Di ujung Purnama



Ku pandangi baju yang terpajang di dalam butik itu, setiap kali aku lewat jalan ini, mataku selalu tertuju pada gaun yang berwarna putih itu. Gaun pengantin yang indah, sederhana  namun tampak begitu elegan. Aku selalu saja membayangkan memakai baju itu berjalan mendekati pangeran pujaan hatiku yang tengah menanti dihadapan pak penghulu. terbayang betapa anggun dan cantiknya diriku, saat semua mata tertuju padaku yang diapit bunda dan tante, mengantarku duduk disamping sang pangeran, menyaksikannya mengucap ijab kabul di depan penghulu yang akan mengikat kami dalam sebuah buku pernikahan, Mengikat hati kami dalam sebuah perjanjian suci untuk saling mencintai menyayangi dalm mengarungi bahtara pernikahan. 

Terbayang rumah yang mungil dihiasi taman bunga dihalaman depan yang selalu mekar dan harum menemaniku menunggu kepulanggannya dari bekerja untuk menghidupi keluarga kami. Rumah sudah rapi, makan malam sudah terhidang di atas meja yang sudah tertata rapi dihiasi sekuntim bunga mawar merah. Ah, rasanya aku sudah tidak sabar menanti hari itu, hari bahagia hidup bersama mas Lintang.

Angan membawaku terbang jauh menembus batas waktu, hingga tidak terasa aku sudah sampai dikantor tempatku bekerja. seperti hari hari biasa aku sibuk berurusan dengan kertas dan laporan laporan keuangan yang harus kurekap. Untungnya di kantor selalu tersedia cemilan sekedar untuk menggerakkan mulut dan melemaskan sejenak urat mata yang terasa kencang.

Sesaat sebelum pulang kantor, sebuah pesan masuk melalui Whatsapp, akupun membukanya, ternyata pesan dari Tia, teman sekamarku,

"Ndis, buruan pulang, disini ada Mas Lintang sedang nungguin kamu"

Jantungku pun berdegup kencang saat membaca sebuah nama yang sangat kudamba, "mas Lintang" bisikku dalam hati.

Bergegas aku membereskan meja, dan memeriksa tas, memastikan tidak ada barang pribadiku yang tertinggal. setelah itu aku berpamitan pada Desi, Lina dan Nita yang juga bersiap ingin pulang.

Yang ini juga seru loh GEA
***

Aku turun dari ojek agak jauh dari kosan, sengaja aku melakukannya, agar mas Lintang tidak melihatku dalam keadaan grogi yang nggak ketulungan begini, rasanya gerakan tubuhku sulit untuk dikontrol. apalagi merah dipipiku, haduh, sunggguh membuatku malu. Akupun berjalann menunduk menuju kosan, aku melirik pada sosok pria yang duduk di teras rumah, sambil bermain Hp.

"Assalammualikum" sapaku sambil menunduk, "waalaikum salam" terdengar balasan lembut dari mas Lintang. Sebentar ya Mas, saya kedalam dulu, ucapku sambil berlalu dan tetap menunduk.

"ciieee, yang di apelin" goda Tia saat aku masuk kekamar.

"ssttttt, Tia jangan keras keras, nanti didengar mas Lintang, malu tahu" pintaku sedikit berbisik.

Tia tersenyum geli melihatku yang begitu grogri, dan akupun meminta bantuannya untuk menemaniku di teras menemui mas Lintang.

Sambil membawa cemilan yang sengaja aku beli saat pulang dari kantor tadi, aku dan Tia menuju teras menemui mas Lintang. Terlihat mas Lintang tenang dan merapikan duduknya. Aku duduk tepat disamping kursi mas Lintang sedangkan Tia tepat di hadapannya. Kami pun larut dalam obrolan bersama yakni membahas acara perjalanan ke rumah orang tuaku. Mas Lintang berencana ingin menemui mereka di kampung untuk melamarku.

Tanpa terasa kami sudah ngobrol selama dua jam, mas Lintang pamit untuk pulang. Sebuah tatapan aneh kurasakan saat ia memandang Tia. "ah, tidak mungkin aku hanya cemburu saja" bisiku dalam hati, aku berusaha menepis semua prasangka buruk yang terlintas di kepalaku.

***

aku terus memperhatikan Tia, aku benar benar cemburu padanya, ia terlihat sangat akrab dengan mas Lintang, melebihi aku, padahal aku adalah calon istrinya. Aku dan mas Lintang memang dijodohkan, dua minggu lalu melalui umi Hanna yang tak lain adalah kakak sepupuku. Dan hari ini adalah pertemuan kami yang kedua setelah taaruf  yang berlangsung di rumah Umi Hana. Aku masih sangat sungkan padanya, walau aku tahu aku jatuh cinta padanya saat pertama kali kami bertemu.

