Jakarta In Love Part #5




Setelah pintu terbuka, Ica mengajak Tiyas masuk, walau ragu Tiyas melangkah masuk ke dalam rumah, seketika Tiyas mundur, ia tercengang dengan apa yang ia lihat. Rumah yang lebih mirip istana itu sedang mengadakan pesta narkoba. Di sebuah sofa mewah, duduk seorang pria berwajah tampan sedang menghisap sabu sabu, ditemani dua gadis cantik yang duduk di sampingnya.

Di sudut ruangan sebelah kiri, 3 lelaki dan 2 wanita sedang menyuntikkan cairan ke dalam tubuh mereka melalui urat vena di lengan. Tampak wajah wajah sakau menghiasi pemandangan isi rumah tersebut. Namun sepertinya Tiyas terlambat untuk mundur, Ica menarik tangannya seraya tersenyum.

"Pliss, Ca, Gue mau pulang" Kata Tiyas berbisik ke telinga Ica. Ica tidak menggubris ucapan Tiyas, ia malah mencengkram tangan Tiyas dan menariknya memaksa masuk.

"Hai, Mas Adit" sapa Ica ramah pada lelaki tampan yang duduk di sofa itu.

"Hai Ca, Masuk! Sama siapa, Lo?" Tanya Adit sambil menoleh ke arah Tiyas.

"Ohiya, kenalin, Mas, ini Tiyas teman kuliah Aku" jawab Ica dengan manja, sembari memeluk dan menempelkan pipi kanan dan kirinya pada wajah Adit.

"Halo Cantik, sini gabung, yuk!" sapa Adit pada Tiyas.

Menyadari dirinya dalam bahaya, Tiyas mencoba untuk tetap tenang, ia mendekati Adit lalu duduk disebelah Ica. Barang barang menyesatkan itu terhidang dengan bebas di meja tamu, sepertinya Ica sudah terbiasa menggunakan barang haram itu, nampak dari caranya memindahkan cairan dalam ampul kedalam spead. Tiyas menatap Ica dalam diam. Matanya terpejam saat melihat jarum  menembus kulit Ica.

"Mau coba, Yas?" tanya Ica sambil mendekatkan satu ampul heroin dan sebuah jarum suntik pada Tiyas.

Tiyas menggeleng sembari melotot dan menggeser duduknya menjauhi barang haram itu. Adit tersenyum melihat tingkah Tiyas yang sejak awal telah menarik perhatiannya. Tubuh Ica melemas, ia berdiri dan berjalan gontai menuju sofa di sudut kiri ruangan, lalu terkulai lemas. Tiyas tampak gelisah matanya nanar menatap sekeliling. Adit menggeser duduk dan mendekat pada Tiyas, seraya memberi kode pada lala dan Gita untuk menyingkir.

Adit memandangi Tiyas dengan senyuman manis. Jantung Tiyas seolah berhenti berdetak, jika bisa memilih ia ingin segera menghilang di telan bumi. Penyesalan muali terukir diwajahnya, bening bening air mata mulai menetes berlahan membasahi pipinya yang putih bersih.

"Kamu ingin keluar dari sini?" tanya Adit, seolah bisa membaca isi hati Tiyas. Berlahan Tiyas mengangguk dengan wajah memelas. Adit beranjak dari duduknya, lalu mengambil kunci mobil dari dalam laci.


"Yuk!, Aku antar Kamu pulang" segera Tiyas berdiri dan berjalan mengikuti pemilik rumah itu.

"Mas Adit, Saya pulang sendiri saja" kata Tiyas saat Adit ingin menyalakan mobil Alfard yang terparkir di altar taman. Seolah tak mendengar, Adit membuka pintu mobil sembari memberi isyarat pada Tiyas untuk masuk ke dalam mobil. Walau tidak ingin, namun Tiyas tak kuasa menahan langkahnya menuju mobil. Tak lama kemudian, Mobil meninggalkan tempat itu.

Dari kaca spion Tiyas melihat sebuah mobil Innova dengan plat polisi yang sangat ia kenal mengikkuti dari belakang.

"Sedang apa mas Ihang di sini?" bisiknya dalam hati. Ingin rasanya ia turun dan berlari ke mobil Ihang, namun ia khawatir akan menyeret Ihang dalam masalah besar. Tiyas memilih diam, pasrah mengikuti kemana Adit akan membawanya pergi.

