Jakarta in Love Part #2




“Yas, seandainya orang yang beruntung itu aku…?” Suara Menik menghilang, mata mereka beradu tajam. 

“Emang, Lu, yakin kalo wanita yang beruntung itu, Elu?” tanya Tiyas sambal melanjutkan kembali menyantap gorengannya. 

“Nggak tahu lah, Yas, tapi kok bisa bertepatan ya sama kejadian yang aku alami” kata Menik sembari meletakkan laptop nya di atas kasur dan ia pun merebahkan tubuhnya, memandangi bintang di langit atap kosan.

“Lupa lagi kan, udah dibilangin berkali kali, jangan letakin laptop diatas kasur, buangan panasnya bisa merusak komponen laptopnya, nona” kata Tiyas, sambil memindahkan laptop Menik. 

“Yas, kok kamu nggak jawab sih?”

“Ampun deh, Menik, jangan suka berandai andai ngapa!” Tiyas segera mengambil peralatan mandinya. 

“Yas, benerin nih, gue nggak tenang, tadi siang mbak Wita minta bio data gue” 

Bagus donk, siapa tahu entar ketemu ikhwan yang cocok, nah walimahan deh, eh, Nik, gue reques udang jala saus padang ya..”

“Idih, makan muelulu nih yang dipikirin” Menik melepar boneka tedy bear nya ke Tiyas. 

“Duh, yang mau taaruf udah nggak sabaran, emang kapan sih rencana ketemuannya? “ tanya Tiyas 

“Besok siang, Yas, dirumah pak Andre” jawab Menik 

 Smartphone Menik berdering ia segera membukanya, sebuah pesan dari mbak Wita masuk, bergegas gadis berkulit putih itu membaca pesan mbak Wita. Menik sujud syukur ia terlihat sangat gembira. 

“Alhamdulillah, ternyata benar, Yas, besok Aku akan taaruf dengan mas Ihang, Masya Allah” pekik Menik seraya menahan suaranya. Tubuhnya bergetar jari jemarinya dingin, keringat hangat mengalir di punggungnya membasahi baju dinas yang masih melekat di tubuhnya. 

Sementara Tiyas, menatap nya penuh dengan luka, hatinya hancur berkeping keeping, matanya berkaca kaca mendengar ucapan Menik. Sementara Menik tidak menyadari perubahan sikap Tiyas, hatinya dipenuhi bunga bunga asmara yang bersemi dan bermekaran, hingga membuatnya lupa akan kehadiran tiyas yang sedang terluka. Bahkan ia tidak sadar jika Tiyas meninggalkannya di dalam kamar seorang diri. 

kamu udah baca ini belum Jakarta In Love Part #1

Tiyas berjalan keluar kosan, Tidak ada tempat yang ia tuju, iya hanya ingin menjauh dari kamarnya. Ia tak ingin mengganggu Menik yang sedang berbunga bunga.
Karena hari masih sore, Tiyas memutuskan pergi ke Kramat Jati Indah Mall, ia segera menuju pangkalan ojek yang tepat berada di depan kosannya. 

“Bang, ke KJI ya” kata Tiyas 

Abang ojek segera mengantar Tiyas menuju tempat yang ia inginkan. 

Tiyas berjalan menyusuri Lorong lorong pertokoan, sesekali ia berhenti mengamati pajangan tas di dalam etalase toko. Tiyas terus berjalan menaiki escalator menuju lantai tiga. Ia menuju foodcount dan memesan kentang goreng, somay, dan jus Alpukat. Tidak lama menunggu pesananya segera datang. Kali ini Tiyas terlihat tidak antusias dengan makanannya, ia hanya mengaduk aduk somay pesanannya. Baru kali ini, Tiyas tidak selera makan, tenggorokannya terasa kering, tubuhnya lemas bahkan untuk menyendok makanan saja pun ia tidak sanggup. Smartphonnya berbunyi, ia bergeming, ia biarkan saja air mata bercucuran membasahi pipinya, mengalir deras tanpa terbendung. 

*
Pagi pagi sekali Tiyas sudah berangkat ke kantor, ia hanya meninggalkan secarik kertas berisi pesan, bahwa ia berangkat lebih awal. Kertas itu ia tempel di pintu kamar. Ia tidak ingin membuat Menik cemas. Tiyas sengaja pergi lebih awal untuk menghinari percakapan dengan Menik. Rasanya ia belum sanggup menerima kenyataan, kalau Menik dan Ihang akan segera Mengikat janji dalan ikatan Pernikahan. 

Tiyas lebih awal sampai di kantor, ia menatap ruangan Ihang yang masih tertutup rapat. Ada rasa benci di hatinya, tidak seperti biasanya ketika ia menatap ruangan itu, hatinya bergunga bunga. Kini perutnya terasa mual, dada nya terasa sesak, kerongkongannya terasa kering dan perih. 

“Mas Ihang, tega sekali Kamu padaku” Batin Tiyas

Ia terbayang saat masih di sekolah dulu, saat itu ia duduk di kelas satu SMA dan Ihang di kelas Tiga. Mereka sering berjalan bersama saat pulang sekolah, bahkan Ihang pernah mengantarnya pulang. Sebuah kado ulang tahun pun pernah ia terima dari Ihang, dan tertulis ucapan manis “Selamat ulang tahun dek Tiyas, hanya liontin ini yang bisa kuberikan, sebagai penggantiku disampingmu, salam manis Mas Ihang” 

Tiyas melepas kalungnya, sebuah liontin merah ia lepaskan dari kalung itu. Tangannya mengusap usap liontin mungil yang selalu menggantung di lehernya. Sejak lulus SMA Tiyas tidak pernah mendengar kabar apapun lagi tentang Ihang, sampai ia lulus kuliah, lalu melamar di perusahaan elektronik tempatnya bekerja sekarang. Betapa bahagia hatinya saat tahu Ihang juga bekerja di tempat yang sama. Namun sikap Ihang berubah, Ihang yang ia kenal dulu tidak seperti Ihang yang ia kenal sekarang. Meraka seperti tidak pernah saling mengenal sebelumnya, seolah tak pernah ada kado yang pernah membuat hati mereka berbunga bunga, seolah tak pernah ada jalan kenangan yang pernah mereka lalui bersama. 

