Anak Kost

"Astaga, Ca, Lo, makan mie instan terus, ngga bosan apa?" tanya Nadia teman  sekamarku.

"ini bukan masalah bosan, Nad! Tapi ini masalah bertahan hidup. Dari pada gue mati kelaperan, mending makan mie instan," jawabku sembari menyantap menu rutinku.

Nadia memandang takjub, mungkin dia belum pernah melihat orang makan mie selahap diriku. Untung ada Mie instan, coba kalau tidak, dengan cara apa aku berhemat. Puasa  Nabi Daut, rutin, bahkan sering nyambung ke puasa senin kamis.

Uang bulanan yang dijanjikan ayah, hanya dikirim tiga bulan pertama di awal kuliah, setelah itu, ayah tidak pernah mengirim lagi. Jadi aku harus bisa membiayai semua kebutuhanku. Untungnya aku dapat beasiswa, jadi masih bisa  bertahan hingga semester emapt ini, doakan saja semoga aku bisa bertahan hingga  selesai kuliah.

Aku tidak mau merengek memohon uang bulanan pada ayah. Kalau memang ayah dan bunda ingin membiayai hidupku, tidak perlu aku menelphon berkali kali. Sudah pernah aku menghubungi ayah, panggilanku tidak diangkat. Nelphon bunda, aku rasa keadaanya akan sama.

Masih terekam di memoriku saat pamit berangkat ke Surabaya, rasanya aku tidak ingin  kembali ke rumah itu. Saat itu, ayah membaca koran dan bunda menikmati jus buahnya di teras. Aku berdiri di hadapan mereka untuk berpamitan, tapi sikap mereka datar saja, tidak berbalas dengan sedih di hatiku, atau aku memang tipe ceuwe melow. Ah, sudahlah. Mengingat itu hanya membuat hatiku sakit.

Untungnya, Aku diterima menjadi guru privat di salah satu bimbel, walau hasilnya tidak banyak, tapi cukuplah untuk bayar kost dan biaya hidup sehari-hari. Kadang aku cari tambahan dari megerjakan tugas teman teman. Memiliki uang, membuat mereka punya hak untuk berkata malas. Tapi ini menjadi sumber rezekiku. Berapa pun uang yang mereka beri sebagai upah, aku sangat berterimakasih.

"Alhamdulillah, kenyang," ucapku sembari mengelus perut. Nadia menggeleng, ia juga pemakan mie instan sejati, tapi tidak sepanatik diriku. Palingan kalau uang bulananya habis buat lisptik atau beli barang barang lain, baru lah, akhir bulan makan mie instan terus. Xixi ... Nasib anak kost, kalau tidak pandai pandai mengatur keuangan, perut bisa keroncongan.

"Ca, liburan semester ini, ikut gue ke Bali, yuk."

"Ngapain?"

"Cari duit lah. Jangan kira lo bisa makan tidur gratis nebeng gue."

"Etdah, segitunya. Btw, gimana cara nyari duitnya? Eh, tapi Gue nggak mau angkat rok ya."

"Tenang, Cuy, angkat rok atau tidak, itu tergantung kesepakan lo sama klien."

"Heh, maksud, Lo"

"Ca, Lo kan cakep, tampang unik, laku, lo, jadi lady escort."

"Apaan tuh lady escort?"

"Elah, gugling donk!"

"Ngga punya kuota, nyalain donk hotspot, Lo, xixi.... "

"Asem, gue lagi yang yang kena. Lady escort itu ceuwe yang dibayar untuk nemenin seseorang. Semacam penggembira gitu, deh." ujar Nadia berpikir keres, sampai-sampai keningnya berkerut.

Aku tertegun sejenak, khawatir pekerjaan itu berhujung di tempat tidur. Karna aku sudah bertekad akan menjaga kado pernikahan ini untuk suamiku kelak. Dialah yang berhak membukanya, paling tidak, aku tidak punya beban moril saat malam pertama.

"Woi, bengong lagi." Sebuah bantal mendarat di wajahku.

"Ntar dulu, Kupret! Gue ngeri kejeblos."

"Gue nggak maksa, Cuy, terserah lo. Kalo seteju besok pagi ikut gue berangkat ke Bali."

"Hem, tau aja lo Nad, gue lagi kepepet duit. oke deh, Gue setuju."

"Nah, gitu donk, semangat! Satu bulan ini kesempatan lo cari duit yang banyak, biar ngga ngutang mulu sama gue."

"Iya, Neeek." jawabku mendayu.

