Jakarta In Love Part#12


Setelah kopdar bareng Ayah Isa Alamsyah, Alhamdulah saya mendapat pencerahan baru, dan ingin mencoba praktek ilmu yang didapat. Jika Pada part 1-11 cerbung ini menggunakan pov 3, kali ini di part 12, saya ingin menggabungkan POV 3 dan  POV 1 dengan narator Tiyas dan Adit semoga pembaca tidak bingung ya, haha...
dan mohon tinggalkan kritik dan saran yang membangun, terimakasih.
_____________________________________________________________________________

Izinkan Kumiliki Cinta Indahmu Selamanya 

 Aku tidak mengerti apa yang yang kuinginkan. Maafkan aku Mas Adit, sungguh aku tidak membencimu dan takkan pernah bisa.  Hanya saja aku tidak mengerti rasa yang bersemayam di hati ini. Mungkinkah cinta ini hanya sebuah pelarian. Cinta semu yang begitu mudah hadir dan lenyap begitu saja tanpa bekas?

Pertanyaan itu terus menghantui Tiyas, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa cinta yang dimilikinya bukan cinta semu. Namun, Tak ada lagi hasrat di hatinya untuk mengenang sosok Adit, bahkan hanya untuk sedikit mengingatnya. Malam mulai larut, Mata jernih itu mulai terpejam di peraduan.

***

Hari ini tiada senyum yang merekah di wajahnya seperti hari hari yang lalu. Tiada wajah merona seperti saat aku memandangnya. Hilangkah sudah rasa itu? Sudah sirnakah getaran itu? Aku tidak menyalahkanmu, Tiyas, jika hadirku tak lagi menarik perhatianmu, aku hanya lelaki pecandu yang tak punya hati. Karena hati ini telah terkubur bersama anak dan istriku. Aku tahu ini bukan alasan untuk mengiba padamu. Kau tak perlu tahu jeritan hatiku.

Dering telphon menyadarkan Adit dari lamunanya, bergegas ia meraih ponselnya "Ica" gumamnya. Terlihat raut kekecewaan diwajahnya. Bukan nama itu yang ia tunggu. Enggan ia mengangkat telphon itu, kembali ia letakkan smoartphonnya dia atas meja.

Adit beranjak dari duduknya menuju sudut ruangan yang tak pernah lagi tersentuh olehnya selama dua tahun. kini ia sangat merindu duduk bersimpuh di atas sajadah merah yang menyimpan berjuta kenangan bersama Tata.

"Tuhanku, masih bolehkah aku bersimpuh padaMu, Masih adakah tempat untukku memohon ampunanMu. Tuhan, ampunkan jiwa kerdil ini, ampunkan kesombonganku, ampunkan kejahilanku. Aku ikhlas melepas anak dan istriku kembali padamu. Izinkan aku bertaubat padaMu, izinkan aku bersujud padaMu. Aku berjanji untuk kembali ke jalanMu"

***

"Mas Adit, aku ingin bicara empat mata denganmu!"
"Dirga, maaf hari ini aku sibuk sekali, besok malam saja kita bertemu di rumah mami."
 "tapi Mas, aku tidak ingin mami tahu masalah ini"
"masalah apa?"
"Aku tidak bisa berhenti memikirkan Tiyas!"
"Kau gila. Dirga! Kau sudah menikah! Apa Kau tega menyakiti istrimu sendiri?"
"Tadinya Aku sangka akan mudah melupakan Tiyas jika ada seseorang di sampingku, ternyata Aku salah. Tidak semudah itu mengubur perasaan ini, rasa ini begitu dalam hingga mengiris hati setiap kali Aku menatap Andin."
"benar dugaanku selama ini, pernikahanmu cuma kamuflase!"

Dirga tertunduk. Diam. Tak ada bantahan yang ingin ia ucapkan. Adit menatapnya dengan tajam, mengawasi setiap gerak Dirga.

