Alisya Part 2



Kembali Ke Rumah 

Kutatap mendali di dinding kamar, bangga rasanya bisa membawa pulang benda itu. Walau hadirnya tidak mampu membawa ayah dan bunda di sampingku, namun bisa memilikinya sudah cukup membuatku bersyukur. 

Besok aku akan membawanya serta ke Jakarta. Kuambil mendali itu lalu memasukkannya kedalam koper. Tak lupa album biru kesayanganku, tersimpan memori masa kecil bersama keluarga ini, keluarga yang telah membesarkanku dengan penuh kasih sayang.

Sejujurnya, jika diizinkan, aku lebih memilih kost dari pada tinggal bersama ayah dan bunda. Entahlah, aku enggan bersama mereka.  Tapi jika aku yang meminta, rasanya kurang sopan. 

"Ca, sudah tidur?" suara bude menyadarkanku. 

"Belum, Bude," sahutku sembari keluar kamar. 

"Dipanggil pakde, mungkin ada yang ingin dibicarakan." 

"njih, Bude." Aku bergegas mengikuti bude lalu duduk disampingnya. Mas Wahyu terlihat murung, sesekali ia menatapku. Pakde manggut-manggut, khas gerakan tubuhnya jika ingin bicara. 

"Ca, Sebelum kamu kembali ke Jakarta, Pakde ingin berpesan. Jika di Jakarta kamu tidak betah dan ingin kembali ke rumah ini, jangan sungkan, datanglah. Pintu rumah pakde selalu terbuka untukmu. Tapi pakde harap, kamu betah di sana. Walau bagaimana pun, itu rumah orangtuamu, disanalah seharusnya kamu tinggal. Bersabar dan maafkan mereka jika kamu merasa diacuhkan. Pikirkan masadepanmu, kuliahmu harus selesai agar kamu bisa mandiri. Yang harus kamu sadari, tidak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya. Dua hal yang paling penting, jika kamu butuh sesuatu, jangan sungkan beritahu pakde dan bude. Insya Allah, kami akan berusaha membantu. Dan jangan pernah tinggalkan shalat." 

Kata-kata Pakde begitu sejuk di hati. Jiwaku yang gelisah terasa tenang. Ada rasa yang membuncah di dada. Sentuhan tangan bude,  membuat mataku berair. Tangan kasar itu membelai rambut dan mendekapku dalam kehangatan. Mas Wahyu keluar, sekilas aku melihat matanya memerah. Sedangkan Pakde tampak tegar. Ia memang sosok yang gagal dimataku. Lelaki paruh baya yang taat beragama, jiwanya teduh, dan penuh kasih sayang. 

*

Aku terbangun saat perutku terasa lapar. Ternyata aku tidur hampir  enam jam. Mungkin karna tadi malam aku tidak bisa tidur. Rasanya aku belum siap tinggal di Jakarta. 

Kupandangi hamparan sawah yang membentang luas, berusaha mencari tau sudah sampai dimana kereta ini membawaku. Cirebon. Hem, masih cukup jauh jarak yang akan ku tempuh. 

Aku berusaha menikmati sisa perjalanan dari Jogja ke Jakarta. Kubuka ragsum yang diberi bude, ada telur asin dan belut goreng kesukaanku. Terkadang aku berpikir, mengapa bukan bude yang melahirkanku? Ah, manusia tak punya daya untuk memilih dari rahim mana ia akan keluar. 

Tenggorokanku terasa tercekik, setiap kali ingat bunda, wanita yang melahirkanku. Entahlah, rasa apa yang Ada di hari, sulit kuceritakan. Bench tapi rindu. Sering aku menagis mendengar perkataan bunda. Mungkin caraku mencari perhatian, membuat ia selalu emosi. Alhasil, bukan perhatian yang kudapat, melainkan umpatan dan sindiran pedas yang membuatku sakit hati. Akhirnya, aku memilih menghabiskan sisa liburan kembali ke rumah pakde. 

Tapi, kali ini aku janji, tidak akan membuat susah mereka lagi. Aku janji, hadirku kali ini tidak akan membuat mereka sadar jika aku ada diantara mereka. Aku janji, tidak akan cemburu  pada Mbak Dela, aku janji, tidak akan sok dekat dengan Mas Rendy dan aku janji, tidak akan mengganggu waktu istirahat ayah dan bunda. 

Kupandangi Handphonku yang tak juga berdering, tidak ada notif pesan masuk. Ah Alisya, bukankah kau baru saja berjanji tidak akan merepotkan mereka?

Kutarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Yap, sesampainya di stasiun pemberhentian nanti, aku naik taksi saja. Uang pemberian Pakde dan Mas Wahyu lebih dari cukup untuk membayar taksi.


"Assalammualaikum," ucapku sembari memencet bel. 

"Waalaikum salam." Bi Inah membukakan pintu, sejenak menatapku kemudian berlalu. Sesaat aku mematung di depan pintu, rumah mewah ini terasa asing bagiku. Sudah dua kali liburan semester, aku tidak berkunjung ke sink. Perlahan aku melangkah masuk. Koper sengaja kuangkat agar tidak mengotori lantai. 

"Bik, yang lain kemana?" Tanyaku mencari tahu. 

"Loh, memangnya Non Alisya tidak diberitahu?" 

Aku menggeleng, memelas jawaban darinya. 

"Hari ini, Bapak di angkat menjadi direktur HRD di perusahaannya jadi, ibu, Non Dela, dan Den Rendy semua merayakannya, mereka makan di restoran. Harusnya saya juga ikut makan di restoran mewah itu, tapi karena Non Alisya mau datang, jadi saya disuruh ibu nungguin rumah. Duh, apes banget, deh." 

Aku terdiam mendengar penjelasan Bi Inah, tenggorokanku kembali kering. Segera kutepis rasa perih itu, kubawa koper menaiki tangga satu demi satu. Tak peduli, seberat apa beban yang kuangkat. Aku harus bisa membawanya sendiri tanpa bantuan siapapun. 

Kuhempaskan tubuh ke atas kasur. Langit Jakarta mulai gelap, ada sepi yang menyelinap di sudut hati. Kutarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan, lagi, dan lagi, hingga sesak itu hilang. 

Bersambung

Udah baca yang Alisya Part1

1 comment:

  1. numpang promote ya min ^^
    Ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    ReplyDelete