Aku melengos mendengar ocehan Nadia. Mulutnya memang lemes, tapi hatinya baik. Cuma dia yang sanggup tinggal sekamar denganku. Dulu sebelum bertemu dengannya, hampir setiap bulan aku pindah kost, nyari yang mau sekamar denganku. Tapi baru satu bulan semua pada kapok. Mungkin mereka ngga kuat sama kelakuanku yang super irit. Kadang malah nebeng mereka. Cuma Nadia yang tahan aku gerecokin, walau mulutnya nyap-nyap, tapi dia tidak pernah menyembunyikan makanan ataupun barang-barangnya. Kadang shampoku habis saat tidak punya uang seribu rupiah saja. Dari pada mencium aroma apek, ia rela shampo nya kupakai. Paling dia cuma teriak, dasar koret! Haha ....

*

"Nad, uang gue cuma cukup buat sekali jalan tanpa makan. Jadi karna lo yang ngajak, lo harus tanggung jawab sama perut gue."

"Setdah, punya temen kere amat."

"Ntar gue ganti kalo ada duit."

"Dua kali lipat."

"Anjir, lintah darat!"

Setelah menempuh Perjalanan sekitar 10 jam  kami pun tiba di pantai Gilimanuk.

"Yuhui ... I coming Bali ...."

Aku melompat kegirangan. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di pulau dewata. Kuhirup udara pantai yang segar, angin berhembus lembut menyapu wajahku. Nadia mengajakku ke rumah bos-nya. Entahlah, setauku dia belum bekerja, kenapa bisa punya bos? Bodo ah, yang penting gue nebeng.

Nadia menyetop taxi, setelah taxi berhenti, kami pun bergegasi masuk. "Bang, Nusa Dua, ya." Ujar Nadia memberi instruksi. Taxi segera membawa kami menusuri jalanan. Sesekali aku tersenyum simpul, tidak pernah terpikir sebelumnya aku tiba di pulau indah ini. Saking hikmadnya menikmati perjalanan, sampai-sampai aku tidak sadar kalau kami sudah sampai di tujuan. Kami bergegas turun, Villa Garden Nusa Dua, sebuah tulisan yang dihiasi lampu warna warni sangat menarik perhatianku. Aku mengikuti Nadia yang berjalan lebih dulu menuju lobi.

"Mba, Saya Nadia dari Surabaya, ada janji dengan pak Burhan, bisa tolong panggilkan?" Pinta Nadia ramah.

"Oh, Baik, Mbak Nadia, silakan tunggu sebentar, saya akan panggilkan."

Kami di giring oleh salah satu staff kesebuah ruangan. "Heh, Indah sekali ruangan ini." gumamku dalam hati. Ruangan tertata rapi, sofa putih terkesan mewah seolah mengajakku duduk diatasnya. Mas Herman, staff yang membawa kami ke sini, pamit keluar meninggalkan aku dan Nadia. Aku menatap Nadia, memohon penjelasan tentang semua ini. Tapi bukan jawaban yang kudapat, dia malah tersenyum centil sembari mengangkat kedua alisnya.

Baru saja aku ingin bicara, pintu terbuka dan seorang lelaki paruh baya dengan jas hitam dan berdasi merah, masuk ke dalam.

"Halo, Pak Burhan ...." Ujar Nadia menghampiri, kemudian cipika cipiki. Aku tertegun, salah tingkah, rasanya enggan melakukan hal yang sama.

"Halo juga Nadia, apakabar? Makin cantik aja kamu!" jawab Pak Burhan sembari mencubit genit pipi Nadia. Aku mematung. Lelaki itu melirik ke arahku.

Bersambung
View Post


Lulus PTN

"Yuhuiii, Alhamdulillah ...  aku lolos seleksi masuk kedokteran UI." Kubaca berkali-kali pengumuman hasil seleksi itu, tanganku berhenti di sebuah nama Alisya Putri, iya, itu namaku. Buru buru aku mencari bunda, aku ingin mberitahu kabar gembira ini. Siapa tahu bunda juga senang dan bangga padaku. Kudekati bunda yang sedang menata bunga.

"Bun, Ica lulus kedokteran UI," ucapku semeringah.

"Hem," ucapnya acuh.

Rasa bahagia itu perlahan meredup, tidak ada reaksi yang berarti dari bunda. Ia masih sibuk dengan rangkaian bunganya.

"Kamu pikir jadi dokter itu mudah? Sekolahnya juga mahal, ayah dan bunda tidak sanggup membiayai kamu kuliah kedokteran. Lagi pula, kamu nggak cocok jadi dokter, kamu itu cerobah,  bisa bisa sakit orang bertambah parah setelah kamu obati. Udah, deh, jangan yang ngak-nggak, Bunda lagi sibuk."

Deg, kata kata bunda, bagai belati yang menusuk uluhati. Perlahan, aku mundur dari hadapannya, lalu menjauh dan kembali ke kamar.

Kusandarkan tubuh ini di pintu kamar  setelah menutupnya rapat, cita cita menjadi dokter sepertinya hanya mimpi belaka yang takkan mungkin terwujud. Aku teringat  PMDK yang kudapat, mungkin lebih baik aku mengambil PMDK itu, pasti  biayanya lebih murah.