"Dirga, harusnya ini tidak perlu terjadi. Benar aku frustasi saat tahu siapa Tiyas. Dan Aku pun sudah merelakannya untukmu, karena dia memang Tiyasmu yang dulu. Tapi sekarang Kau telah memilih Andin sebagai istrimu. Adilkah ini untuknya? Jangan sakiti istrimu! Dia berhak mendapat apa yang harusnya menjadi haknya."

"Aku tak pernah berniat menyakiti istriku, Mas! Tapi aku tidak sanggup melihat Tiyas bersedih. Aku takut Kau akan melukainya lagi, Aku ingin melindunginya. Aku ingin menjaganya. Apa Aku salah!"

"Dirga, Aku tidak pernah ingin menyakiti Tiyas, sedikitpun Tidak pernah! Saat itu, Aku berada dalam pengaruh obat. Aku ingin mengusir semua rasa yang mengganggu di hatiku. Aku tahu pernikahanmu cuma bias!"

"Tapi Kau hampir membunuhnya, Mas!"

"Dirga, beri Aku waktu, Aku sedang menjalani terapi. Aku harus terus bisa menjaga hatiku agar tetap stabil. Dan Kau selalu saja membuat Aku goyah, Emosiku meluap setiap kali menatapmu! Kau selalu saja menjadi jarak antara Aku dan Tiyas!"

"Aku sudah menikah dengan Andin Mas! Bukankah itu artinya Aku bukan lagi jadi penghalang kalian!"

"Tapi Aku cemburu, Aku cemburu, Dir! Tiyas selalu saja manja padamu, dia selalu dekat denganmu. Aku masih ingat saat kita tinggal serumah dulu, dia selalu menghindar setiap kali berpapasan denganku. Dia memilih bersembunyi di balik punggungmu. seolah Aku hantu yang menakutkan!"

Dirga terdiam mendengar ucapan saudara lelakinya itu. Dia tidak menyangka Adit salah menilai sikap Tiyas. Rasa kagum Tiyas pada Adit sejak dulu, terekspresi dengan sikap malu oleh Tiyas. Dirga pun tahu sejak dulu, bahwa Adit bak pangeran tampan yang selalu dipuja Tiyas. Tapi Dirga benar benar tidak ingin memberitahu Adit. Gengsi. Mungkin itu satu satunya alasan Dirga. Yang akhirnya membunuh rasa di antara Adit dan Tiyas.

"Mas, Akupun lelah dengan rasa ini, saat ini ada yang lebih penting dari urusan rasa yang membelenggu jiwaku. Rumah tanggaku menjadi tahuran atas rasa yang tak pernah sampai ini. Aku titip Tiyas, Mas. Aku akan pergi bersama Andin merajut mimpi di Amrik. Semoga kalian bahagia."

Dirga berlalu dari hadapan Adit. Meninggalkannya dalam kebingungan yang sulit mencerna ucapan Dirga. Adit hanya menatap tubuh Dirga yang hilang ditelan pintu pembatas ruangan.

***
Aku jenuh sekali hari ini, mungkin secangkir kopi di kafe bisa menghilangkan kejenuhan ini. Aku memilih Mall pejaten sebagai tempat nongkrong melepas kejenuhan. Lorong demi lorong kutelusuri dengan santai. melihat lihat display yang tertata rapi. sangat menggoda setiap pengunjung untuk membeli. Aku memilih duduk disalah satu restoran.

Sejenak aku terperanjak. ternyata ini restoran tempat aku dan Mas Adit makan untuk pertama kalinya. Buru buru kutepis ingatan itu. perutku mual mengingat sosok yang hampir saja membunuhku. Rasanya ingin aku segera meninggalkan restoran ini. Tapi mataku tertuju pada sosok pria yang duduk di sudut ruangan sambil memandangi ponselnya.

