Jakarta In Love Part #10


Hari ini Tiyas tampak cantik dengan seragam pagar ayu yang dikenakannya. Warna tembaga yang mendominasi desain aula resepsi pernikahan itu, memberi kesan mewah suasana gedung. Walau persiapan dilakukan hanya beberapa hari namun semua berjalan lancar sesuai rencana. Namun sepertinya Tiyas sedang mencari sosok Adit di tengah berlangsungnya pesta, tapi sayang ia tidak menemukan sosok itu.

Hari pun beranjak malam, kali ini Tiyas sepertinya tidak sanggup lagi menahan jemarinya mencari nomer Adit dalam ponselnya. Namun sayang tidak ada jawaban dari Adit. Tiyas memberanikan diri menghubungi Ica. Namun Ica juga tidak menjawab panggilannya. Rasanya ia sudah tidak sanggup menahan gejolak di hatinya, rasa was-was yang tak berkesudahan. Rasa rindu yang membuncah di dadanya, seolah semua mendorongnya untuk mencari Adit. Tiyas nekad mendatangi rumah Adit.

***

Setelah menunjukkan identitasnya, Tiyas melangkah memasuki halaman rumah Adit. Langkahnya terhenti sejenak, ada rasa enggan di hatinya untuk memasuki rumah. Masih ada rasa takut dan ngeri membayangkan pemandangan di dalam rumah saat pertama kali Ia masuk bersama Ica. Namun keinginannya untuk bertemu Adit membuatnya nekad memasuki rumah mewah itu.

Matanya terbelalak saat mendapati Adit sedang menikmati setiap hisapan sabu sabu didepannya. Tangannya merangkul Ica yang terlihat terkulai lemas dalam pelukannya.

"Mas Adit!" ucapnya lirih

Adit menatapnya dengan tajam. Sebuah senyuman sinis tersungging di wajahnya.

"Mau apa Kamu kesini!" suara Adit yang nge-bas dan parau membuat nyali Tiyas ciut.

tiba tiba jantungnya berdegup kencang, ada rasa tidak nyaman dengan tatapan Adit. ia seperti tidak mengenal tatapan itu. Tatapan tajam dari mata elang yang berwarna merah itu seoalah ingin menelanjanginya.

Adit menekan sebuah remot. Tak lama berselang dua lelaki tinggi tegap datang dari belakang berjalan mendekati Adit. Tiyas menggeser posisi berdirinya, ia meningkkatkan kewaspadaan. Saat Adit memberi kode dengan melirik Tiyas, dua lelaki itu langsung membekap Tiyas, lalu menggotong nya kesebuah kamar.

Tiyas meronta-ronta, namun tidak ada yang perduli dengan jeritannya, tidak ada yang perduli dengan tangisannya. Tubuh Tiyas dihempaskan ke atas ranjang putih yang tertata rapi. Tiyas segera ke sudut tempat tidur menjauh dari dua pria itu. Saat Adit muncul dari pintu, ada rasa lega bercampur was-was. Ia benar benar tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Adit padanya.

Adit berdiri di depan ranjang itu, menatapnya dengan tajam. Kemudian ia menganggukkan kepalanya pada dua bodyguard nya. Dengan sigap mereka segera berpencar. seorang menuju meja lalu mengambil sesuatu dari laci, dan yang satu lagi mendekati Tiyas. Tiyas mencoba mengelak dari cengkraman pria itu, namun sayang tubuhnya tidak cukup kuat untuk melawan.

Tiyas terbelalak saat sebuah cairan dalam spead yang dibawa kawanan pria itu mendekatinya.

"Mas Adit! tolong Saya, Mas! jangan lakukan ini pada Saya!" tangisan Tiyas sama sekali tidak membuat Adit luluh. Ia seolah menikmati jeritan Tiyas yang memohon belas kasihannya.

Tubuh Tiyas merejang saat jarum neraka itu menembus kulitnya. Tubuhnya melemas, dunia seolah berputar, tulang tulangnya tidak sanggup menopang tubuhnya. melihat Tiyas terkulai lemas, kedua bodyguad itu segera meninggalkan kamar.

Adit mendekati Tiyas, lalu duduk tepat disampingnya. Jemarinya bergerak membelai wajah Tiyas yang basah dengan air mata. Tiyas pasrah, ia tidak punya tenaga sedikitpun bahkan hanya untuk sekedar menepis tangan Adit.

Kamu sudah baca yang ini : Jakarta In Love Part#9

Berlahan Adit membuka kancing atas baju Tiyas. Tiyas memejamkan matanya. dalam hati ia pasrah, hanya doa dan penyesalan yang ia panjatkan pada Tuhannya.

"Gadis bodoh! kenapa Kau datang kemari? Kau pikir siapa dirimu?!" suara Adit datar dan dingin.

Tiyas tidak menjawab, tidak ada kata kata yang terucap dari bibirnya. tubuhnya benar benar tidak berdaya mencegah tangan Adit yang melepas satu persatu kancing bajunya.

