Alusya Part 3



Lulus PTN

"Yuhuiii, Alhamdulillah ...  aku lolos seleksi masuk kedokteran UI." Kubaca berkali-kali pengumuman hasil seleksi itu, tanganku berhenti di sebuah nama Alisya Putri, iya, itu namaku. Buru buru aku mencari bunda, aku ingin mberitahu kabar gembira ini. Siapa tahu bunda juga senang dan bangga padaku. Kudekati bunda yang sedang menata bunga.

"Bun, Ica lulus kedokteran UI," ucapku semeringah.

"Hem," ucapnya acuh.

Rasa bahagia itu perlahan meredup, tidak ada reaksi yang berarti dari bunda. Ia masih sibuk dengan rangkaian bunganya.

"Kamu pikir jadi dokter itu mudah? Sekolahnya juga mahal, ayah dan bunda tidak sanggup membiayai kamu kuliah kedokteran. Lagi pula, kamu nggak cocok jadi dokter, kamu itu cerobah,  bisa bisa sakit orang bertambah parah setelah kamu obati. Udah, deh, jangan yang ngak-nggak, Bunda lagi sibuk."

Deg, kata kata bunda, bagai belati yang menusuk uluhati. Perlahan, aku mundur dari hadapannya, lalu menjauh dan kembali ke kamar.

Kusandarkan tubuh ini di pintu kamar  setelah menutupnya rapat, cita cita menjadi dokter sepertinya hanya mimpi belaka yang takkan mungkin terwujud. Aku teringat  PMDK yang kudapat, mungkin lebih baik aku mengambil PMDK itu, pasti  biayanya lebih murah.

Nanti malam aku harus bicara pada ayah dan bunda. Kulipat kembali amplop formulir lapor diri itu. Tak ingin membuang waktu, kurapihkan kamarmu yang berantakan. Sudah tiga hari aku belum mencuci dan menyetrika baju. Walau ada Bik Inah, urusan kamar, cuci baju, setrika, bahkan cuci piring bekas makanku menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Bi Inah keberatan mengerjakan pekerjaan itu, menurutnya jika tidak ada penambahan gaji, berarti tidak ada penambahan tugas.

Sibuk dengan pekerjaan, adalah cara efektif menghabiskan waktu tanpa terasa. Kini malam sudah tiba. Seperti biasa, makan malam adalah waktunya kumpul keluarga. Aku duduk disamping Mbak Dela, ia selalu mendominasi percakapan. Ada saja cerita yang ia bawa pulang dari kampus. Mas Rendy lebih slow, hanya sesekali ia membahas bisnis batubara yang ia lakoni. Setelah semua selesai makan, aku memberanikan diri bicara.

"Yah, Ica lulus kedokteran UI." ujarku ragu-ragu.

Ayah melirik ke arahku. "ohya?" Tanyanya memastikan. Aku mengangguk pelan. Kulirik bunda, wajahnya tidak bersahabat.

"Bun, besok Dela harus beli buku anatomi dan beberapa buku lainnya. Transfer  lima belas juta ke rekening Dela ya, Bun."  ucap Dela memecah keheningan.

"iya, nanti bunda transfer."
Jawab bunda manis.

"Jangan lupa, loh, Bun! Dela mau ke kamar, masih banyak PR yang harus Dela kerjakan."

"Rendy juga mau keluar sebentar, Bun, Yah, ada urusan dengan teman."
Tanpa menunggu jawaban, Mbak Dela dan Mas Rendy meninggalkan meja makan. Aku masih duduk menunggu. Aku masih berharap sambutan ayah positif. Hening. Beberapa detik kemudian, ayah meninggalkan meja makan, lalu beralih ke ruang tv yang diikuti oleh bunda. Aku tertegun sejenak, tak tahu harus apa. Sayup sayup aku mendengar percakapan ayah bunda.

Kudekati suara itu, rasa ingin tahuku mengalahkan etika. Aku tahu, tidak sopan menguping pembicaraan orangtua, Tapi aku sangat ingin tahu pembicaraan mereka.

"Yah, Bunda nggak setuju kalau Alisya jadi dokter. Dia itu ceroboh. Ayah masih ingatkan bagaimana dia mendorong Dela ke kolam? Untung Si Inah lihat dan buru buru nolongin, coba kalau tidak? Bunda nggak tahu apa yang tetjadi pada Dela."

