamaah. Sadeq segera mengambil air wudu, lalu bersiap siap untuk mengumandangkan Adzan. 
Sementara di dalam kosan, Tiyas sudah selesai mengemasi barang barangnya, lalu meninggalkan sebuah pesan dipintu kamar. Ia bergegas naik taxi yang sudah datang menjemputnya. Ia menuju rumah kontrakan barunya di Condet.
Barang-barang milik nya ia letakkan begitu saja di dalam ruang tamu, segera ia bersiap siap ke diskotik bersama ica teman kampusnya dulu. 
*
Bersambung

25 comments:

  1. yampun Tiyas ditungguin di masjid ngapa jalannya ke diskotik heu. Sepertinya dia kena alamat palsu heuheuheu. Duh ceritanya bikin penasaran. lalu kek mana lanjutannya bun?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang bun, sabaarr, insya Allah segera tayang, makasih ya bun udah mampir

      Delete
  2. waduhhhh....salah kaprah. cepet lanjutannya dong....penisirin

    ReplyDelete
  3. Tyas kok gitu sih, walah malah mau main ke diskotik juga. Eliiing sama emak di kampung

    ReplyDelete
  4. Asyik ceritanya makin seru. Jadi penasaran endingnya..

    ReplyDelete
  5. ngikutin cerita begini nih bikin pengen lanjut bacaaaa terusss. Jadi ga pengen ada tulisan BERSAMBUNG

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk... Segera lanjutannya Mbak, makasih ya udah mampir

      Delete
  6. Wah, sayang banget Tiyas, yak. Padahal belum tentu juga Menik nikah dengan Ihang, lho. Kan belum tsahh...
    Hmm, tapi frustasi spt ini sampe melepas jilbab memang ada dalam keseharian, sih.

    Btw, saran saya masih sama, Mbak: sebaiknya self editing dulu sebelum posting jadi pembaca akan merasa lebih nyaman :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya bun, iya nih, padahal uda di endapin semalam, masih ada aja yang kelewat

      Delete
  7. Wewww,,,, mantap nih ceritanya. Perubahan penampilan dan sikap Tiyas bikin kisahnya makin menarik. Adeuh, jadi penasaran kelanjutannya mak. Lanjutkan ya mak, updatenya jangan kelamaan mak. Heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk.... Siap Va, kadang dunia nyata minta diduluin haha...

      Delete
  8. Ada banyak kejadian kayak gini. Ya tanpa perlu men-judge kedalaman iman dan kematangan emosi seseorang sih, sebaiknya memang tak perlu terjadi, apalagi sebelum janur kuning melengkung kan nggak ada yang nggak mungkin, eh...

    ReplyDelete
  9. Mbaaa napa bikin partnya dikit dikit? Bikin penasaran euy hahha, lanjooout part 4 dong

    ReplyDelete
  10. Tyasss..ada apa denganmu sampai senekat itu. Cinta enggak cuma Ihang saja..duh!
    geregetan akutuuu
    Mana episode 4-nya..mana? #marahmarah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk.... Mbak dian bikin saya tambah semangat. Makasih ya mbak udah mampir

      Delete
  11. Penasaran kelanjutan cerita condetnya ha ha ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk.... Condet ikutan nyantol di cerbung ya mbak

      Delete
  12. Oalaaah sampe segitunya Neng Tyas efek patah hati. Kalo Emak tahu dah disenti kamuuu

    ReplyDelete
  13. Sabar Tyas, kalau jodoh nggak akan kemana. Duh penasaran deh, ini nanti sampai berapa epsode mak?

    ReplyDelete
  14. Yaahhh bersambung lagi...seru nih, ditggu ya mb episode brikutnya...

    ReplyDelete