"Apa salahku Mas? kenapa Mas Adit tega melakukan ini padaku?" suara Tiyas lemah dan parau, masih berharap kebaikan pada diri Adit.

"Tidak ada! Aku hanya ingin mengajakmu bersenag senag! Menikmati dunia ini dengan caraku!"

Tiyas meringis. Ia tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Tiba tiba tubuhnya bergetar hebat. ada hawa dingin menjalar keselur tubuhnya. bibirnya bergetar wajahnya memucat, rasa mual dan muntah yang hebat membuat tubuhnya terguncang guncang. Adit menarik tangannya menjauhi gadis yang lemah di depannya. Adit tidak menduga reaksi tubuh Tiyas terhadap Morfin yang baru disuntikkan.

Adit seperti baru tersadar dari lamunanya, saat menyadari gadis didepannya adalah Wening Tiyas gadis yang sempat menarik perhatiannya. Ia segera mengangkat tubuh Tiyas lalu membawanya setengah berlari keluar rumah. Dua bodyguardnya yang masih menunggu di ruang depan segera membantu Adit membukakan pintu. Seorang dari mereka menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja.

"Cepat! ke rumah sakit!" perintah Adit pada bodyguard nya sembari memangku kepala Tiyas di kursi belakang mobil. Tanpa menunggu lama, Mobil itu segera melaju menuju rumah sakit.

***

Tiyas mendapat perawatan intensif, Tiyas pun masuk ruang ICU karena tidak sadarkan diri. dokter memberi penjelasan bahwa Tiyas sedang dalam masa kritis dan akan berakhir selam dua kali dua puluh emapat jam.

Adit duduk di kursi tunggu depan ICU. Ia meremat rambutnya, lalu berdiri mondar mandir dengan gelisah. Sesekali ia mengepalkan tangannya lalu meniju telapak tangan kirinya. sesekali Ia membenturkan kepalanya ke tiang beton yang berdiri dengan kokoh menghiasi lorong. Sepertinya Adit tidak punya pilihan kecuali menelpon Dirga.

 ***

Hampir saja Dirga melayangkan kepalannya ke wajah Adit, jika tidak buru buru dicegah oleh Andin. Adit tidak melawan sedikitpun. Ia memilih pasrah. dari kejauhan terlihat Ihang, Menik, dan Sadeq berlari mendekati mereka.

"Mas Dirga, bagaimana keadaan Tiyas?" tanya Ihang sembari melirik Adit penuh selidik.

Dirga tidak menjawab pertanyaan Ihang. Ia melengos, lalu duduk di kursi dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Andin menatap pria yang baru beberapa jam lalu menjadi suaminya. Dirga tak ingin membuat Andin bertanya tanya lebih dalam tentang ia dan Tiyas. Dirga mencoba menyembunyikan kekalutannya.


"Mas Dirga, pulanglah, biar kami yang menunggu Tiyas di sini, kasihan mbak Andin, ia butuh istirahat" ujar Ihang

Dirga menarik napas dalam, kemudian ia mengangguk tanda setuju, lalu mengajak Andin pulang.

Adit masih diam membisu, tatapannya kosong. Dinginnya udara malam tak sedingin hatinya yang membeku. Tak ada rasa yang yang bermain di hatinya. tak ada penyesalan, tak ada kebahagiaan, tidak adak kesedihan, semua terasa datar. Tatkala sebuah suara lantunan ayat ayat suci Alquran terdengar sayup sayup ditelingganya, napasnya memburu, darahnya berdesir. bagaikan air panas yang merangsak mengalir mencairkan darahnya yang terasa membeku, memaksa menembus hatinya yang terkunci rapat.

"Hentikan suara itu!!" bentak Adit. Matanya melotot pada Menik, tangannya mengepal, napasnya tersengal sengal.

Menik yang tersentak mendengar bentakan Adit, segera menutup Alquran pocket nya. Lalu segera menyimpannya ke dalam tas. Ihang dan Sadeq meningkatkan kewaspadaannya mengawasi setiap gerakan Adit.

Lalu Adit pergi berjalan cepat menjauh dari ketiga insan yang masih terlihat tegang di sana.
Adit melangkah tak tentu arah, tak ada yang ia tuju selain menjauhi suara yang memekakkan telinganya. Langkahnya terhenti saat ia sadar kini berdiri tepat di depan sebuah mushola mungil.
Sayup sayup terdengar suara lantunan Ayat ayat Alquran mengalir dengan merdu dengan suara yang bergetar menahan tangis.

Adit mengepalkan tangannya, detak jantungnya kembali cepat seolah ingin berlari jauh meninggalkan suara itu. Tapi kakinya bagaikan terpatri kuat tak bisa ia gerakkan. tangannya mengepal kencang, wajahnya memerah. Amarahnya memuncak saat bayangan Tata dan putranya terbalut kain kafan kembali muncul dalam ingatannya.