"Kejadian itukan sudah lama, Bun. Lagi pula, saat itu Alisya masih kecil, mungkin ia hanya ingin bercanda."

"Ayah selalu saja membelanya, padahal ayah tahu sendiri, sejak bunda mengandungnya ada saja kesialan menimpa keluarga ini. Rendy lah sakit nggak sembuh-sembuh, bahkan ayah sempat selingkuh dengan perempuan lain. Saat melahirkannya, bunda hampir saja mati karna pendarahan. Setelah dia lahir, ayah dimutasi ke Kalimantan. Dan nyawa Dela hampir saja melayang karena ulahnya. Terus kalau dia jadi dokter, lalu pasiennya kenapa kenapa karena kecerobohan dan kesialannya itu, kan kita juga yang kena getahnya, Yah! Pokoknya Bunda nggak setuju kalau dia masuk kedokteran."

"Bunda, sudahlah, walau bagaimanapun, Alisya itu putri kita. Dia lahir dari rahim kamu. Sudah sewajarnya kalau kita mendukung dan mewujudkan cita citanya."

"Yah, Bunda tahu kewajiban kita sebagai orang tua, tapi bunda nggak mau keluarga ini terkena sial lagi karena keberadaannya di rumah ini. Lihat ini, Yah, belum satu bulan dia tinggal bersama kita, tapi sudah bikin Pengangkatan ayah sebagai direktut HRD di cancel. Bunda khawatir, semakin lama dia di sini, bisa bisa, Ayah nggak jadi di angkat."

Lututku gemetar mendengar percakapan mereka, aku tidak ingin jatuh pingsan di sini, perlahan aku menjauh dan kembali ke kamar.

Kuhempaskan raga ke kasur putih yang masih tertata rapi. Rasanya aku tidakk sanggup lagi menahan sesak di dada.  Kubiarkan air mata tumpah membanjiri bantal, aku ingin menangis sepuasku. Agar himpitan itu tidak lama bercokol di dada. Aku tidak rela, perih itu berganti benci, aku tidak sudi, sesak ini berganti dendam. Dia ibuku, wanita yang telah melahirkanku, Aku akan tetap menyayanginya sebenci apapun dia padaku.

Kutarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sejenak aku termangu, terjawab sudah penasaranku selama ini, kini aku tahu mengapa keluarga ini menitipkanku pada Pakde, aku pembawa sial. Jangan jangan, Pakde di PHK dari kantornya akibat terkena kesialanku juga. Oh tidak. Aku tidak akan kembali ke rumah Pakde, cukup sudah aku menyusahkan mereka. Lagi pula aku sudah cukup dewasa untuk bisa menopang hidupku sendiri.

Aku beranjak dari timpat tidur, lalu merapikan barang barang. Kumasukkan semua dalam koper. Aku berhenti saat Bi  Inah memanggil dari luar.

"Non Alisya! disuruh kebawah sama Ibu." ujarnya lantang.

"Iya, Bik, nanti aku turun," jawabku singkat. Bergegas aku menuruni tangga dan menemui ayah bunda di ruang tv.

Tidak ada kata yang keluar dari mulut, hanya diam dan menunduk. Aku berusaha menyembunyikan mataku yang merah.

"Ca, ayah dan bunda sudah diskusi. Biaya kedokteran itu sangat mahal, mbakmu Dela saja belum selesai. Kamu tahu kan kalau Dela kuliah kedokteran di Trisakti? Biayanya sangat mahal. Jadi kalau kamu kuliah kedokteran lagi meski di UI, ayah belum sanggup membiayai kuliah kamu. Jadi kami harap kamu mau mengambil beasiswa PMDK itu. Kamu tinggal saja di Surabaya, kost di sana. Ayah akan rutin kirim uang bulanan kamu.

"Iya, Yah." jawabku singkat, mataku lekat menatap lantai.

"Ya sudah, kalau begitu besok kamu cari tiket kereta, agar segera berangkat ke Surabaya Ini uang buat beli tiket."  Ayah meletakkan uang lima lembar berwarna merah. Kuseret kaki mendekati meja, kupaksa  tangan ini mengambil uang itu, lalu menunduk dan mundur.

"Ica kembali ke kemar, Yah, Bun." ucapku lembut, suaraku parau. Ayah mengangguk. Aku segera berlalu.

Bersambung


0 komentar:

Post a Comment