Alisya Part 4



Anak Kost

"Astaga, Ca, Lo, makan mie instan terus, ngga bosan apa?" tanya Nadia teman  sekamarku.

"ini bukan masalah bosan, Nad! Tapi ini masalah bertahan hidup. Dari pada gue mati kelaperan, mending makan mie instan," jawabku sembari menyantap menu rutinku.

Nadia memandang takjub, mungkin dia belum pernah melihat orang makan mie selahap diriku. Untung ada Mie instan, coba kalau tidak, dengan cara apa aku berhemat. Puasa  Nabi Daut, rutin, bahkan sering nyambung ke puasa senin kamis.

Uang bulanan yang dijanjikan ayah, hanya dikirim tiga bulan pertama di awal kuliah, setelah itu, ayah tidak pernah mengirim lagi. Jadi aku harus bisa membiayai semua kebutuhanku. Untungnya aku dapat beasiswa, jadi masih bisa  bertahan hingga semester emapt ini, doakan saja semoga aku bisa bertahan hingga  selesai kuliah.

Aku tidak mau merengek memohon uang bulanan pada ayah. Kalau memang ayah dan bunda ingin membiayai hidupku, tidak perlu aku menelphon berkali kali. Sudah pernah aku menghubungi ayah, panggilanku tidak diangkat. Nelphon bunda, aku rasa keadaanya akan sama.

Masih terekam di memoriku saat pamit berangkat ke Surabaya, rasanya aku tidak ingin  kembali ke rumah itu. Saat itu, ayah membaca koran dan bunda menikmati jus buahnya di teras. Aku berdiri di hadapan mereka untuk berpamitan, tapi sikap mereka datar saja, tidak berbalas dengan sedih di hatiku, atau aku memang tipe ceuwe melow. Ah, sudahlah. Mengingat itu hanya membuat hatiku sakit.

Untungnya, Aku diterima menjadi guru privat di salah satu bimbel, walau hasilnya tidak banyak, tapi cukuplah untuk bayar kost dan biaya hidup sehari-hari. Kadang aku cari tambahan dari megerjakan tugas teman teman. Memiliki uang, membuat mereka punya hak untuk berkata malas. Tapi ini menjadi sumber rezekiku. Berapa pun uang yang mereka beri sebagai upah, aku sangat berterimakasih.

"Alhamdulillah, kenyang," ucapku sembari mengelus perut. Nadia menggeleng, ia juga pemakan mie instan sejati, tapi tidak sepanatik diriku. Palingan kalau uang bulananya habis buat lisptik atau beli barang barang lain, baru lah, akhir bulan makan mie instan terus. Xixi ... Nasib anak kost, kalau tidak pandai pandai mengatur keuangan, perut bisa keroncongan.

"Ca, liburan semester ini, ikut gue ke Bali, yuk."

"Ngapain?"

"Cari duit lah. Jangan kira lo bisa makan tidur gratis nebeng gue."

"Etdah, segitunya. Btw, gimana cara nyari duitnya? Eh, tapi Gue nggak mau angkat rok ya."

"Tenang, Cuy, angkat rok atau tidak, itu tergantung kesepakan lo sama klien."

"Heh, maksud, Lo"

"Ca, Lo kan cakep, tampang unik, laku, lo, jadi lady escort."

"Apaan tuh lady escort?"

"Elah, gugling donk!"

"Ngga punya kuota, nyalain donk hotspot, Lo, xixi.... "

"Asem, gue lagi yang yang kena. Lady escort itu ceuwe yang dibayar untuk nemenin seseorang. Semacam penggembira gitu, deh." ujar Nadia berpikir keres, sampai-sampai keningnya berkerut.

Aku tertegun sejenak, khawatir pekerjaan itu berhujung di tempat tidur. Karna aku sudah bertekad akan menjaga kado pernikahan ini untuk suamiku kelak. Dialah yang berhak membukanya, paling tidak, aku tidak punya beban moril saat malam pertama.

"Woi, bengong lagi." Sebuah bantal mendarat di wajahku.

"Ntar dulu, Kupret! Gue ngeri kejeblos."

"Gue nggak maksa, Cuy, terserah lo. Kalo seteju besok pagi ikut gue berangkat ke Bali."