“Assalmmualaikum” tiba tiba sura salam itu memecah kesunyian ruangan, menyadarkan lamunan Tiyas yang jauh menembus lorong waktu. 

“Waalikum salam” jawab Tiyas seraya berbalik ke arah suara itu. 

Sepasang bola mata saling beradu, Ihang segera memalingkan wajahnya dan beranjak pergi meninggalkan Tiyas. 

“Mas ihang…” kata Tiyas dengan suara parau. 

Ihang menghentikan langkahnya, namun ia enggan berbalik. 

“Mas Ihang, saya ingin mengembalikan liontin ini..” Tiyas mendekati Ihang seraya menyerahkan Liontin ditangannya. 

“Tiyas, liontin itu milik kamu, aku sudah menghadiahkannya untuk mu, simpanlah”  jawab Ihang sambil membalikkan tubuhnya menghadap Tiyas. 

“Untuk apa, Mas, jika liontin ini hanya akan membuatku terluka” Air mata Tiyas tumpah tak terbendung, isak tangisnya membuat ihang sedih. Namun ia tidak berdaya, tidak ada yang terucap dari bibirnya selain helaan napas panjang. 

Tiyas meletakkan Liontin merah itu di atas meja disamping Ihang, lalu meninggalkan Ihang dengan langkah gontai. 

Ihang menatap Liontin merah di sampingnya, lalu ia mengambilnya, Ihang menatap Tiyas yang masih menangis, berlahan ia berjalan menuju ruangannya.
Ihang duduk di kursinya sambil memandangi liontin merah ditangannya.

“Tiyas, maafkan aku, biarlah waktu yang yang akan mengobati luka di hati kita, biarlah waktu yang akan mengubur rasa di hati ini, biarlah Menik yang akan menggantikan semua mimpiku denganmu. Aku tidak ingin membuatmu menderita. Aku ingin kamu hidup bahagia tanpa aku disisimu, kelak kamu akan berterimakasih dengan semua ini” bisik Ihang dalam hati, ia menyimpan Liontin ditangannya di dalam sebuah kotak perhiasan yang berisi cincin untuk Menik. 
 
**Bersambung**

sumer gambar Pixabay

15 comments:

  1. Yah kenapa mas ihang jadi milih menik dan berpikiran seperti itu yah. Hmmm penasaran. Si tyasnya kenapa. Apakah ada sosok lain? Aduhh bun aku ngikutin nih ceritanya dari jakarta part 1 hihi

    ReplyDelete
  2. Hmm... Jadi penasaran sama lanjutannya. Apa yang menghalangi Ihang melanjutkan hubungannya dengan Tyas?

    ReplyDelete
  3. "Kelak kamu akan berterimakasih dengan semua ini”
    Maksudmu apa Mas Ihang...kepriben!!
    Kok yo milih Menik?
    Ada apa dengan Tyas?
    Aku enggak sabar nunggu lanjutannya...duuuh

    ReplyDelete
  4. duh, penasaran nih sama kelanjutannya.Kira-kira tyas bisa bahagia nggak ya tanpa Ihang?

    ReplyDelete
  5. Aku tidak ingin membuatmu menderita. Aku ingin kamu hidup bahagia tanpa aku disisimu, kelak kamu akan berterimakasih dengan semua ini” bisik Ihang dalam hati,
    Hiii... apa sih Mas Ihang, bikin saya baper deh...

    ReplyDelete
  6. Ceritanya bikin penasaran mba, tapi ada beberapa typo dan penulisan tanda baca yang kurang tepat lo. Hehehe.. maklum mantan editor kampung kalau baca bawaannya ngedit ����
    maap yes. Buruan posting lanjutannya yaa

    ReplyDelete
  7. Masih bersambung lagi OMG...jad penisirin nih, Bun

    ReplyDelete
  8. Eng ing eng... Jadi kenapa nih Ihang sampe bilang begitu yak. Kok malah Tiyas harus berterima kasih karena Ihang dan Menik bersatu?
    Lanjuut...

    ReplyDelete
  9. Hmmm ... Apakah Ihang memilih Menik karena Menik tengah berjuang melawan sakit? Atau sebenarnya Ihang dan Tyas punya hubungan darah? Hahaha, tebak-tebak ayo ditebak.

    ReplyDelete
  10. Loh Mas Ihang sakit apa?
    Yah kasihan banget, ya?
    Menunggu episode selanjutnya. ��

    ReplyDelete
  11. Penasaran selanjutnya ish mau dong

    ReplyDelete
  12. Bersambungnya membuat diriku agak tertahan...kepo deh lnjutannya. Semakin seru dan lara...hiks

    ReplyDelete
  13. Berterimakasih atas luka yang Tyas rasakan? Ada rahasia apa yang Mas Ihang simpan? Mungkinkah sebenarnya mereka masih ada hubungan darah dan Tyas tidak tahu? Ditunggu lanjutannya Mbak.

    ReplyDelete
  14. numpang share ya min ^^
    buat kamu yang lagi bosan dan ingin mengisi waktu luang dengan menambah penghasilan yuk gabung di di situs kami www.fanspoker.com
    kesempatan menang lebih besar yakin ngak nyesel deh ^^,di tunggu ya.
    || bbm : 55F97BD0 || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    ReplyDelete