"Gendis, kamu kenapa dari tahu bengong terus, duuh, calon pengantin udah nggak sabar ya..." goda Tia, menyadarkan lamunanku.

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, ia sudah berlalu dari hadapanku. Tia memang gadis periang, gampang bergaul dengan siapa saja, dia juga gadis yang cantik dan pintar, bahkan prestasinya di kantor cukup membanggakan.

Sejak kejadian sore itu, aku sedikit enggan bercerita tentang mas Lintang pada Tia, perasaan cemburu itu, terus menghantuiku. Tatapan mas Lintang pada Tia benar benar mengusik pikiranku. Adakah itu hanya kecemburuanku semata, atau mas Lintang benar benar suka pada Tia? Pertanyaan itu tidak mau pergi dari kepalaku. oh, Tuhan, ampunkan jika aku berperasangka buruk pada calon suamiku.

***

"Mas Lintang, Tia, sedang apa kalian disini?" kaki dan tanganku bergetar saat tidak sengajak berhadapan dengan Tia dan Mas Lintang di sebuah Restoran cepat saji. Mas lintang terlihat sangat terkejut melihat kehadiranku, spontan ia berdiri dan menatapku gugup. sedangkan Tia terlihat lebih tenang, ia tetap duduk ditempat dan lanjut menyantap makanannya.

"Gendis, kamu jangan salah Paham, aku dan Tia di sini tidak sengaja bertemu. Aku sedang mencari cincin untuk pernikahan kita, dan tidak sengaja bertemu Tia yang juga sedang mencari cincin untuknya" Mas Lintang mencoba menjelaskan padaku.

Aku terdiam seribu bahasa, aku ingin sekali mempercayai itu, tapi aku tak bisa. Aku tidak bisa meyakinkan hatiku kalo semua baik baik saja, aku tidak bisa menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku, aku tidak sanggup menahan perihnya rasa di hati ini. "Mas Lintang, apa salahku? Mengapa kamu berbuat setega ini padaku?" bisikku dalam hati. tanpa berkata apapun, aku melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.

Rasanya, musnah sudah impin memakai baju pengantin yang baru aku beli, musnah sudah mimpiku tinggal disebuah rumah yang dihiasi oleh bunga bunga yang bermekara, tidak ada lagi keinginanku untuk mempersiapkan diri menanti kepulangan mas Lintang saat pulang kerja. Semua terasa hampa...

Langkah kakiku semakin cepat meninggalkan mereka berdua, aku bergegas keluar dari gedung mewah ini, walau suhu begitu dingin karena AC dimana mana, namun tubuhku seolah panas terbakar api. Aku segera menaiki Angkutan Kota tanpa melihat jurusan mana, yang ku tahu, aku harus segera menjauh dari tempat itu. Tatapanku jauh menerawang menembus batas ruang dan waktu.

Aku tidak segera pulang ke kosan, aku ingin menjauh dari Tia, aku ingin menjauh dari mas Lintang yang ku inginkan hanya sendir, menyendiri di sudut masjid agung yang selalu ramai dengan suara dzikir, salawat dan ayat ayat al quran yang terdengar sayup sayur dari beberapa jamaah putri disekitarku. Hanya tempat ini yang bisa menenangkan hatiku, hanya di sini aku bisa menangis, sujud dan menceritakan seluruh kesahku pada Robb ku. Menunaikan shalat dan membaca kitabullah membuat hatiku tenang dan damai, sesekali aku sesunggukan menahan perih dihati yang membuat air mata ini terus mengalir. Malam pun kian larut, setelah aku merasa lebih baik aku memutuskan untuk kembali ke kosan.

"Assalammualaikum" ucapku sebelum masuk kedalam rumah. Aku bergegas masuk ke kamar dan mencoba untuk bersikap biasa dan tenang. Tia menutupi tubuhnya dengan selimut, aku tahu dia belum tidur, tapi sudahlah aku tak ingin membahas apapun dengannya. Aku segera memcuci wajahku dan mengganti pakainku lalu beranjak tidur.

Baca ini juga ya Pria Berbaju Biru
***

"Ndis, buru buru amat, mau kemana?" tanya Desi yang sejak tadi memperhatikanku.

"Ada urusan bentar des kerumah umi Hana" jawabku datar sekalian berpamitan pulang.

