Jakarta In Love Part#7




Pagi itu kabut tipis menyelimuti kota Sentul, udara sejuk membelai lembut wajah Tiyas. Rambut hitam sebahu bergelombang itu, membuat setiap mata yang memandang akan berdecak kagum. Begitupun Adit, ingin rasanya ia memainkan rambut Tiyas dengan jemarinya, menarik lembut dan meluruskan gulungan rambut hitam nan lembut itu. Namun ia khawatir akan membuat Tiyas tidak nyaman. Adit mengurungkan niatnya, hanya matanya yang memandang takjup pada sosok wanita di depannya.

"Tiyas, andai Kau datang lebih awal" bisiknya dalam hati.

Dari kejauhan terlihat Menik mendekat menuju tempat Adit dan Tiyas. Menik berusaha menahan gejolak di hatinya, ia menarik napas panjang, menahan rasa yang membuncah di dadanya.

"Assalammualikum, Tiyas!" sapa Menik.

Tiyas yang melihat kehadiran Menik, Ihang, Sadeq, dan Pak Andre terperanjak dari duduknya. Ia terkejut sekali dan tidak siap dengan kehadiran mereka. .

"Me...Menik!" sahut Tiyas dengan terbata, matanya terbelalak pada Menik, kemudian bergantian menatap Ihang, Sadeq, dan Pak Andre.

Adit menoleh ke arah Menik, lalu secepat kilat melayangkan pandangannya pada Ihang. Lelaki yang ia kenal cukup dekat, lalu kembali menoleh pada Tiyas dan menatapnya dengan tajam.

Ihang segera mendekati Adit lalu membungkukkan punggungnya seperti sedang memberi hormat.

"Selamat pagi, Pak" sapanya sembari menundukkan pandangannya.

Adit menatapnya dengan tajam, ia diam sesaat sebelum menjawab salam sapa dari Ihang.

"Pagi" jawabnya singkat.

Tiyas terbelalak menatap Ihang dan Adit yang ternyata saling kenal. Matanya silih berganti menatap keduanya.

"Mas Adit kenal dengan Mas Ihang?" tanya Tiyas penasaran

"Apa pria ini yang bikin Kamu patah hati?" timpal Adit sembari menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia tampak begitu tenang dan berwibawa. Alis matanya naik menatap Tiyas yang masih berdiri.

Tiyas memalingkan wajahnya ke samping, mencoba menyembunyikan wajah yang kembali terlihat kusut dan kacau.

Menik, menatap Ihang penuh tanya. Sementara Ihang terlihat kikuk dengan keadaan yang ada, sembari ia memberi kode pada Sadeq. Seolah mengerti apa yang dimaksud Ihang, Sadeq berbalik menuju tempat parkiran.

"Tiyas, apa Kamu belum tahu, kalo Pak Adit adalah owner purusahaan Kita?" tanya Ihang pada Tiyas yang berdiri dengan tegang di sisi kiri Adit.

"Owner perusahaan Kita?" tanya Tiyas balik

Ihang mengangguk dengan wajah tak menentu. Sesekali matanya melirik Adit yang tak lepas menatap Tiyas. Adit berdiri lalu meninggalkan mereka. Ia menuju arena balapan. Tak lama kemudian makanan yang dipesan Adit datang.

Tiyas terduduk lemas, ia menarik napas dalam, lalu kembali berdiri dan meninggalkan Ihang, Menik dan pak Andre. Ia setengah berlari menyusul Adit menuju arena balapan.

Ihang mempersilakan Pak Andre dan Menik duduk. mereka memilih menunggu Adit menyelesaikan balapannya.

"Mas Adit, tunggu!" teriak Tiyas, menghentikan langkah Adit.

Adit berhenti dan menoleh pada Tiyas.

"Mas, Aku ikut ya?" ujar  Tiyas sopan

"Ikut kemana?" selidik Adit

"Ikut balapan" jawab Tiyas singkat

"hahaha... " tawa Adit terhenti ia menarik napas panjang seraya memijat kepala dengan tangan kanannya.

"Yakin, mau ikut?" tanya Adit menegaskan.

Tiyas mengangguk dengan cepat, sorot matanya tajam dan bening menatap Adit, menanti jawaban yang ia harapkan.