"Tiyas, temani Aku makan sebentar, boleh?" tanya Adit, sopan.Tiyas yang memang sangat lapar, menganggung berlahan.

Adit melaju dengan kecepatan tinggi, lima menit kemudian mereka sudah sampai di Citos Jakarta Selatan. Adit memakai jasa vale untuk memarkirkan mobilnya. Saat tiyas ingin turun dari mobil, Adit menahannya.

"Hei, tunggu sebentar, jangan turun dulu!" ujarnya sambil menatap wajah Tiyas penuh pesona.

 Lalu ia segera turun dari mobil, setengah berlari ia mengitari depan mobil menuju pintu mobil tempat duduk Tiyas. Dengan lembut ia membuka pintu, tanpa sentuhan ia mempersilakan Tiyas turun dari mobil. Dada Tiyas berdesir mendapat perlakuan dari Adit, Andaikan ia tidak melihat Adit menghisab sabu sabu di rumah itu, mungkin hatinya akan berbunga bunga. Sekilas Tiyas melihat mobil Ihang yang baru memasuki gerbang Citos.

"Mas Ihang" bisiknya dalam hati, seraya berpaling dan mengikuti langkah Adit.

Ditengah keramaian Mall, ingin rasanya Tiyas melarikan diri menghilang ditengah kerumunan pengunjung, namun entah mengapa kakinya enggan untuk menjauh dari Adit.

kamu sudah baca yang ini Jakarta In Love Part#4

Sesampainya di restoran yang dituju, Adit mempersilakan Tiyas duduk, pengusaha muda itu menarik kursi untuk Tiyas lalu merapatkannya kembali saat Tiyas akan duduk. Bak seorang ratu, Tiyas duduk dengan anggun. Tak lama berselang seorang pramusaji datang menghampiri dan menyerahkan album menu makanan. Adit mulai mencari menu yang akan dipesan, sementara Tiyas hanya diam tanpa menyentuh album menu didepannya.

"Saya pesan wagyu steak sirloin satu" kata adit pada pramusaji, lalu ia menatap Tiyas yang tepat di depannya. Melihat Tiyas yang tidak memilih menunya, ia segera inisiatif memesan makanan untuk gadis berhidung mancung yang baru merebut hatinya.

"Dua, ya, mbak" pesannya pada pramusaji, ia juga memesan minuman untuk mereka berdua. Setelah pelayan restoran itu kembali meninggalkan mereka, Adit mencoba mencairkan suasana.

"Kamu kenal Ica di mana,  Yas?" tanya Adit hati hati.

"Kami Kuliah di kampus yang sama, Mas" jawab Tiyas singkat. Adit menganggukan kepalanya tanda mengerti.

"Aku tahu Kamu gadis baik baik, hanya saja aku heran, kenapa Kamu bisa bergaul dengan Ica? Kamu sedang butuh uang?" tanya Adit menyelidik.

Tiyas merapikan duduknya, terlihat ia salah tingkah, tangannya sibuk merapikan rambut hitam yang bergelombang di bagian ujung rambutnya.

"Atau jangan jangan... lagi patah hati?" selidikt Adit membulatkan matanya pada Tiyas.

Perasaan Tiyas semakin tidak menentu, Malu, takut, sedih, semua beraduk menjadi satu. Tidak ada sepatah kata yang terucap dari bibir tipisnya, selain air mata yang kembali tergenang di kelopak matanya. Sementara hidung dan pipinya memerah bagaikan tomat matang.

Adit mengetuk meje memainkan jemarinya seolah mengikuti irama, seakan bisa merasakan kegalauan gadis di depannya.

"Jangan hancurkan dirimu dalam kegelapan, Nona! Belum terlambat untuk kembali"

Kata kata Adit bagaikan angin surga yang membelai lembut wajahnya, namun tidak mampu mengobati luka di hatinya. Ia benar benar tidak siap dengan rencana pernikahan Ihang dan Menik. Namun perhatian Adit membuatnya merasa nyaman, terlihat wajahnya mulai melemas, perasaan kalut saat di rumah Adit tadi mulai menguap dari ingatannya.

"Mas Adit juga sepertinya bukan lelaki kasar" tandas Tiyas mengejutkan Adit.