Aku ingin sekali menceritakan semua pada kakak sepupuku itu, tentang mas Lintang dan Tia. Aku ingin menangis melepaskan semua sesak di dada yang terasa menghimpit. setengah jam kemudian aku tiba dirumah Umi Hana. Betapa terkejutnya aku, ternyata mas Lintang sudah terlebih dulu ada di sana. Aku segera mengambil langkah seribu dan berputar arah, aku setengah berlari menjauh dari rumah Umi Hana. sebuah sura yang dulu sangat kupuja memanggil manggil namaku.

"Gendis... Gendis... tunggu sebentar, aku ingin bicara sama Kamu"

Aku mempercepat langkahku bahkan kini aku berlari, seandainya bisa, aku ingin segera menghilang dari jalan ini. Namun kini langkahku terhenti, mas Lintang berada tepat didepanku.

"Gendis, Kamu mau kemana? Ayolah kita bicara didalam bersama mas Usman dan mbak Umi Hana!"

"Maaf mas Lintang, sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Gendis tidak bisa menerima semua ini, biarkan Gendis pergi"

"Jika kamu memang sudah tidak ingin melanjutkan semua ini, tidak mengapa Ndis, tapi kita bicarakan baik baik bersama orang yang bisa menjembatani kita. Apapun nanti keputusan Kamu setelah pertemuan nanti, aku akan terima"

Mas Lintang menatapku dengan tatapan penuh kelembutan, membuat hati ini tidak tega untuk menolaknya. walau bagaimanapun urusan perjodohan ini sudah sampai pada orang tuaku, bahkan bulan depan kami akan segera menikah. walau terasa berat, aku melangkah menuju kediaman Umi Hana sementara mas Lintang mengiringiku dari belakang.

Umi Hana dan Mas Usman sudah menunggu di ruang tamu, setelah mengucap salam kamipun masuk dan duduk di kursi yang tersedia. tanpa banyak basa basi, mas Lintang menjelaskan duduk persoalannya, sesekali aku menyeka bulir bulir air mata yang menetes membasahi pipiku.

"Lalu sekarang, apa yang kalian inginkan?" Tanya mas usman

"Saya ingin minta maaf pada dek Gendis, Mas, sunggu saya tidak bermaksud melukai perasaanya, saya ingin pernikahan ini berjalan sesui rencana" jawab mas Lintang sambil melirik padaku

Kini semua mata tertuju padaku, rasanya tak sanggup bibir ini bergerak sekedar mengucapkan sepatah kalimat.

"Ndis, Mbak serahkan semua keputusan pada Ndis, namun coba pikirkan dengan kepala jernih, tanya hati kamu, agar apapun keputusan yang Kamu ambil tidak menjadi penyesalan dikemudian hari"
Umi Hana mengusap kepalaku dengan penuh kelembutan, bagiku Umi Hana bukan sekedar kakak sepupu, namun aku menganggapnya seperi ibuku sendiri.

Aku menghela napas panjang..., Sungguh keputusan yang sulit, luka hati ini masih terasa begitu dalam, tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku kalau mas Lintang berhasil memikat hatiku.

"Mas Lintang, maafkan Gendis, Ndis tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita, Ndis takut mas Lintang akan menyesal menikahi Ndis" suaraku terbata bata menahan sesak di dada.

suasanapun menjadi hening sesaat,...
Umi Hana dan mas Usman cuma diam dan dengan wajah tegang, mereka tidak ingin ikut campur dalam keputusan yang ku ambil. Sementara mas Lintang menjatuhkan tubuhnya bersandar ke kursi sambil menghela napas panjang. Raut wajahnya datar, matanya terlihat kosong, ia hanya diam membisu seribu bahasa.

***

Tidak terasa dua tahun sudah berlalu, aku masih bekerja di kantor yang sama, aku masih berada di kos yang sama bersama Tia. Walau pernikahanku gagal karena rasa cemburuku pada Tia, namun aku tetap menyayanginya sebagai salah satu sahabat terbaikku. Bagiku kegagalan bersama mas Lintang itu hanya perkara jodoh, jika mas Lintang memang ditakdirkan untukku, tidak siapapun yang bisa menghalanginya. Walau penyesalan di hati datang terlambat, namun bukan berarti aku harus memohon kembali padanya.

Walau sesekali aku bertanya pada Umi Hana tentang mas Lintang. Dan rasanya hati ini berbunga bunga saat aku tahu dia masih sendiri, dia sama sepertiku memilih sendiri.

Rasanya ingin sekali aku menghampirinya sekedar menyapa dan menanyakan kabar, namun nyaliku tidak cukup berani untuk menemuinya.