Tanpa menjawab, Adit memberi kode pada Tiyas dengan menggerakkan kepala ke arah mobil sembari tersenyum. Tiyas mengulum senyumnya, segera ia menuju ferrari merah yang terparkir di lintasan lomba. Sementara Adit menyapa dan menyalami beberapa rekannya yang siap bertanding dengannya. Beberapa menit kemudian ia menuju mobil lalu memasang sabuk pengaman yang diikuti oleh Tiyas.

"Masih ada waktu jika Kamu ingin turun" ucap Adit sambil melirik Tiyas yang terlihat sibuk melihat ke kanan dan kiri, mengamati para panitia yang sibuk mengambil posisi masing masing.

"Nggak Mas, Saya mau di sini, Saya percaya kok sama Mas Adit" ujar Tiyas sembari melayangkan lirikan matanya pada pria tinggi tegap disampumhnya.

Adit tersenyem mendengar jawaban Tiyas, ia sibuk memaju mundurkan kursinya, mencari posisi nyaman, kemudian menggeser-geser kaca spion depan, kanan dan kirinya. Setelah ia merasa semua sempurna, ia menyandarkan tangan kanannya pada pintu mobil dan memiringkan bahunya, sehingga ia lebih leluasa menatap Tiyas.

"Benar Pria itu yang membuatmu patah hati?" tanya Adit, kembali mengulang pertannyaan yang belum dijawab Tiyas.

Tiyas menggosok-gosok hidungnya yang tidak gatal sama sekali. Tidak ada jawaban yang ingin ia katakan. Namun bahasa tubuhnya membuat Adit tersenyum tipis sembari mengangguk anggukkan kepalanya.

"Oke, siap ya, kita akan segera balapan. Teriaklah sekencang yang Kamu mau" Adit mengulum senyumnya, melihat Tiyas menarik napas dalam.

Tak lama berselang seorang wanita tinggi langsing berpakaian kaos putih dan jeans hitam, membawa bendera hijau kotak kotak hitam. Ia berdiri disisi kiri sejajar dengan garis start. Ia menghitung mundur kemudian meniup pluit dan mengangkat bendera ditanggannya.

Segera Adit dan emapt mobil lain tancap gas, lalu melaju dengan kecepatan tinggi. Tiyas secara  spontan menutup matanya, jantungnya bedetak sangat cepat seoalah ikut berpacu di arena balapan.
Adit konsentrasi penuh mengendalikan mobilnya. Tepat ditikungan Adit menyalip satu mobil yang mendahuluinya. Tanpa sadar Tiyas menjeriat sambil menutup matanya, tubuhnya ikut terhempas kekanan saat mobil Adit berbelok dengan kecepatan tinggi.

Kamu sudah baca yang ini Jakarta In Love Part #6

Setelah jalanan kembali lurus, Tiyas mencoba membuka matanya, namun keadaan itu tidak bertahan lama, mobil Adit kembali berbelok ke kiri dengan kecepatan penuh, menyalip satu mobil lagi di depannya. Kini Adit memimpin balapan diposisi pertama. Tiyas terlihat ngos-ngosan, hormon adrenalinnya terbentuk sempurna. keringat bercucuran membasaghi kening dan punggunggnya. Dinginnya suhu di mobil tak mampu mendinginkan tubuh Tiyas.

Adit melaju mobilnya dengan kecepatan penuh, Ia ingin memberi sensasi baru pada gadis bermata jernih di sampingnya. Lima putaran diselesaikan Adit dengan selamat, ia berhasil mengalahkan empat rekannya.

"Yeeeee... Kita menang!!" terak Tiyas kegirangan saat Mobil Adit memasuki garis Finish.

Adit tersenyum puas memandangi Tiyas yang tampak kegirangan. Segera ia keluar dari mobil dan langsung di sambut pendukungnya dengan semprotan air soda yang menyembur dari botol minuman, meluncur tinggi ke udara memeriahkan suasana, sebuah kalung bunga di kalungkan ke leher Adit oleh wanita yang memegang bendera tadi. 

"Tankyou.." sahut Adit sambil melambaikan tangannya, seraya berjalan mundur menjauhi keramaian itu. Segera ia berbalik menuju pintu mobil di sisi Tiyas, lalu mempersilakan Tiyas keluar.

Tiyas keluar dari mobil, ia terlihat makin cantik dengan wajah semeringah seperti itu, senyum nya dikulum, wajahnya memerah saat Adit mengalungkan kalung bunga yang ia lepaskan dari lehernya.