Mas Ihang, rasanya sekujur tubuhku berdesir, detak jantungku tak menentu, darahku seoalah mengalir dengan cepat hingga membuat tubuhku basah oleh keringat. Mata itu melirik ke arahku, mencuri kelengahan saat tak memandangnya. [Mas Ihang, bolehkah aku menghampirimu sebentar saja? Tak masalahkah hubunganmu dengan Menik?] tiba tiba saja pertanyaan itu terbersit di kepalaku. Ah, rasanya aku tak sanggup menahan langkahku mendekatinya. Namun segera ku urungkan saat Mataku menatap sosok wanita yang sangat kukenal. Menik. dia datang  menghampiri Mas Ihang.

Oh Tuhan, Aku tidak ingin melihat ini, bergegas Aku pergi meninggalkan restoran. Aku hanya menuruti langkah kaki yang membawaku berjalan mengitari surga dunia ini. Kakiku terhenti di sebuah bioskop. Lagi lagi Mas Adit berkelebat dalam ingatanku. segera kutinggalkan tempat yang mengaduk aduk rasa di hatiku. Kini aku memilih pulang ke rumah.

***

Kabar tentang hari pernikahan Ihang dan Menik yang dipercepat, akhirnya sampai juga pada Tiyas. Undangan bersampul biru itu basah dengan tetesan air mata dari pipi gadis berwajah ayu nan bermata lentik. "Mas Ihang, selamat menempuh hidup baru, semoga kalian bahagia" ucapnya lirih.

Tiyas mulai gelisah. Hatinya dipenuhi rasa bimbang. Lelah. Beberapa menit berpikir tentang langkah yang akan ia ambil, akhirnya ia membuat surat pengunduran diri. Langkahnya mantap menuju ruang Adit.

"Assalammualaikum"
"Waalaikum salam. Tiyas. Masuk."
"terimakasih Mas, eh, maksud saya, Pak."

Sejenak Adit menatap Tiyas yang terlihat salah tingkah.

"Ada apa?"
"begini Pak, saya ingin pulang ke kampung halaman. Saya ingin mendedikasikan hidup saya untuk membangun desa. jadi saya ingin resign"
"what? resign? Yas, ga bisa mendadak begitu donk. Perusahaan harus mencari ganti Kamu dulu. untuk sementara jika Kamu ingin pulang, lebih baik Kamu cuti saja, gimana?"
"Tapi Pak, Saya..."
'Tiyas, Pliiss patuhi peraturan kantor ini!"
"Baik, Pak, saya akan mengajukan cuti selama satu minggu"
"tiga hari saja. Bukan kah itu cukup?"

Mata Tiyas menatap tajam Adit, jantungnya berdegup kencang. Benci. Rasa itu tiba-tiba muncul di hatinya. Segera ia mengambil kembali amplop surat pengunduran dirinya. Tanpa mengucap salam Tiyas meninggalkan Adit.

"Tiyas, mengapa jadi begini... tidak adakah sisi baik dalam diriku yang mampu memikatmu lagi? Aku menyayangimu, lebih dari yang kau tahu!" Bisik Adit dalam hatinya.

***
Baca juga : Jakarta In Love part 11

Tiyas menghempaskan tubuhnya ke kursi. kerinduannya pada kampung begitu kuat. Ibu, bapak dan adik adiknya, seolah begitu dekat di matanya. segera ia menyambar ponselnya.

"Assalammualaikum, Buk"
"Waalaikum salam, Tiyas, Alhamdulillah. baru saja ibu mau nelpon Kamu, ndok?"
"Ada apa, Bu?"
"Ga apa apa, ibu cuma ingin tahu keadaanmu di sana. Kamu baik baik ajakan? Mungkin nak Ihang itu bukan jodohmu, mungkin ada seseorang yang sudah menunggumu di tempat lain"
"Ibu ngomong apa sih?"
"Ibu udah tahu kalo nak Ihang akan segera menikah dengan Menik, tadi Menik nelpon ibu dan memohon doa restu. Ndok, jika Kamu lelah dan ingin kembali ke kampung, Ibu dan bapak akan senang sekali"
"Buk, Tiyas mau tinggal di kampung saja, merawat Bapak dan Ibu"
"Ya uwes, pulang sini"

Senang sekali mendengar ucapan ibu. Rasanya sudah tidak sabar diri ini untuk pulang ke kampung. membayangkan suasana pedesaan yang masih asri. hamparan sawah terbentang luas, menghijaukan pandangan sejauh mata memandang. Kantor memberiku cuti selama tiga hari. segera sepulang dari kantor aku mencari tiket untuk pulang.