Nanti malam aku harus bicara pada ayah dan bunda. Kulipat kembali amplop formulir lapor diri itu. Tak ingin membuang waktu, kurapihkan kamarmu yang berantakan. Sudah tiga hari aku belum mencuci dan menyetrika baju. Walau ada Bik Inah, urusan kamar, cuci baju, setrika, bahkan cuci piring bekas makanku menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Bi Inah keberatan mengerjakan pekerjaan itu, menurutnya jika tidak ada penambahan gaji, berarti tidak ada penambahan tugas.

Sibuk dengan pekerjaan, adalah cara efektif menghabiskan waktu tanpa terasa. Kini malam sudah tiba. Seperti biasa, makan malam adalah waktunya kumpul keluarga. Aku duduk disamping Mbak Dela, ia selalu mendominasi percakapan. Ada saja cerita yang ia bawa pulang dari kampus. Mas Rendy lebih slow, hanya sesekali ia membahas bisnis batubara yang ia lakoni. Setelah semua selesai makan, aku memberanikan diri bicara.

"Yah, Ica lulus kedokteran UI." ujarku ragu-ragu.

Ayah melirik ke arahku. "ohya?" Tanyanya memastikan. Aku mengangguk pelan. Kulirik bunda, wajahnya tidak bersahabat.

"Bun, besok Dela harus beli buku anatomi dan beberapa buku lainnya. Transfer  lima belas juta ke rekening Dela ya, Bun."  ucap Dela memecah keheningan.

"iya, nanti bunda transfer."
Jawab bunda manis.

"Jangan lupa, loh, Bun! Dela mau ke kamar, masih banyak PR yang harus Dela kerjakan."

"Rendy juga mau keluar sebentar, Bun, Yah, ada urusan dengan teman."
Tanpa menunggu jawaban, Mbak Dela dan Mas Rendy meninggalkan meja makan. Aku masih duduk menunggu. Aku masih berharap sambutan ayah positif. Hening. Beberapa detik kemudian, ayah meninggalkan meja makan, lalu beralih ke ruang tv yang diikuti oleh bunda. Aku tertegun sejenak, tak tahu harus apa. Sayup sayup aku mendengar percakapan ayah bunda.

Kudekati suara itu, rasa ingin tahuku mengalahkan etika. Aku tahu, tidak sopan menguping pembicaraan orangtua, Tapi aku sangat ingin tahu pembicaraan mereka.

"Yah, Bunda nggak setuju kalau Alisya jadi dokter. Dia itu ceroboh. Ayah masih ingatkan bagaimana dia mendorong Dela ke kolam? Untung Si Inah lihat dan buru buru nolongin, coba kalau tidak? Bunda nggak tahu apa yang tetjadi pada Dela."

"Kejadian itukan sudah lama, Bun. Lagi pula, saat itu Alisya masih kecil, mungkin ia hanya ingin bercanda."

"Ayah selalu saja membelanya, padahal ayah tahu sendiri, sejak bunda mengandungnya ada saja kesialan menimpa keluarga ini. Rendy lah sakit nggak sembuh-sembuh, bahkan ayah sempat selingkuh dengan perempuan lain. Saat melahirkannya, bunda hampir saja mati karna pendarahan. Setelah dia lahir, ayah dimutasi ke Kalimantan. Dan nyawa Dela hampir saja melayang karena ulahnya. Terus kalau dia jadi dokter, lalu pasiennya kenapa kenapa karena kecerobohan dan kesialannya itu, kan kita juga yang kena getahnya, Yah! Pokoknya Bunda nggak setuju kalau dia masuk kedokteran."

"Bunda, sudahlah, walau bagaimanapun, Alisya itu putri kita. Dia lahir dari rahim kamu. Sudah sewajarnya kalau kita mendukung dan mewujudkan cita citanya."

"Yah, Bunda tahu kewajiban kita sebagai orang tua, tapi bunda nggak mau keluarga ini terkena sial lagi karena keberadaannya di rumah ini. Lihat ini, Yah, belum satu bulan dia tinggal bersama kita, tapi sudah bikin Pengangkatan ayah sebagai direktut HRD di cancel. Bunda khawatir, semakin lama dia di sini, bisa bisa, Ayah nggak jadi di angkat."

Lututku gemetar mendengar percakapan mereka, aku tidak ingin jatuh pingsan di sini, perlahan aku menjauh dan kembali ke kamar.

Kuhempaskan raga ke kasur putih yang masih tertata rapi. Rasanya aku tidakk sanggup lagi menahan sesak di dada.  Kubiarkan air mata tumpah membanjiri bantal, aku ingin menangis sepuasku. Agar himpitan itu tidak lama bercokol di dada. Aku tidak rela, perih itu berganti benci, aku tidak sudi, sesak ini berganti dendam. Dia ibuku, wanita yang telah melahirkanku, Aku akan tetap menyayanginya sebenci apapun dia padaku.

Kutarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sejenak aku termangu, terjawab sudah penasaranku selama ini, kini aku tahu mengapa keluarga ini menitipkanku pada Pakde, aku pembawa sial. Jangan jangan, Pakde di PHK dari kantornya akibat terkena kesialanku juga. Oh tidak. Aku tidak akan kembali ke rumah Pakde, cukup sudah aku menyusahkan mereka. Lagi pula aku sudah cukup dewasa untuk bisa menopang hidupku sendiri.

Aku beranjak dari timpat tidur, lalu merapikan barang barang. Kumasukkan semua dalam koper. Aku berhenti saat Bi  Inah memanggil dari luar.

"Non Alisya! disuruh kebawah sama Ibu." ujarnya lantang.

"Iya, Bik, nanti aku turun," jawabku singkat. Bergegas aku menuruni tangga dan menemui ayah bunda di ruang tv.

Tidak ada kata yang keluar dari mulut, hanya diam dan menunduk. Aku berusaha menyembunyikan mataku yang merah.

"Ca, ayah dan bunda sudah diskusi. Biaya kedokteran itu sangat mahal, mbakmu Dela saja belum selesai. Kamu tahu kan kalau Dela kuliah kedokteran di Trisakti? Biayanya sangat mahal. Jadi kalau kamu kuliah kedokteran lagi meski di UI, ayah belum sanggup membiayai kuliah kamu. Jadi kami harap kamu mau mengambil beasiswa PMDK itu. Kamu tinggal saja di Surabaya, kost di sana. Ayah akan rutin kirim uang bulanan kamu.

"Iya, Yah." jawabku singkat, mataku lekat menatap lantai.

"Ya sudah, kalau begitu besok kamu cari tiket kereta, agar segera berangkat ke Surabaya Ini uang buat beli tiket."  Ayah meletakkan uang lima lembar berwarna merah. Kuseret kaki mendekati meja, kupaksa  tangan ini mengambil uang itu, lalu menunduk dan mundur.

"Ica kembali ke kemar, Yah, Bun." ucapku lembut, suaraku parau. Ayah mengangguk. Aku segera berlalu.

Bersambung


View Post


Kembali Ke Rumah 

Kutatap mendali di dinding kamar, bangga rasanya bisa membawa pulang benda itu. Walau hadirnya tidak mampu membawa ayah dan bunda di sampingku, namun bisa memilikinya sudah cukup membuatku bersyukur. 

Besok aku akan membawanya serta ke Jakarta. Kuambil mendali itu lalu memasukkannya kedalam koper. Tak lupa album biru kesayanganku, tersimpan memori masa kecil bersama keluarga ini, keluarga yang telah membesarkanku dengan penuh kasih sayang.

Sejujurnya, jika diizinkan, aku lebih memilih kost dari pada tinggal bersama ayah dan bunda. Entahlah, aku enggan bersama mereka.  Tapi jika aku yang meminta, rasanya kurang sopan. 

"Ca, sudah tidur?" suara bude menyadarkanku. 

"Belum, Bude," sahutku sembari keluar kamar. 

"Dipanggil pakde, mungkin ada yang ingin dibicarakan." 

"njih, Bude." Aku bergegas mengikuti bude lalu duduk disampingnya. Mas Wahyu terlihat murung, sesekali ia menatapku. Pakde manggut-manggut, khas gerakan tubuhnya jika ingin bicara. 

"Ca, Sebelum kamu kembali ke Jakarta, Pakde ingin berpesan. Jika di Jakarta kamu tidak betah dan ingin kembali ke rumah ini, jangan sungkan, datanglah. Pintu rumah pakde selalu terbuka untukmu. Tapi pakde harap, kamu betah di sana. Walau bagaimana pun, itu rumah orangtuamu, disanalah seharusnya kamu tinggal. Bersabar dan maafkan mereka jika kamu merasa diacuhkan. Pikirkan masadepanmu, kuliahmu harus selesai agar kamu bisa mandiri. Yang harus kamu sadari, tidak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya. Dua hal yang paling penting, jika kamu butuh sesuatu, jangan sungkan beritahu pakde dan bude. Insya Allah, kami akan berusaha membantu. Dan jangan pernah tinggalkan shalat." 

Kata-kata Pakde begitu sejuk di hati. Jiwaku yang gelisah terasa tenang. Ada rasa yang membuncah di dada. Sentuhan tangan bude,  membuat mataku berair. Tangan kasar itu membelai rambut dan mendekapku dalam kehangatan. Mas Wahyu keluar, sekilas aku melihat matanya memerah. Sedangkan Pakde tampak tegar. Ia memang sosok yang gagal dimataku. Lelaki paruh baya yang taat beragama, jiwanya teduh, dan penuh kasih sayang. 