Semua mata tertuju pada Tiyas, ada yang menatapnya sinis, ada yang menatapnya kagum, adapula yang mencibir. Namun dari kejauhan sepasang mata menatapnya dengan tajam.

Adit menggiring Tiyas menjauh dari kerumunan, seolah ia mengerti Tiyas sangat tidak nyaman dengan tatapan yang tertumpah padanya. Adit mengajak Tiyas kembali ke restoran untuk sarapan.

Tiyas berjalan disamping Adit dengan manja dan bangga. Ada rasa nyaman yang menghangatkan jiwanya. Karisma Adit seolah menghipnotisnya melupakan kehadiran Menik dan Ihang yang ia tinggalkan di restoran.

Sesampainya di restoran, langkah Adit terhenti, melihat Dirga yang berdiri menyambutnya.

"Sedang apa Kau di sini?" tanya Adit pada pria berjanggut tipis di depannya.

"Assalammualikum, Mas Adit" sapa Dirga seraya meraih tangan kanan Adit kemudian membungkukkan punggung dan kepalanya menempel ke tangan Adit.

Tiyas, bergantian menatap dua pria tampan di depannya. Ia mereka-reka siapa yang sedang menyalami Adit.

Adit mengernyitkan dahinya, wajahnya terlihat tegang melihat kehadiran Dirga. Ia melempar pandangannya pada Ihang, mata elang itu, membuat Ihang tidak nyaman. Ihang menunduk membenamkan kepalanya. Ia memejamkan matanya sembari menarik napas dalam. Kemudian berlahan mendekati Adit dan Dirga.

"Bisa Anda jelaskan semua ini?" tanya Adit Tegas, matanya tajam menatap Ihang seolah ingin mengulitinya, bibir tipisnya merapat, namun napasnya tetap stabil dan tenang.

"Saya yang memanggil Mas Dirga ke sini Pak!" ujar Ihang, sembari mengangguk dan tetap menunduk.

Adit melempar tatapnnya pada Dirga yang mencoba untuk tetap Tenag. Kemudian Tiyas pun tak luput dari mata elang itu. Tiyas yang tidak tahu apa yang sedang terjadi tampak bingung melihat sikap ke tiga pria gagah didepannya.

Pak Andre mencoba mencairkan suasana, lalu mengajak keempat insan itu duduk di saung restoran. Sesaat Adit bergeming, namun saat ia sadar Tiyas belum sarapan, ia pun masuk dan duduk di saung restoran. Makanan yang ia pesan sudah dingin, diliriknya Tiyas yang terlihat semangat memandang makanan di depannya. Nampak dari raut wajahnya ia sudah lapar.

"Sudah dingin" ujar Adit sembari melirik Tiyas.

Namun sepertinya Tiyas tidak peduli, rasa lapar diperutnya membuatnya tidak sabar ingin menyantap makanan yang terhidang di meja.

"Tiyas lapar, Mas Adit, biarin deh dingin" jawab Tiyas seraya mendekatkan nasi goreng di depannya. jemari panjang dan lentik itu, segera menyambar sendok dan garpu di depannya, lalu makan dengan lahap.

Adit menatap Tiyas, gejolak di hatinya semakin tidak menentu dengan kehadiran Dirga. Sepertinya ia mulai menerka-nerka siapa gadis yang ia panggil Tiyas itu. tangannya meraih air mineral yang masih tersegel di depannya, kemudian meneguknya.

"Mas Adit gak makan?" tanya Tiyas seraya menghentikan makannya.

"Saya sudah sarapan dari ruimah" jawab adit berdalih.

Setelah rasa lapar diperutmnya hilang, Tiyas menghentikan makannya, ia kikuk karena tidak ada yang menemaninya makan.

Ihang meminta Pelayan restoran membersihkan meja, lalu mengganti dengan pesanan yang baru.

"Dirga, apa gadis ini yang kamu maksud?" tanya Adit menatap Dirga dengan lekat.

Dirga menarik napas dalam, matanya beradu dengan mata saudara lelakinya itu. Berlahan ia mengangguk.

Tiyas yang memperhatikan Adit dan Dirga mencoba mempertajam telinganya, seolah khawatir ada kalimat yang terlewat. Namun suasana menjadi hening, Menik yang duduk disebelah Ihang, metap Tiyas dengan pandangan  haru.

