Andil Suami terhadap Baby Blues

gambar brilio

Akhir-akhir ini banyak pembahasan tentang Baby blues sindrom di media masa, jadi ingat pengalaman ketika pasca melahirkan dulu. Punya baby itu memang repot, tapi kalau dinikmati akan jadi menyenangkan, apalagi jika dapat bantuan dari orang-orang terdekat untuk membantu dan mensuport. Tapi ternyata tidak semua wanita beruntung mendapatkan kondisi keluarga yang kondusif, banyak juga yang mendapat tekanan, baik dari dalam diri maupun orang lain.

Nah, untuk jelasnya, yuk kita cari tahu, apa itu Baby blues syndrome?

Baby blues sindrome adalah keadaan psikologis sementara pasca melahirkan. Dimana ibu baru tersebut, mengalami perubahan suasana hati yang mendadak, misalnya seperti sedih, bahkan sangat sedih,, menangis tanpa sebab, merasa sangat bahagia, tidak sabaran, mudah tersinggung, resah, cemas, dan merasa kesepian.

Saat melahirkan anak pertama, saya juga pernah mengalami gejala tersebut. Rasanya hidup jadi tidak karuan, ada saja yang salah, mungkin bisa di bilang seperti resah. tapi tidak tahu apa yang diresahkan. perubahan pola hidup yang berubah pasca melahirkan membuat diri merasa tidak berdaya.

Pengalaman saya setelah melahirkan tiga anak, semuanya berbeda-beda. Yang saya rasakan, perlakuan suami sangat menentukan suasana hati seorang istri pasca melahirkan. terutama sikap suami saat istrinya mengandung. Pada umumnya, secara tidak sadar sikap suami yang kurang berempati ketika istri hamil, akan berimbas pada perasaan ibu pada anaknya, dan jika tidak ada perubahan pada suami, rasa sedih dan kecewa sang istri akan berimbas pada anak yang baru dilahirkannya.

Sang ibu akan sibuk meratapi nasibnya yang merasa disia-siakan, merasa tidak dihargai, merasa tidak dianggap, bahkan merasa tidak berarti karena kepayahan. sehingga dia menyalahkan bayinya. Sang ibu merasa terkekang, merasa hidupnya terampas, dan lelah. Apalagi jika ia dibanding bandingkan dengan orang lain, terutama oleh keluarga suami, itu akan membuat sang ibu semakin tertekan.
Tanpa sadar, ia menyalahkan bayinya, sebagai penyebab deritanya.

Kenyamanan seorang ibu saat mengandung, sangat menentukan perasaannya pasca melahirkan. Jika suasana rumah tangganya kondusif, terutama sikap suami yang mendukungnya, tidak membanding-bandingkan sang istri dengan wanita manapun, dan menjaga perasaannya agar tidak tersinggung, atau setidaknya memberi kenyamanan, kemungkinan  suasana hati sang istri pasca melahirkan akan lebih baik dan lebih stabil.

Saya sendiri mengalami suasana hati yang berbeda-beda saat melahirkan anak pertama kedua dan ketiga.

Saat melahirkan anak pertama, saya kira saya sempat mengalami baby blues syndrome, tapi gejalanya cukup ringan. Berbeda saat melahirkan anak kedua, walau saya dan suami berharap mendapat anak laki-laki dan ternyata yang lahir anak perempuan, tetapi suasana hati saya pasca melahirkan jauh lebih baik dari pada saat melahirkan anak pertama.

Mungkin seiring waktu, hubungan saya dan suami sudah lebih saling memahami, saling menghargai dan juga kondisi ekonomi yang sudah lebih mapan, sehingga suami ataupun saya lebih siap menjadi orang tua dengan kodrat masing-masing. Apalagi saat melahirkan anak ketiga, suasana hati saya pasca melahirkan lebih baik lagi dari saat melahirkan anak kedua. Karena saat itu saya benar-benar nyaman, merasa diterima apa adanya, dan merasa dihargai atas usaha dan pengorbanan saya.

Baru-baru ini, masalah Baby blues sering menjadi pembicaraan ibu-ibu muda pasca melahirkan. Nah, untuk lebih jelasnya, apa saja sih, penyebab  Baby blue itu? Yuk, kita simak beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab Baby blues sindrome.

Salah satu penyebab Post partum blues ini adalah ketidak siapan ibu menghadapi kelahiran bayinya.
Tidak semua ibu menyadari akan bertambahnya tugas dan tanggung jawabnya sebagai ibu. Tidak semua ibu pasca melahirkan langsung menghasilkan ASI yang berlimpah, ada juga wanita yang bermasalah dalam produksi ASI-nya, hal ini bisa menjadi pemicu sang ibu tertekan.

faktor pencetus lain yang bisa menyebabkan Baby blue sindrom adalah sikap ibu dalam memandang dan menghadapi persalinan. Bayi yang diharapkan tidur nyenyak di malam hari, ternyata sering menagis di tengah malam. hingga menjadi teror bagi sang ibu.

Selain dipicu oleh faktor kejiwaan, perubahan horman pada wanita pasca melahirkan, turut mempengaruhi kestabilan emosi. Misalnya hormon estrogen dan progesteron saat hamil, jumlahnya  mengalami peningkatan, dan 72 jam pasca melahirkan akan mengalami penurunan. Ini menjadi salah satu pemicu perubahan perasaan pada wanita pasca melahirkan.

Menurut dr. Arju Anita SPOG dari RSIA Hermina, pertolongan yang paling tepat adalah terapi psikologis. dukungan moral dari lingkungan sekitarnya juga berperan penting di dalam membantu Sang ibu mengatasi sindrom ini.

Hasil penelitian yang dilakukan di Jakarta oleh dr. Irawati Sp.Kj, menunjukkan 25% dari 580 ibu yang menjadi responden, mengalami Baby blues sindrom. Gangguan emosi ringan ini, biasanya terjadi lebih kurang sekitar 2 minggu setelah ibu melahirkan.

Ibu pasca melahirkan yang mengalami gangguan emosi tak kunjung hilang selama 2 minggu, harus waspada. Ada kemungkinan sang ibu mengalami depresi pasca persalinan atau post partum depression (PPD). Sama halnya depresi lainnya, PPD juga harus ditangani secara psikis oleh psikiater atau psikolog. "Membiarkan ibu terbenam dalam depresi akan mengakibatkan dampak negatif. Tidak hanya untuk si ibu, tapi juga untuk si bayi. Karena PPD bisa terus berlanjut selama 2 tahun." tutur dr. Irawati.

0 komentar:

Post a Comment