Ia melangkah mendekati bangunan kecil itu, berlahan ia memasukinya, matanya nanar menatap setiap sudut ruangan yang terukir indah dengan kaligrafi berlafaskan petikan ayat ayat Quran. Ruangan tampak sepi, hanya ada sepasang mata teduh mengawasinya dari sudut ruangan.

Lalu terdengar sebuah iqomat melantun dengan merdu.  Adit mecari asal suara itu. Matanya tertuju pada seorang pria berjanggut tipis sedang berdiri bersiap menunaikan shalat. Adit memandangi dan terus memandanginya, saat tubuh itu rukuk dan sujud pada Tuhannya. Adit berjalan ke sudut belakang mushola. Matanya lekat memandangi lelaki di depannya.

Tiba tiba ada kerinduan yang membuncah di dadanya. Ada lelah yang teramat sangat di hatinya. Ada benci yang tak mampu ia ungkapkan memenuhi setiap tarikan napasnya. Ada kepiluan yang teronggok  disudut hatinya. Semua rasa itu datang memenuhi jiwanya, hingga raganya tak sanggup lagi berdiri menopang tubuhnya yang ambruk terduduk di atas sajadah hijau bermotif kubah itu.

Adit membenamkan kepalanya, kedua tangannya kencang menarik rambutnya. kini ia tak sanggup lagi menahan air matanya. Butiran bening membasahi pipinya. Banyangan Tata, Zidan dan Tiyas berputar putar di kepalnya.

"Aku pembunuh! Aku pembunuh!" bisiknya lirih

Tiba tiba rasa takut kehilangan Tiyas menyesakkan dadanya. Tubuhnya bergetar hebat. Kemudian Ia sujud. Tangannya mengepal dan menghantam hantam lantai yang beralas karpet hijau itu.

"Apa salahku, kenapa Kau permainkan Aku seperti ini?!"

Saat Adit mulai merasa lelah, Pria berjanggut tipis yang baru menyelesaikan shalatnya itu menyentuh pundaknya.

"Akhi, mari salat berjamaah. Kita puji keagunggan Sang Maha Pencipta. Kita bermohon ampun atas dosa dosa yang kita lakukan. Memohon izinNya  menyembuhkan orang orang yang kita cintai. Sesungguhnya kita hanyalah makhluk lemah yang tak berdaya di hadapanNya"

Adit bangkit dari sujudnya, mata elang itu tajam menatap lelaki asing di depannya. Ada rasa enggan dihatinya untuk melangkah menyucikan diri. Namun Ia pun menyadari, Ia hanya makhluk lemah yang tak berdaya melawan takdir Sang Pencipta. yang bisa ia lakukan hanyalah memohon belas kasih dariNya.

bersambung 

 gambar: sehatly


  










19 comments:

  1. Semakin seru nih ceritanya..narkoba memang jahat banget efeknya.sampai adit mau mencelakai gadis baik baik

    ReplyDelete
  2. Aduuuh....Mbaa....jantungku rasanya mau copot bacanya, apalagi saat Tyas dikamar...seruuuu..lanjut Mba😃😃

    ReplyDelete
  3. Seru banget ceritanya. Sampe tegang saat mulai membuka baju dan kejang2 ��

    Ditunggu cerita selanjutnya, mbak ��

    ReplyDelete
  4. Aduh bacanya ampe merinding banget ngebayangin jadi si tiyas gimana. Makin memuncak ini ceritanya mbak. Plis pliss langsung buat lanjutannya mbak hehe

    ReplyDelete
  5. waduh waduh makin seru, udah mau sampai konflik klimaks nih meski saya enggak ngikutin berurutan tapi rasa dari ceritanya enggak ilang, penasaran sama lanjutannya. Duh, Mas Adit nakal banget ya mainannya shabu, kalo saya juga nyabu di pagi hari, nyarap bubur, wkwkkw.

    ReplyDelete
  6. Mbak Steffi ki sama kayak aku. Sukanya SaBu, Sar rapan bubur, wkwkwkwk. Btw gak nyangka ya sama reaksi tubuh Tiyas. Duh tiwas udah mau 17 plus, wkwkwkw

    ReplyDelete
  7. Wiii ini udah klimaks apa baru mau klimaks ya mba? Bikin deg degn ceritanya euy.. yuk lanjouuut segera yak!

    ReplyDelete
  8. Makin seru....ngapain saya yang ikutan deg-degan, ya? Lanjoooottttt

    ReplyDelete
  9. Makin seruuu
    Kasihan Tyas...semoga selamat..oh noo, ya ampun Adit, kamu jahat!! deg degan akutu bacanya

    ReplyDelete
  10. numpang share ya min ^^
    buat kamu yang lagi bosan dan ingin mengisi waktu luang dengan menambah penghasilan yuk gabung di di situs kami www.fanspoker.com
    kesempatan menang lebih besar yakin ngak nyesel deh ^^,di tunggu ya.
    || bbm : 55F97BD0 || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    ReplyDelete