*

Aku terbangun saat perutku terasa lapar. Ternyata aku tidur hampir  enam jam. Mungkin karna tadi malam aku tidak bisa tidur. Rasanya aku belum siap tinggal di Jakarta. 

Kupandangi hamparan sawah yang membentang luas, berusaha mencari tau sudah sampai dimana kereta ini membawaku. Cirebon. Hem, masih cukup jauh jarak yang akan ku tempuh. 

Aku berusaha menikmati sisa perjalanan dari Jogja ke Jakarta. Kubuka ragsum yang diberi bude, ada telur asin dan belut goreng kesukaanku. Terkadang aku berpikir, mengapa bukan bude yang melahirkanku? Ah, manusia tak punya daya untuk memilih dari rahim mana ia akan keluar. 

Tenggorokanku terasa tercekik, setiap kali ingat bunda, wanita yang melahirkanku. Entahlah, rasa apa yang Ada di hari, sulit kuceritakan. Bench tapi rindu. Sering aku menagis mendengar perkataan bunda. Mungkin caraku mencari perhatian, membuat ia selalu emosi. Alhasil, bukan perhatian yang kudapat, melainkan umpatan dan sindiran pedas yang membuatku sakit hati. Akhirnya, aku memilih menghabiskan sisa liburan kembali ke rumah pakde. 

Tapi, kali ini aku janji, tidak akan membuat susah mereka lagi. Aku janji, hadirku kali ini tidak akan membuat mereka sadar jika aku ada diantara mereka. Aku janji, tidak akan cemburu  pada Mbak Dela, aku janji, tidak akan sok dekat dengan Mas Rendy dan aku janji, tidak akan mengganggu waktu istirahat ayah dan bunda. 

Kupandangi Handphonku yang tak juga berdering, tidak ada notif pesan masuk. Ah Alisya, bukankah kau baru saja berjanji tidak akan merepotkan mereka?

Kutarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Yap, sesampainya di stasiun pemberhentian nanti, aku naik taksi saja. Uang pemberian Pakde dan Mas Wahyu lebih dari cukup untuk membayar taksi.


"Assalammualaikum," ucapku sembari memencet bel. 

"Waalaikum salam." Bi Inah membukakan pintu, sejenak menatapku kemudian berlalu. Sesaat aku mematung di depan pintu, rumah mewah ini terasa asing bagiku. Sudah dua kali liburan semester, aku tidak berkunjung ke sink. Perlahan aku melangkah masuk. Koper sengaja kuangkat agar tidak mengotori lantai. 

"Bik, yang lain kemana?" Tanyaku mencari tahu. 

"Loh, memangnya Non Alisya tidak diberitahu?" 

Aku menggeleng, memelas jawaban darinya. 

"Hari ini, Bapak di angkat menjadi direktur HRD di perusahaannya jadi, ibu, Non Dela, dan Den Rendy semua merayakannya, mereka makan di restoran. Harusnya saya juga ikut makan di restoran mewah itu, tapi karena Non Alisya mau datang, jadi saya disuruh ibu nungguin rumah. Duh, apes banget, deh." 

Aku terdiam mendengar penjelasan Bi Inah, tenggorokanku kembali kering. Segera kutepis rasa perih itu, kubawa koper menaiki tangga satu demi satu. Tak peduli, seberat apa beban yang kuangkat. Aku harus bisa membawanya sendiri tanpa bantuan siapapun. 

Kuhempaskan tubuh ke atas kasur. Langit Jakarta mulai gelap, ada sepi yang menyelinap di sudut hati. Kutarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan, lagi, dan lagi, hingga sesak itu hilang. 

Bersambung

Udah baca yang Alisya Part1
View Post




Namku Alisya, setiap sore aku selalu bermain di pantai ini. Menikmati senja sembari menyaksikan matahari tenggelam. Ada pilu setiap melihat lentera dunia itu terbenam, ada rindu menggelitik yang menyesakkan dada. Ayah, bunda, mengapa aku di sini? 

Ah, sudahlah, pertanyaan itu hanya menambah jeri.  Aku bahagia bersama Pakde dan Bude di desa ini. Walau aku hanya keponakan tapi mereka tidak pernah membedakan aku dengan Mas Wahyu. Bahkan Mas Wahyu juga sangat menyayangiku. Ia lebih perduli dari pada Mas Rendy kakak kandungku sendiri. 

Setelah bola Jingga itu tenggelam, aku berjalan meninggalkan pantai. Belum jauh aku berjalan mataku menangkap dua sosok bule berkacamata hitam, celana seponggol dan memakai kaus putih, berjalan mendekatiku. Ah, bukan mendekatiku, tapi sepertinya kami akan berpapasan. 

Lewat. Semua berlalu tanpa kesan. IQ ku tidak cukup tinggi untuk menemukan cara agar bisa berkenalan dengan mereka, meskipun aku ingin. Kumainkan pasir pantai sambil berjalan, kakiku kreatif membentuk jejak kaki bervariasi mengikuti arahku. 

