Jakarta In Love Part #4


Hingar bingar suara musik berpadu dengan gemerlap lampu menghiasi ruang yang terasa begitu asing bagi Tiyas. Ini kali pertama ia memasuki gemerlap dunia malam yang selama ini tak pernah ia bayangkan. Ada rasa cemas di hatinya, namun bayangan Ihang dan Menik terus melekat dalam ingatannya hingga membuatnya kalap.

Ica menarik tangan Tiyas menuju meja bar, dan memesan segelas bir putih, Tiyas, sesaat ragu untuk meneguk minuman di depannya. 

"Hai Nona, nggak pengen icip icip? dijamin deh, kamu akan merasakan nikmatnya surga dunia" bisik Ica ke telinga Tiyas. 

Tiyas melirik ke arah Ica kemudian kembali memandangi Minuman haram itu ditangannya. berlahan ia mulai mencicipi bir putih itu. Sontak saja wajahnya mengkerut, ia merasa hidung dan kepalanya seperti baru disetrum.

" wahaha... emang begitu, Yas, kalau baru pertama mencoba, tunggu sebentar lagi, lo, pasti suka" teriak Ica sembari menarik tangan Tiyas menuju ke bawah sinar lampu yang kemerlapan mengikutui irama musik arembi yang dimainkan DJ.

Ica mulai menggoyangkan tangannya mengikuti alunan musik, ia terlihat malu malu, namun berlahan tubuhnya mulai borgoyang hanyut dalam hingar bingar suasana. Hingga malam semakin larut, Tiyas mulai sempoyongan, Ica tersenyum melihat temannya yang mulai mabuk. Bergegas ia memanggil taxi, lalu mengantar tiyas pulang ke kontrakan barunya. 

*

pagi ini tiyas bangun kesiangan, walau kepalanya terasa pusing namun ia memaksa dirinya untuk tetap berangkat ke kantor. Ia berpacu dengan waktu, kali ini ia memutuskan naik ojek online saja, agar sampai lebih cepat. Sesampainya di kantor, Tiyas segera menuju meja kerjannya. Beberapa pasang mata menatapnya dengan tajam, hari ini Tiyas terlihat sedikit kusut, tidak seperti biasanya yang selalu tampil sempurna. Tidak lama ia duduk, telephone di mejanya berdering. 

"Tiyas, kemari sebentar" tanpa menjawab, Tiyas menutup telphone lalu bergegas menuju ruangan Ihang. 

"Assalammualaikum" jawabnya dengan wajah sinis. 

"waalaikum salam, duduk" jawab Ihang sambil menatapnya dengan tajam. 
 Tiyas duduk di kursi tepat didepan meja Ihang. 
 

"Dari mana saja kamu, jam segini baru sampai kantor?" tanya Ihang dengan wajah ketat. 

"Dari rumah" jawab menik singkat sambil memalingkan wajahnya.

"Kemana Kamu semalam?, kenapa tidak hadir dirapat panitia kemaren di masjid Intirub?" tanya ihang, matanya menatap tajam gadis cantik didepannya. 

"Bisa nggak sih, nggak usah ngurusin urusan orang lain? usil amat, ya?!" jawab Tiyas sebel, bibir tipisnya terlihat merapat dan membulat.

kamu udah baca yang ini Jakarta In Love Part #3

Ihang menghela napas panjang, Tiyas berhasil membuatnya sedih, kalut dan bingung dirinya. Ia kehabisan kata kata, pria tampan yang juga CEO di perusahaan tersebut, menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi hitam yang empuk di belakangnya, tangannya memijat mijat batang hidungnya yang mulai memerah sambil memejamkan mata. 

Tiyas melirik puas, senyuman tips sinis terukir di wajahnya. Lalu ia bangkit dari duduk dan meninggalkan ruangan Ihang. 

Ihang menatap punggung tiyas hingga lenyap dibalik pintu. Segera ia menghubungi Sadeq, kali ini ia meminta pemuda yang baru saja hijrah itu untuk mengikuti dan mengawal Tiyas.

*

Malam ini, Tiyas kembali janjian dengan Ica, pergi ke club malam. ia menggunakan style sedikit terbuka, walau ia menggunakan Celan panjang namun ia kombinasikan dengan blous kuning dengan leher lebar yang memperlihatkan belahan dadanya. Dari kejauhan sepasang mata menatapnya dan mengikuti. 

Kali ini Tiyas tidak lagi kaku seperti sebelumnya, Ia kembali meneguk minuman yang akan membuat salat nya tidak bernilai selama empat puluh hari. Ia kembali larut dalam alunan musik disko yang dimainkan oleh DJ.Sesekali ia kembali ke meja bar untuk meneguk minumannya. Hingga kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya. sebelum tubuhnya ambruk ke lantai, Sadeq menangkap tubuhnya, lalu memopongnya kedalam sebuah mobil. Setelah merebahkan Tubuh Tiyas di kursi tangah, Sadeh segera meminta Ihang untuk datang ke lokasi.

Tak lama menunggu Ihang segera datang, ada rasa kesal di hatinya melihat ulah Tiyas. Segera Sadeq dan Ihang mengantar Tiyas ke kontrakannya. 