***

Desa ini terlihat begitu berbeda. Tidak seperti saat aku meninggalkannya dulu. Desa ini seperti memiliki ruh. suasananya hidup. penduduk tampak riang. Tidak terasa aku sampai di depan rumah. Perjalanan selama delapan jam membuat tubuhku lelah dan ingin segera berbaring.

"Assalammualaikum. Ibuuuk"
"waalaikum salam. Tiyas. Kamu sudah sampai Nduk. Ayo masuk sini. Ibuk sudah masak makanan kesukaan Kamu. Sayur asem dan teri kacang. Kamu suka kan?"
"suka donk, Buk. kebetulan Tiyas juga udah laper, nih"

Ibu menyiapkan makanan. Aku masuk ke kamar. Kurebahkan tubuh penat ini. Rasanya begitu bebas. Bebas dari segala masalah yang menghimpit. Kutarik napas dalam, menikmati setiap udara segara yang berhembus lembut melalui jendela.

"Tiyas, makun dulu, Ndok! Ibu juga mau cerita sama Kamu. Banyak perubahan di desa kita semenjak kamu ke Jakarta"
 "Iya Buk, Tadi Tiyas lihat sepanjang jalan, rasanya desa ini lebih hidup"
"Iya, sejak kehadiran Nak Wahyu, desa ini jadi maju!"
"Wahyu? Siapa, Buk?"
"Itu loh, Ndok, anaknya Pak Panji, juragan Kambing di di desa ini"
"Owh, Mas Wahyu itu, iya Buk, Tiyas ingat"
"Dia itu lulusan Pertanian Bobor, nah sekarang Nak Wahyu udah berhasil memberi penyuluhan bercocok tanam untuk warga desa, dengan menggunakan teknologi agar hasil panen lebih melimpah. Dan hasil panen dikumpulkan di koprasi desa, setelah itu baru di jual. Bahkan sekarang desa desa tetangga juga sudah banyak yang bergabung dengan program Nak Wahyu. Dan rencananya nanti  hasil panen juga di ekspor ke luar negeri. dan harganya cukup bagus untuk para petani di sini."
"Alhamdulillah ya, Buk. Mas Wahyu mau membangun desa ini"
"Sekarang ini, lagi dibutuhkan pegawai untuk ngurusin administrasi koperasi. Ibu kemaren udah cerita sama Nak Wahyu tentang Kamu, Ndok. Dan sepertinya Dia ingin kamu juga bergabung membangun desa ini."
"Idih, Ibuk, main promosiin aja. Tiyas kan ke sini cuma cuti, Buk."
"Udah, kamu resign aja. Mendingan tinggal di sini, jadi kita bisa kumpul lagi. Ibuk kepikiran terus sama Kamu, Nduk. Di Jakarta Kamu sendirian. Ibuk takut terjadi apa apa sama Kamu."
"Tapi, Tiyas juga harus balik dulu ke kantor, Buk. Pamit sama bos tempat Tiyas kerja. Masak Tiyas ngilang gitu aja!"
"yaudah, buruan urus pengunduran diri Kamu segera, ya"
"Tapi Tiyas mau tanya dulu, pekerjaannya apa saja?"
"Kalo gitu nanti malam kita ke rumah Nak Wahyu, biar Kamu ngobrol bareng, ya!

Bersambung







22 comments:

  1. Ehm ... Kayaknya Tyas bakal berjodoh sama Wahyu nih, ya. Qrkqrkqrk ... Pembaca boleh dong menduga-duga, hihihi ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaiii...haha.. Tunggu satu episide lagi ya, Mak. Nanti terjawab tuntas.