Hari ini aku harus pulang ke kampung, orang tuaku menyuruhku pulang, katanya ada urusan penting yangharus kami bicarakan.

Aku menikmati pemandangan pegunungan sepenjang jalan menuju Desa kelahiranku. setelah menempuh 7 jam perjalanan, akupun sampai di desa kelahiranku dengan selamat. Dari kejauhan terlihat kesibukan yang tidak biasa di rumah, "Seperti ada hajatan, tapi siapa?" Gumamku

"Gendis, ayo buruan masuk" Perintah ibu setelah menjawab salamku.

"Bu, ada apa ini kenapa rumah kita ramai orang, seperti mau hajatan saja?" tanyaku menyelidik.

"Loh, memang besok akan ada hajatan dirumah kita" jawab ibu dengan tegas

"Hajatan siapa, Bu, kenapa Gendis tidak diberi Tahu?"

"ya sudah sekarang ibu beri tahu, kalau besok kamu akan menikah"

"Apa... Gendis Menikah? Dengan siapa, Bu? Kenapa tidak memberi tahu gendis sebelumnya?"  tanyaku sambil protes pada ibu

belum sempat ibu menjawab semua pertanyaanku, sekilas aku membaca sebuah undangan yang terletak di meja kamarku, dua nama terukir dengan tinta perak, Gendis dan Lintang. Aku pun terdiam, tertunduk, dan tersipu. Tanpa banyak tanya lagi, aku menuruti semua arahan Ibu.

Tamat







17 comments:

  1. Ahhhh co cwiiiiit. Endingnya sukaaaaa�� top deh bun Narti. Ayo bun bikin cerpen lagi, daku setia mengikuti. Hihihi.

    ReplyDelete
  2. wah senang banget bacanya Happy Ending! hihi. Suka banget sama ceritanya bikin deg2an wkwkwk, kirain bakalan sad ending gitu, duh duh duh. keep writng bun!

    ReplyDelete
  3. Ihh happy ending. Seru bun ceritanya. Itulah yah ujiannya orang mau menikah. Itulah ujiannya pasangan yang mau menuju halal. Ada aja. Tapi seneng akhirnya berjodoh yah Gendis dan Lintang

    ReplyDelete
  4. Yippiieee happy ending. Padahal ikut sedih kirain beneran ga jadi nikah Gendis dan Lintang. Bagus mbak ceritanya, sukaaa

    ReplyDelete
  5. Seru baca kisahnya sampai tamat daan eng ing eng, ternyata happily ever after.
    Sweneeeng...

    ReplyDelete
  6. Berjodoh juga akhirnya. Semoga udah nikah mBak Gendis gak mudah baper lagi, ya hihihi

    ReplyDelete
  7. Seru jalan ceritanya, bener-bener ga nyangka endingnya. seneng banget akhirnya happy ending��

    ReplyDelete
  8. Waah...happy ending...aku suka...suka sekali gaya berceritanya, alurnya, pesan moralnya...semua
    Ini bagus syekaliii mbak Ati
    Ditunggu cerita lainnya ya:)

    ReplyDelete
  9. Wah..akhirnya Gendis sama Lintang juga ya...meskipun mereka sempet jauh selama dua tahun. Kalau jodoh memang gak ke mana ya...

    ReplyDelete
  10. Jodoh takkan kemana ya, Mbak. Suka dengan happy endingnya:)

    Tapi ada sedikit saran, nih: rencana pernikahan mendadak tanpa pemberitahuan itu agak 'mengganggu'. Awal dan tengahnya udah bagus karena smooth.
    Judulnya juga seharusnya 'di'-nya dipisah.

    ReplyDelete
  11. Wah, ternyata endingnya tetap jadi menikah, yaaa. Tapi kok kesannya kayak dipaksakan yaa endingnya. seperti agak terburu-buru. So far sih bagus mbak. Aku hanyut dalam ceritanya.

    ReplyDelete
  12. Kok ikut terbawa perasaan Gendis ya, sedih, tapi akhirnya happy ending.

    ReplyDelete
  13. Biar sudah menikah, jadi asyik bayangin lintang ngelamar...

    ReplyDelete
  14. ceritanya sudah bagus. happy ending. ini yang paling disuka oleh para pembaca.

    ReplyDelete
  15. Wow endingnya sweet banget, awalnya penasaran, bakal dikasih seperti apa endingya.

    ReplyDelete
  16. Bagus ceritanya, terbawa perasaan akuhhh. Ahhh keren

    ReplyDelete
  17. Ikut seneng cerita pendeknya happy ending...

    ReplyDelete