"Hem, tau aja lo Nad, gue lagi kepepet duit. oke deh, Gue setuju."

"Nah, gitu donk, semangat! Satu bulan ini kesempatan lo cari duit yang banyak, biar ngga ngutang mulu sama gue."

"Iya, Neeek." jawabku mendayu.

Aku melengos mendengar ocehan Nadia. Mulutnya memang lemes, tapi hatinya baik. Cuma dia yang sanggup tinggal sekamar denganku. Dulu sebelum bertemu dengannya, hampir setiap bulan aku pindah kost, nyari yang mau sekamar denganku. Tapi baru satu bulan semua pada kapok. Mungkin mereka ngga kuat sama kelakuanku yang super irit. Kadang malah nebeng mereka. Cuma Nadia yang tahan aku gerecokin, walau mulutnya nyap-nyap, tapi dia tidak pernah menyembunyikan makanan ataupun barang-barangnya. Kadang shampoku habis saat tidak punya uang seribu rupiah saja. Dari pada mencium aroma apek, ia rela shampo nya kupakai. Paling dia cuma teriak, dasar koret! Haha ....

*

"Nad, uang gue cuma cukup buat sekali jalan tanpa makan. Jadi karna lo yang ngajak, lo harus tanggung jawab sama perut gue."

"Setdah, punya temen kere amat."

"Ntar gue ganti kalo ada duit."

"Dua kali lipat."

"Anjir, lintah darat!"

Setelah menempuh Perjalanan sekitar 10 jam  kami pun tiba di pantai Gilimanuk.

"Yuhui ... I coming Bali ...."

Aku melompat kegirangan. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di pulau dewata. Kuhirup udara pantai yang segar, angin berhembus lembut menyapu wajahku. Nadia mengajakku ke rumah bos-nya. Entahlah, setauku dia belum bekerja, kenapa bisa punya bos? Bodo ah, yang penting gue nebeng.

Nadia menyetop taxi, setelah taxi berhenti, kami pun bergegasi masuk. "Bang, Nusa Dua, ya." Ujar Nadia memberi instruksi. Taxi segera membawa kami menusuri jalanan. Sesekali aku tersenyum simpul, tidak pernah terpikir sebelumnya aku tiba di pulau indah ini. Saking hikmadnya menikmati perjalanan, sampai-sampai aku tidak sadar kalau kami sudah sampai di tujuan. Kami bergegas turun, Villa Garden Nusa Dua, sebuah tulisan yang dihiasi lampu warna warni sangat menarik perhatianku. Aku mengikuti Nadia yang berjalan lebih dulu menuju lobi.

"Mba, Saya Nadia dari Surabaya, ada janji dengan pak Burhan, bisa tolong panggilkan?" Pinta Nadia ramah.

"Oh, Baik, Mbak Nadia, silakan tunggu sebentar, saya akan panggilkan."

Kami di giring oleh salah satu staff kesebuah ruangan. "Heh, Indah sekali ruangan ini." gumamku dalam hati. Ruangan tertata rapi, sofa putih terkesan mewah seolah mengajakku duduk diatasnya. Mas Herman, staff yang membawa kami ke sini, pamit keluar meninggalkan aku dan Nadia. Aku menatap Nadia, memohon penjelasan tentang semua ini. Tapi bukan jawaban yang kudapat, dia malah tersenyum centil sembari mengangkat kedua alisnya.

Baru saja aku ingin bicara, pintu terbuka dan seorang lelaki paruh baya dengan jas hitam dan berdasi merah, masuk ke dalam.

"Halo, Pak Burhan ...." Ujar Nadia menghampiri, kemudian cipika cipiki. Aku tertegun, salah tingkah, rasanya enggan melakukan hal yang sama.

"Halo juga Nadia, apakabar? Makin cantik aja kamu!" jawab Pak Burhan sembari mencubit genit pipi Nadia. Aku mematung. Lelaki itu melirik ke arahku.

Bersambung

1 comment:

  1. Waw.....semoga Allah selalu melindungi Alisya, ya....
    Dunia malam di Bali ini penuh jebakan bahkan kawan sendiri.

    ReplyDelete