"Alisya ...." Suara Mas Wahyu terdengar dari salah satu prahu yang berjejer rapi di pantai. Aku menoleh, lalu setengah berlari mendekat. 

"Mas Wahyu mau ke laut?" Tanyaku sedikit berteriak. 

"Iya, Kamu ngapain sesore ini masih di pantai? Ayo Mas antar pulang!" Mas Wahyu berjalan mendekatiku.

"Mas, aku bisa pulang sendiri, Mas Wahyu melaut saja." 

"Tapi kamu janji, ya, langsung pulang ke rumah!"

"Siap, Komandan" 
  
Jawabku meledek, Mas Wahyu menarik hidungku, dia selalu begitu, paling suka narik hidungku. Mas Wahyu berjalan membelakangiku bersiap melaut, bergegas aku melangkah pulang. 

Kakiku terhenti saat melihat mobil Pajero hitam parkir di depan rumah pakde.  Ayah, sedang apa dia ke sini. Biasanya aku yang disuruh ke Jakarta mengunjungi mereka. 

"Assalammualaikum," ucapku memasuki rumah, segera aku menyalami Ayah dan mencium tangannya. 

"Alisya, darimana kamu malam malam begini?" Tanya ayah membuka percakapan. 

"Dari pantai. Ica masuk dulu, Yah, mau mandi," ujarku sembari berlalu. 

"Icaaa, sini dulu, Nduk, Ayahmu kan baru sampai, ngobrol dulu!" 

"Tapi Ica mau mandi dulu, Pakde, bau." aku tak menghiraukan permintaan pakde, buru buru aku masuk kamar dan menutup pintu. Mataku berkaca-kaca, tenggorokanku kering dan perih. Kudekap boneka twiti kesayanganku. Setetes air  jatuh dari kelopak mata, dadaku terasa berat seperti dihimpit batu besar. 

Jangan tanya mengapa aku nenangis, sebab aku tak tahu jawabannya. Setiap kali bertemu ayah dan bunda, dadaku terasa sesak, seperti ada badai yang bergerumuh dan ingin keluar menghantam tenggorokan, mata, dan hidungku. 

Ah, sudahlah. Aku harus segera mandi agar bisa menemani ayah ngobrol. Kuambil handuk yang tergantung di pintu lalu keluar menuju belakang. 

Setelah mandi buru buru aku kembali ke ruang depan tapi sepi, tidak ada pakde dan ayah. Kemana mereka semua? 

Kulangkahkan kaki keluar rumah, mencari tahu keberadaan mereka, tapi nihil, bahkan pajero hitam itu pun sudah tidak ada. Aku duduk di lantai teras,  mataku jauh menembus langit hitam. Sepertinya aku harus menelan kenyataan pahit, ayah ke sini bukan untukku tapi urusan lain. Ah, sudahlah. Mungkin aku tak punya arti apa apa dalam hidupnya. Benar kata teman-teman, aku anak yang tidak diharapkan. 

"Ca, kok bengong di luar sendirian? Pakdemu mana?" Suara bude mengejutkannku, entah darimana bude datang, tiba tiba sudah ada di depanku.

"Eh, anu Bude, tadi ayah datang."

"Lah terus, sekarang kemana?"

"Nggak tahu bude, waktu Ica selesai mandi ayah dan pakde udah nggak ada." kembali tenghorokanku terasa kering, mataku terasa menghangat. Bude mendekat dan memelukku erat. Buliran itu kini tumpah deras membasahi pundak bude

Baca lanjutan yuk Alisya Part2
View Post

Merawat kulit wajah memang susah susah gampang, tapi ada baiknya kenali dulu jenis kulit wajah dan produk sebelum menggunakannya. Jangan sampai pengalaman buruk saya terulang pada kamu, hiks sedih, Chiin!

Aku mau cerita sedikit pengalamanku tentang produk kecantikan.

Dulu, akutu sering pakai produk cream pemutih wajah, padahal wajahku sudah  putih, entah apa yang dicari dulu, hiks, sedih akutu. Mungkin karena ikut ikutan teman, ababil (ABG labil) jadi nggak mikirin efeknya dikemudian hari. Memang sih saat memakai cream tersebut wajah tampak glowing. Tapi enam bulan setelah pemakaian rutin, petaka itupun datang. wajahku memerah dan seperti ada ruam.

Kulit wajah terasa panas, gatal dan juga  sensitif, kena matahari sedikit aja langsung merah kayak kepiting rebus. lalu timbullah semacam ruam dan terasa gatal. Waktu itu sempat konsultasi ke dokter spesialis kulit. Aku disaranin berhenti dulu memakai segala jenis kosmetik, bahkan bedak baby sekalipun selama dua tahun. Kebayangkan kayak apa suramnya wajahku saat itu, kusut dan kasar. Gimana nggak kasar, bintik bintik merah betebaran dipipiku yang cabi, he.