Akhirnya Tiyas menyadari dialah topik pembicaraan Adit dan Dirga. Ia melempar pandangannya pada Ihang, mencoba menyelidiki dari pria yang membuatnya patah hati itu. Lalu bergantian menatap Adit dan Dirga.

"Adakah sesuatu yang tidak saya ketahui?" tanya Tiyas menatap  Ihang, Adit dan Dirga secara bergantian.

"Tiyas, kamu tidak mengenaliku?" tanya Dirga sembari menatap Tiyas, sesaat kemudian segera menundukkan pandangannya.

Tiyas menatap Dirga dan mencoba mengingat ingat wajah Asing di depannya. Lalu menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa mengingat apapun tentang sosok Dirga didepannya.

Lalu Dirga mengeluarkan sebuah boneka barbie yang tampak usang. Tiyas terbelalak melihat boneka yang diletakkan Dirga di meja, spontan ia meraih boneka itu.

"Mas Gaga... Pekik Tiyas sembari menutup mulutnya. Lehernya seakan tercekik yang membuat dadanya sesak. Lalu pandangannya tertuju pada Adit.

"Mas Adit...Raditya Pratama.." bisiknya hampir tak terdengar.

Adit menarik napas dalam, guratan kecewa terlukis diwajahnya.

"Wening Tiyas,... "bisiknya dalam hati, kemudian bangkit dari duduknya lalu berlalu meninggalkan Tiyas, Dirga dan teman temannya, langkahnya begitu cepat sehingga kali ini tidak ada yang bisa mencegahnya.

Bersambung


gambar: Pixabay




  







17 comments:

  1. Replies
    1. ikuti terus kelanjutannya ya mbak, makasih sudah mampir.

      Delete
  2. Siapakah Dirga? Apakah dia kembar dengan Adit? Aduh, aku semakin penasaran ajaaa ... Kira-kira nanti Tyas berakhir ke pelaminan sama yang mana, ya? Ealah, udah bahas pelaminan ajeh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar, Mak...
      pelan pelan ya, Aku semedi dulu, haha...

      Delete
  3. Tyas dan pria-pria yang mencintainya.
    Bukan Tyas Mirasih ini kan ya?
    Duh Mbak Ati bikin saya makin menjadi-jadi penasarannya :)

    ReplyDelete
  4. Aku kok jadi ngabayangin ikut balapan itu ya, gak pusing tah si tiyas, hihii.n lanjut Bun ceritanya...

    ReplyDelete
  5. Semakin menarik dan mulai banyak konflik nih. Aduh tyas kayaknya primadona. Siapakah laki-laki bernama dirga ini?

    ReplyDelete
  6. Tyas menjadi rebutan para lelaki, jadi siapa yang akan dipilih?
    ditunggu ceritan selanjutnya, ya, mbak :)

    ReplyDelete
  7. Tyas begitu mempesona nih, para lelaki hebat di sekitarnya, jadi makin penasaran sama ceritanya. Lanjutkan mbak��

    ReplyDelete
  8. Wuih, ceritanya Tiyas jadi primadona nih. Mantap.Cuma aku mengalami kebingungan di beberapa paragraf. Kayaknya butuh pelan-pelan dan mengulang dari part sebelumnya.

    ReplyDelete
  9. Aku kalau jadi Tyas itu seneng atau engga yah? Jadi rebutan, kakak adik pula. Waahah, galau deh. Btw...udah rada lupa uy, kisah sebelumnya. Kayaknya harus di klik ini part sebelumnya...

    ReplyDelete
  10. Wow, balapan pake Ferrari euy si Adit. Tajir melintir ini mah. Cocok buat Tiyas. Saya jagoin Adit, deh. Hehe

    ReplyDelete
  11. Saya nggak mau jadi Tyas ah, bingung mau pilih yang mana.
    Tapi saya bingung nih, ada beberapa part yang lepas dari ingatan saya. Mesti klik lagi nih cerita sebelumnya.

    ReplyDelete
  12. Hihi jdi primadona ya si Tyas. Seneng tapi bingung yooo...
    Ditggu mb ceritanya, mupeng lnjutnnya...

    ReplyDelete
  13. Kepo nih gimana dengan Tyas selanjutnya ditunggu aaah part selanjutnya

    ReplyDelete
  14. Kebayang serunya naik mobil balapan terus menang, asyiknya Tyas ya

    ReplyDelete
  15. hmm... kelanjutannya gimana ya? sesuai dugaan gak yaaa

    ReplyDelete