      Delete
  2. Jeng Jeng apakah yang kan terjadi Selanjutnya?????
    Aaaaa jangan lama-lama yaaa episode lanjutannya mbak

    ReplyDelete
  3. Cinta yang rumit di saat harus memilih atau dipilihkan pada keadaan hmmm

    ReplyDelete
  4. Penasaran deh, ingin tahu kelanjutannya si Tyas apa jadi jatuh cinta sama Wahyu, hehehheh...

    ReplyDelete
  5. Konfliknya makin seru. Ya, hidup memang penuh liku, kalau ketebak jadi tidak seru cerpennya.

    ReplyDelete
  6. Mbaaa, ceritanya ngaliir bangett. Dududu, Tyas jadinya ma siapa ya? Aku terka dalam hati aja aah, biar gak dibelokin ceritanya, qiqiqi... #ingetsinetron...

    ReplyDelete
  7. Semakin menarik ceritanya. Pov 1 digabung pov3 membuat jadi lebih mengalir jalan ceritanya. Tyas jangan sama wahyu yaa.. Kok saya kurang sreg gitu ehehehe lha kok saya yg cerewet milih

    ReplyDelete
  8. Wah konfliknya semakin seru ya, betul-betul perjalanan cinta yg penuh lika-liku...hmmh..kira2 tyas bakal berjodoh sama siapa nih..

    ReplyDelete
  9. sepertinya Tiyas akan menerima cinta mas Adit...(kemeruh..hahaha)..sabar ...harus menahan diri nungguin 1 episode lagi..haha

    ReplyDelete
  10. Mas dirga meni susah move on gusti hahaa. Aduh tyas akhirnya mendapatkan angin sefar didesa setelah ada nama Wahyu. Akankah kali ini gak ada drama percintaan lagi? Hahaha aku kepo sangat bundaa

    ReplyDelete
  11. Memding gitu Tyas. Biar Mas Adit bisa introspeksi diri. Jadi kalau ingat candu, ingat bagaimana dia nyaris membunuh Tyas lewat barang haram itu. Biar enggak KDRT nantinya, hehe. ��

    ReplyDelete
  12. Kayanya sih Tyas bakal tetep ke Mas Adit ya, tapi aku ga setuju apalagi pernah mencoba membunuh Tyas, nantinya malah jadi runyam. Kenapa ikutan ngatur Tyas yak hihi, terbawa suasana

    ReplyDelete
  13. Waaa makin rame aja nih. Nama Wahyu membawa angin segar. Kalau ternyata Tyas berjodoh dengannya, boleh laaah... :D

    ReplyDelete
  14. Wah makin seru ceritanya ini mba. Hayuk buruan di-end kan hahhaa. Pembaca penasaran ini....

    ReplyDelete
  15. bergetar hati ini ketika baca cerbung ini. jadi gimana gimana kelanjutannya? bikin gemas. bisa jadi benar tyas sama wahyu, hihi.

    ReplyDelete
  16. Pembaca selalu penasaran dengan akhir cerbung, mbak...pengen lihat akhirnya..happy ending...he he he

    ReplyDelete
  17. Udah mau habis nih, tadi udah ngintip di IG. Kayaknya terakhir part 13, wkwkwkwk. Jadi, Tyas mau sapa nih?

    ReplyDelete
  18. Perasaan Tyas ke Mas Adit, seperti lagunya Dewa ya " aku bisa mencintaimu meski kau cinta kepadaku..." Hihihihi

    ReplyDelete
  19. Saya tertinggal beberapa part nih. Eh, udah part 12 aja. Semakin seru, nih. Lanjuuut, Mbak.
    Ditulis di wattpad juga, kah?

    ReplyDelete
  20. Serrruuuu mbaaak, makin penasaran sama lanjutannya. Ditunggu part berikutnya yaaa

    ReplyDelete
  21. Numpang promo ya Admin^^
    ayo segera bergabung dengan kami di ionqq^^com
    dengan minimal deposit hanya 20.000
    add Whatshapp : +85515373217 ^_~

    ReplyDelete