Pagi ini cuaca mendung, langit terlihat kelam, sekelam hati Tiyas yang baru saja bangun tidur. Ia bingung dengan keberadaannya di rumah, ia menduga Ica yang telah mengantarnya pulang seperti malam sebelumnya. Ia tersentak dari lamunanya saat dering panggilan masuk di handphone nya berbunyi. 

"Tiyas, ntar sore kita jalan yuk, kerumah teman gue, ada party seru, loh! Kita malam mingguan di sana" Ujar Ica bersemangat. 

" Oke, Gue ikut ya" jawab Tiyas singkat, ia kembali memeluk gulingnya dan melanjutkan tidur. 

*
"Assalammualikum Tiyas, woi buka pintunya donk!" Ica menggedor rumah Tiyas, tak lama berselang, Tiyas membuka pintu dan mempersilakan Ica masuk. 

"Astaga, yas, Lo, belum mandi?" tanya Ica dengan mata melotot melihat Tiyas yang masih menggunakan baju tadi malam saat mereka ke club. 

"hee... Gue ketiduran, Ca, bentar, ya, Gue mandi nggak lama kok" Kata Tiyas sembari menuju kamar mandi. 

Setelah hampir satu jam bersiap siap Tiyas dan Ica segera berangkat. Ica melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena jalanan masih lengang. 

"Ca, Gue lapar nih, kita beli makan sebebtar, yuk!" Kata Tiyas.

"Duhh, ntar kita ketinggalan , Non! Bentar lagi kita nyampe kok, di sana tuh banyak makanan, Lo mau makan apa aja bebas!" Jawab Ica dengan semangat berapi-api. Tiyas menghela napas panjang menahan perih diperutnya karena dari tadi malam ia belum makan nasi. 

 "Yuk, Yas, Kita udah nyampe" kata Ica sambil melepas sabuk pengamannya. Tiyas mengikutinya dan segera keluar dari mobil. Matanya tajam menatap sekeliling, terlihat sebuah rumah mewah dan megah di depannya.

"Permisi Pak, Kami mau izin masuk, ini undangan dan kartu pengenal saya" kata Ica seraya menyerahkan sebuah kartu undangan dan KTP miliknya pada satpam dari balik pintu pagar besi yang tinggi menjulang. Setelah di cek, satpam pun mengizinkan mereka masuk. 

Pintu pagar pun dibuka, terlihat halaman luas membentang, di pojok sebelah kiri terdapat kolam renang dengan genangan air biru memenuhi isi kolam. taman nan indah dah patung patung eksotik menghiasi setiap sudut taman. 

Ica menarik tangan Tiyas yang terlihat ragu untuk masuk. Ica membuka pintu rumah yang lebih mirip seperti pintu istana itu. Seketika Tiyas mundur, ia tercengang degan apa yang ia lihat. 

bersambung

sumber gambar: Pixabay

15 comments:

  1. Aduh si tiyas galau sih boleh. Tapi kenapa dia malah ke hal2 yang ga diperbolehkan Allah yah. Duh makin gereget nih cerita lanjutannya mbak. Aku tunggu2 banget kek baca teenlit hihi

    ReplyDelete
  2. Waduh saya hari ubeg ubeg ini dari part 1. Penasaran dong masa udah baca yg part 4. Menarik banget mbak lanjutkan ya😍😍😍

    ReplyDelete
  3. Tiyas tobat tiyaaas, duh kira-kira tiyas akan kembali seperti dulu enggak ya? jadi penisirin sama ceritanya nih.

    ReplyDelete
  4. Apa yang dilihat Tyas?..apa yang bikin dia tercengang? Duh...eling , nduk!

    ReplyDelete
  5. Walah Tiyas...amit²...sayang bener kelakuan kok gitu...
    Nah...apa nih kelanjutannya...

    ReplyDelete
  6. Apakah ini semacam Jakarta undercover? Ahhhh tidak!!! Buruan sadar napa, Tyass???

    ReplyDelete
  7. Jadi penasaran....apakah kejutan-kejutan berikutnya? Lanjutttt, mba..

    ReplyDelete
  8. Duh, Meniknya kemana nih? Semoga Tyas segera sadar. Please, masih banyak cinta di luar sana yang bisa diperoleh tanpa harus menenggelamkan diri ke lembah yang curam... *halah.

    ReplyDelete
  9. Waah..Tiyas, kelakuannya begitu sih. Eling dunk..haha

    ReplyDelete
  10. Wadaw, masih bersambung lagi, yaaa
    Cuss menunggu

    ReplyDelete
  11. kayaknya ada yang salah deh mbak, kan Ihang lagi samaTyas, kenapa kok ada Menik? Hehehe

    ReplyDelete
  12. numpang share ya min ^^
    buat kamu yang lagi bosan dan ingin mengisi waktu luang dengan menambah penghasilan yuk gabung di di situs kami www.fanspoker.com
    kesempatan menang lebih besar yakin ngak nyesel deh ^^,di tunggu ya.
    || bbm : 55F97BD0 || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    ReplyDelete