Jakarta in Love Part #1



“Alhamdulillah, rapat hari ini selesai, tolong semua koordinator sosialiasikan hasil rapat ini ke tim nya masing masing” Kata Ihang menutup pertemuan koordinator Tim baksos yang akan segera berlangsung di masjid jamik, Intirup. 

 Menik, Dimas, Tiyas, dan sadeq, bergegas merapikan laptop, HP, notes, dan peralatan tulis mereka masing masing. 

“Menik, kita beli makan dulu yuk, aku lapar, nih” kata Tiyas 

“apun deh, Tiyas, kamu makan melulu, bukannya tadi udah makan siang, ini masih jam empat, udah lapar lagi?” kata Menik sambal nyengir. 

“Nik, kita kan habis rapat, stok lemak gue berkurang nih, oleng gue” 

“Astaghfirullah, Tiyas, minum obat cacing gih” 

“Menik, pliss deh” wajah tyas mengkerut 

“wahahah… duh, ukhti solehah jangan marah donk, cuma bercanda kok”  Menik merangkul pinggang Tiyas. 

Kedua sahabat itupun menuju warung mie ayam Mantab langganan mereka. Walau tempatnya nyempil dipinggir kali namun, tempatnya asyik untuk nongkrong bagi anak muda. Karena tepat disebelahnya ada fotokopi dan warnet, jadi mereka tidak perlu repot repot ngeprint hasil rapat dan sekalian di fotocopy untuk disebar ke tim. Kosan mereka juga tidak jauh dari sini hanya berjarak sepuluh meter yakni tepat di seberang kali. 

“Assalammualaikum” 

Suara itu membuat menik tersedak, segera ia menyambar teh manis dingin di depannya. 

“waalaikum salam” jawab Menik dan Tyas hampir tak terdengar, mereka membenamkan wajahnya dalam dalam, keringat hangat bercucuran di punggung Menik jantungnya berdegup kencang, membuatnya sulit melanjutkan menyantap mie ayam kesukaannya. 

“Bu, Mie ayam nya tiga ya” kata Ihang sambil mengambil kerupuk jangek di dalam kaleng biru.
Ihang, Sadeq dan Dimas kini tepat berada di depan mereka. 

“Duh, salah posisi, nih” batin Menik.
 Untungnya Sadeq dan dimas membelakangi mereka, jadi Menik dan Tiyas masih nekat menghabiskan mie ayam di depannya, walau terasa kekurangan oksigen karena jantung berdetak kencang seperti gendering yang mau perang.

Diam diam Tiyas memasang telinganya dan konsentrasi penuh mendengarkan obrolan para Ikhwan di depannya, sambal sesekali melirik kearah tiga lelaki yang terlihat cuek pada mereka. Menik menendang kaki Tiyas, menyadari Menik mengetahui aksi curi pandangnya, Tiyas tersipu sembari menundukkan kepalanya. 

Kejadian sore itu, menjadi sejarah indah yang terekam manis di memori Menik dan Tiyas. Dikamar yang berukuran tiga kali empat meter itu menjadi saksi bisu, melihat keduanya tidur saling membelakangi dan tersenyum manja pada dinding ungu muda yang dihiasi dengan bunga tulip putih dalam keranjang mungil yang tergantung rapi. 

“Nik, Kamu mikirin apa?” suara tiyas memecah keheningan kamar. 

“Mikirin masa depan” jawab Menik singkat dan transparan. 

“Kamu mikirin mas Ihang ya” selidik Tiyas yang kini tidur terlentang sambal menatap bintang bintang yang bertaburan di atap kamar kosannya. 

“Kamu mikirin siapa?” tanya Menik balik

“Aku mikirin …. Ada deh..” timpal tiyas sambil memiringkan posisi tidurnya lagi. 

“Yas, Kamu mikirin Mas Ihang juga ya?” tanya Menik sangat berhati hati.

“Sudahlah Ukhti soleha, jangan mikirin laki laki yang belum halal bagi mu, mending kita tidur, besok pagi kita harus berangkat ke kantor”  Tiyas menarik selimutnya dan berusaha memejamkan matanya.

*

“Tiyas, tolong kamu hubungi klien kita yang di mampang, bilang pada mereka kalau barang yang dipesan akan segera dikirim” Perintah Ihang sambil berlalu dari hadapannya. 

“Siap akhi” sahut Tiyas nyaris tak terdengar. Pipinya merona, senyumnya mengembang tipis sambil melirik Ihang yang semakin menjauh darinya. 

Tiyas sudah lama memendam perasaan pada Ihang, walau sekuat apapun usahanya untuk menjauhi bekas kakak kelasnya itu, namun tak disangka kini mereka bertemu dalam sebuh kantor. Bahkan dalam sebuah aktivitas. Tiyas tidak pernah mau bercerita kepada Menik kalau Ihang adalah kakak kelasnya dulu dan sekarang menjadi atasannya. Ia tidak ingin membuat Menik cemburu, walau perasaannyapun terluka saat tahu Menik menaruh hati pada Ihang.

Menik tersadar dari lamunannya saat smartphone nya berdering, sebuah pesan dari Menik, Tiyas segera membaca pesan tersebut. 