Tapi aku cuma bisa pasrah, membiarkan wajahku netral dulu sesuai saran dokter. Palingan aku bantu makan buah yang bagus untuk kulit. Akutu memang suka pepaya, pisang, jeruk, alpukat dan bengkuang selain mudah didapat harganyapun gak bikin kantong jebol, haha. maklum ya, Gaes dulu akutu anak kost jadi semua harus punya budget sendiri. Tapi buah buahan ini konon bagus buat kulit. Kalau bengkuang sebagian aku makan sebagian lagi aku jadikan masker. Mayan lah Gaes, biar wajah gak suram suram amat. soalnya memakai pembersih wajahpun aku udah gak bisa, ujung ujungnya muncul ruam dan kemerah merahna.

 Sebagai bahan Penelitian Skripsi


Akutu kesel banget sama produk yang aku pakai, penasaran pengen tahu cream yang aku pakai mengandung marcury atau tidak. Akhirnya aku putuskan untuk mengambil beberapa sampel cream pemutih wajah untuk test laboratorium. waktu itu judul skripsi yang aku pilih " Identifikasi Mercury pada Cream Pemutih Wajah di Pasar Petisah Medan" tapi sayang skripsinya nggak bisa saya upload di sini. Udah di cari cari tapi belum ketemu nanti kalo ketemu saya upload ya, Gaes, agar ada bukti yang otentik. Sekarang saya tidak bisa menyebutkan nama produknya takut dibilang hoak, he.

Tiga cream pemutih wajah yang saya identifikasi semua positif mengandung Mercury dan angkanyapun pantastis, cukup tinggi sedangkan kandungan Mercury pada cream pemutih wajah harus 0 (Nol) atau negatif.

Nyesek banget akutu, jadi selama lebih kurang setahun, aku pakai produk yang mengandung Marcury. Apalagi setelah menyelesaikan skripsi yang mau nggak mau aku harus mendalami tentang cairan yang sangat beracun ini, rasanya ngilu banget, hiks.Aku cuma bisa berdoa pada Allah, agar zat tersebut tidak merusak organ tubuhku yang lain, cukuplah wajah yang jadi sensitif.

Bahaya Mercury Pada Kesehatan


Mercury sering dipakai sebagai bahan cream pemutih wajah karena sifatnya yang mampu menghambat pembentukan melanin sehingga wajah tampak cerah dalam waktu singkat. Tapi karena efek yang ditimbulkan mercury sangat berbahaya bagi tubuh, maka pemakaian bahan tersebut pada cream pemutih wajah dilarang oleh beberapa negara.

Mercury bersifat korosif  pada kulit, yang artinya jika  dioleskan ke kulit akan membuat kulit menjadi tipis. Mercury sangat mudah meresap kedalam tubuh melalui kulit yang terpapar. Paparan yang tinggi terhadap Mercury bisa berupa kerusakan ginjal, pencernaan dan sistem syaraf. Selain itu mercury juga beresiko menggangu organ tubuh lain seperti Jantung, otak, paru paru dan sistem kekebalan tubuh.

Bahkan tidak hanya orang dewasa yang beresiko terpapar Mercury dari cream pemutih wajah, anak anak pun bisa terpapar saat jarinya menyentuh wajah orang yang terpapar, lalu menghisap jarinya. Tanda tanda jika anak terpapar dengan air raksa ini ditandai dengan munculnya rasa sakit dan warna merah muda pada tangan dan kaki.

baca juga ketombean? Jangan panik begini cara menghilangkan Ketombe yang mudah dan alami

Tips Mengenali Cream Pemutih Wajah yang Mengandung Mercury


Dari pengalaman aku dan hasil mercury positif yang aku identifikasi di laboratorium, (ohiya, aku lupa bilang kalo saat itu aku adalah mahasiswa Analis Kesehatan) ketiga produk yang positif mengandung cream pemutih wajah tersebut mempunyai ciri fisik yang sama, diantaranya,

1. Lengket

Cream terasa lengket dan pekat saat di oleskan ke kulit. Saat itu aku memang cukup lama meratakan creamnya.

2. Cream Tidak Homogen

kalo diperhatikan di dalam cup atau wadahnya memang terlihat creamnya tidak  terlalu homogen. seperi ada garis, tapi bukan garis nyata, samar gitu, akutu susah bahasanya, he.

3. Bau mercury tercium

Cream yang aku pake saat itu memang berbau khas. Tapi bau cream pemutih wajah yang aku jadikan sampel identifikasi saat itu beda beda. mungkin ada tambahan pewangi yang kuat sehingga baunya berbeda beda.