"Hahaha" Adit tertawa sejenak

"Tiyas, kalau saja pandang pertama kita bukan di rumah itu..." Adit menghentikan kata katanya, ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya berlahan.
Dua orang pramusaji mengantar pesanan mereka, lalu menata meja dengan pesanan.

"Masih ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya pramusaji tersebut.

"Tidak, terimakasih" jawab Adit sembil mengangkat tangan kanannya.

"Adit menggeser pesanan Tiyas, lalu merapikan duduknya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap terlihat semakin maco dengan kaca mata hitam tergantung di kerah bajunya kaos putih yang dikenakannya.

Tiyas menyantap makanan di depannya, rasa lapar yang sudah sampai puncak kepalanya menepis sejenak sakit di hatinya. Adit tersenyum menatap Tiyas yang mulai sibuk memotong Steak di depannya.  Adit mengambil magkuk mirip lampu aladin yang terlihat mewah dengan warna silver di dekat Tiyas, lalu menuangkannya ke dalam hot stone di depan Tiyas.

Bagai tuan puteri, Tiyas diperlakukan sangat istimewa oleh Adit, walau merasa tersanjung, namun Tiyas mengunci hatinya rapat rapat, rasa nyaman dan takut beradu dalam hatinya.

Setelah selesai menikmati hidangan di restoran itu, Adit mengajak Tiyas nonton film, karena perlakuan Adit yang sangat sopan padanya, ia menganguk setuju.

Kini Tiyas punya tempat pelarian untuk melupakan sejenak rasa perih di hatinya. Adit memberinya perhatian melebihi siapapun yang pernah ia kenal. Namun Anak pertama pemilik perusahaan Elektronik di Jakarta ini, tidak pernah mencoba menyentuh Tiyas. Bahkan ia dengan rela melayani dan memperlakukan Tiyas bak puteri raja.

*
 Di tempat lain, Menik terlibat pembicaraan serius di rumah pak Andre, bening air mata menetes berlahan dari pelupuk matanta.

"Mbak Wita, tolong sampaikan pada pak Andre batalkan rencana walimahan ini!" ujar menik berurai air mata.  Wita memeluk Menik, mengusap kepala yang terbalut hijab coklat dengan penuh kasih sayang.

bersambung. 

gambar: pixabay














10 comments:

  1. Aku udah baca tadi pagi, yuhuuu ... Padahal hari Jumat kemarin kutungguin, lho. Tulisan ini di part lanjutan terasa lebih bagus dibandingkan di awal. Mulai terasah nih, Mak.

    Lanjutkan ya karena aku menanti, lho ...

    ReplyDelete
  2. Wah akhirnya yang ditunggu-tunggu realease juga ternyata narkoba toh. Hmm emang si ica dari awal udah keliatan cewek nakal. Kira2 mas adit ini laki-laki baik ga yah. Penasaran kenapa menik meminta walimahannya dihentikan. Apakah mas ihang sebenernya menyukai tyas? Hmmm masih teka teki. Ga sabar mba nunggu kelanjutannya

    ReplyDelete
  3. Aku lupa inget kisah sebelumnya. Hehe...baca lagi deh...
    Jadi...lanjutannya gimana?...

    ReplyDelete
  4. Bersambung lagi yuhuuu...pengen tahu itu si Adit mau ngapain ya..kepo kebangetan...

    ReplyDelete
  5. Jadi penasaran, si Adit benaran baik atau ada udang di balik batu, ya?

    ReplyDelete
  6. gak pake lama lanjutannya ya mak..

    ReplyDelete
  7. Hm, jadi penasaran nih, gimana Adit yang sebenarnya. Jangan-jangan....

    ReplyDelete
  8. Wah, saya ketinggalan yang part 4.
    Konfliknya mulai seru, nih.
    Duh, kenapa Menik minta batal, ya?

    ReplyDelete
  9. Hihi ... jadi penasaran nih, endingnya kira-kira seperti apa ya?

    ReplyDelete
  10. numpang share ya min ^^
    buat kamu yang lagi bosan dan ingin mengisi waktu luang dengan menambah penghasilan yuk gabung di di situs kami www.fanspoker.com
    kesempatan menang lebih besar yakin ngak nyesel deh ^^,di tunggu ya.
    || bbm : 55F97BD0 || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    ReplyDelete