“Tiyas, tau nggak barusan mas Ihang wapri aku” Tiyas menarik napas dalam, kemudian membalas pesan Menik.

“Duh, yang dapat wapri…, bahagianya..” Balas Tiyas 

“sssttttt…” balas Menik 

“Nik, nanti di kosan cerita ya, aku masih hectic nih di kantor” balas Tiyas mengakhiri waprian itu.
Tiyas meletakkan smartphone nya, dan melanjutkan pekerjaannya. 

*

“Assalammualaikum, ukhti soleha” sapa Tiyas saat memasuki kamar, terlihat Menik yang masih mengenakan seragam dinasnya duduk di atas Kasur sambil memangku laptopnya. 

“Waalaikum salam, hai Ukhti soleha, baru nyampe jam segini, dari mana aja?” tanya Menik

“Biasa lah, Nyari makan” jawab Tiyas singkat

“Enak banget ya punya badan kayak kamu, makan seberapa banyak juga nggak gemuk gemuk, kebayang deh kalua aku yang makan kayak gitu, nih badan udah jadi gentong kali” ujar Menik sambil memandangi Tiyas yang mulai melahap gorengan yang dibawanya. 

“udah, makan aja, nggak usah brisik” jawab Tiyas sambil mengoles saus cabe pada bakwan yang ia pegang.

“Tadi mas Ihang wapri apaan, Nik?” tanya Tiyas sambil menikmati gorengannya. 

“Besok suruh bawain data peserta baksos yang sudah terkumpul ke masjid” jawab Menik datar

“Ya Allah, jadi Cuma gitu doang, Elu wapri gue?” mata Tiyas melotot pada Menik yang cengir mendengar pertanyaan Tiyas. 

“Yas, menurut, Kamu kira kira siapa ya gadis yang beruntung itu, soalnya tadi nggak sengaja aku dengar dari mas Sadeq kalau mas Ihang mau taaruf” tanya Menik pada Tiyas yang berhenti mengunyah seketika.
“Yas, Kalau tiba tiba akhwat yang beruntung itu adalah aku…” suara Menik menghilang mata mereka saling beradu tajam.

baca yang ini yukJakarta In Love Part #2
bersambung

17 comments:

  1. Halah .diputus di sini
    Bikin penasaran saja Mbak
    Duh taaruf sama siapa ya, Menik atau Tyas yaa...Kepoo saya!!

    ReplyDelete
  2. Terinspirasi juga nih jadinya mbak seperti lisahku antara Jakarta - Papua

    ReplyDelete
  3. Walah siapa yah kira-kira yang bakalan ditaarufin. Tiyas apa menik yah. Atau akankah ada sosok lain yang membuat mereka berdua patah hati hehehe bun kok jadi aku yang cerita wahaha

    ReplyDelete
  4. Hyaah bikin kepo aja iih, tyas atau menik ya, hmmm... Pokoknya semoga happy ending lah...

    ReplyDelete
  5. Menarik mbak ini ceritanya. Mas sadeq ini ganteng sholeh gitu ya, trus jadinya nanti taarufan sama siapa ini. Penasaran

    ReplyDelete
  6. Duh endingnya bikin penasaran, siapa ya yg kira2 bakal dipilih buat diajak taaruf, tyas atau menik hmmhh.. ayo mbak..ditunggu episod selanjutnya hhe

    ReplyDelete
  7. Wuih, wuih, wuih ... Jadi ikutan nebak-nebak nih siapa yang mau ditaarufin. Tapi belum ada clue sih, ya. Karena interaksi antara Ihang-Tyas dan Ihang-Menik sama-sama tipis. Kalau gitu ditagih aja deh, "Kapan lanjutannya tayang?"

    ReplyDelete
  8. Wah bikin penadaran nih ceritanya mbak, apa Tyas atau Menik ya, ditunggu cerita lanjutannya��

    ReplyDelete
  9. Wah, bisa pecah perang dunia nih kalau si Mas memilih salah satu dari dua gadis yang memujanya. Kira-kira si Mamas pilih siapa, ya?

    ReplyDelete
  10. Iiih kok bersambung sih, kan saya jadi penasaran.
    Kira-kira siapa yang dipilih Mas Ihyang? Ah tunggu saja kelanjutan ceritanya. Jangan lama-lama ya...

    ReplyDelete
  11. Ide ceritanya bikin inget pas saya jadi personel remaja masjid dulu, hehe. Lanjut, Mbak...
    Kalau bisa self editingnya juga, ya :)

    ReplyDelete
  12. Mbak narti pinter bikin cerpen juga rupanya😍😍😍

    Menunggu lanjutannya ya mbak

    ReplyDelete
  13. Waduhhh dicut, hihi...ditggu dh lnjutannya ya mba. Bikin penasaran...��

    ReplyDelete
  14. Aaaaakkkhh... gemes deh, siapanih nih pilihan Ihang? Tyas kah? Atau Menik? Atau ada gadis lain?

    ReplyDelete
  15. numpang share ya min ^^
    buat kamu yang lagi bosan dan ingin mengisi waktu luang dengan menambah penghasilan yuk gabung di di situs kami www.fanspoker.com
    kesempatan menang lebih besar yakin ngak nyesel deh ^^,di tunggu ya.
    || bbm : 55F97BD0 || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    ReplyDelete