4. Warna sangat mencolok dan berminyak

5. Cream berkilau

6. jika dipakai, terasa panas

7. Wajah tidak timbul jerawat

8. pusing dan mual

Dari delapan ciri ini, semua saya alami, nomer tujuh dan delapan setelah pemakaian lama baru terasa. Masya Allah. Kalo dipikir pikir betapa jahilnya saya dulu. Semoga teman teman yang membaca blog ini terhindar dari produk yang mengandung mercury. Aamiin.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya Share ke teman teman, tapi mungkin lain waktu ya. Saya mau cari dulu skripsi saya itu, semoga masih tersimpan.

sumber gambar : aryanto dot id
salam

Love Kak Ati



View Post

Sudah pernah liburan ke Taman Matahari Puncak Bogor? Kalau belum, tempat ini bisa jadi daftar sederat wisata lokal yang layak kamu kunjungi. Dijamin seru, loh!
Jika kamu sudah pernah datang ke tempat ini sekitar lima tahun lalu, mungkin kamu ogah balik lagi. karena dulu memang cukup gersang dan fasilitasnyapun sangat minim. makanya saat  wacana acara outing class si kakak ke taman wisata Matahari, saya ragu untuk ikut. Hingga seorang wali murid yang juga guru TK (Taman Kanak-Kanak) memberi info kalau tempat itu sudah jauh berubah.

Banyak fasilitas yang seru dan menarik. Karena penasaran, kami sekeluarga akhirnya ikut, sekalian liburan juga, sih, karena bertepatan dengan libur sekolah.
Kami berangkat dari Cililitan pukul tujuh pagi sampai di sana pukul sepuluh, karena kami sempat berhenti di rest area untuk sarapan. Maklum, ya Gaes, bawa krucil krucil jadi gak sempat sarapan di rumah. Sesampainya di Taman Wisata Matahari, Si Kakak langsung bergabung dengan teman temannya yang sudah duluan sampai. Sebenarnya dari sekolah menyiapkan bus, namun karena satu keluarga ikut, kami membawa kendaraan sendiri. Sebab rencananya kami akan menginap dua hari di puncak. Nantikan review saya tentang penginapan yang kami kunjungi, ya.

Ternyata setelah sampai tujuan, temapat ini sangat berbubah. suasana lebih hidup dan jauh lebih indah. fasilitas yang tersediapun cukup banyak, sehingga tidak heran jika tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata sekolah, komunitas, ataupun perusahaan. Selain tempatnya yang luas tiket masukpun cukup terjangkau yakni enam puluh ribu rupiah, kita sudah dapat free tiga wahana.  Harga tiket ini saat liburan sekolah ya, Gars.

Taman Wisata Matahari yang didirikan oleh Bapak Hari dari Chairman Matahari Group pada tahun 2007, dulunya hanya 16, 5 hektar saja, namun seiring berjalannya waktu dan minat pengunjung semakin tinggi, akhirnya area wisata diperluas menjadi sekitar 40 Hektar. Hebatnya lagi, perluasan area wisata tidak memakai jasa konsultan pembangunan namun, melibatkan masyarakat setempat, untuk membantu perekonomian mereka. 

Ada beberapa wahana yang terdapat di Taman Wisata Matahari, diantaranya: 

1. Matahari Waterpark

2. Arum Jeram 

3. Water Ball

4. Dino Park 

5. Citra Playland

6. Flying Fox

7. Rumah Hantu

8. Taman Wisata

9. Agro Sayur dan Agro Sawah

10. Paddle Boat dan Sepeda Air

11. Perahu Karet dan Perahu Motor

12. Motor ATV dan Wall Climbing

13. Panahan

14. Wara Wiri


Banyak bukan? yakin deh, waktu yang tersedia tidak akan cukup mencoba seluruh wahana. Kami pun sama, hanya mencoba beberapa wahana karena waktu yang tidak mencukupi. Ohiya, jam buka di tempat ini sekitar pukul delapan pagi hingga pukul lima sore.

Mencoba Wahana 

1. Wara Wiri

Diantara wahana yang sempat kami coba adalah, wara wiri. Wahana ini gratis, gaes, sayangkan kalau tidak diambil. Rutenya cukup panjang, jadi pengunjung bisa melihat lihat apa saja yang ada di Wisata Taman Matahari. Setelah itu kami makan dan sholat, sejenak.

2. Perahu Karet
berat ternyata ngajuh prahu, hihi

Petualangan kami lanjutkan dengan perahu karet. Kami minta bantuan petugas untuk membantu  Abinya mengayuh. sebab saya harus jagain krucil. Pas pengen nyoba ngayuh sampan, Masya Allah ternyata berat banget, Gaes. Mana saya sibuk nyingsing gamis, soalnya air masuk ke dalam perahu. Setelah muter muter selama lima belas menit, kamipun menepi.

3. Water Ball
duduk diatas air

Tapi krucil masih belum mau beranjak ke wahana lain, mereka pengen nyobain Water Ball. Tapi kok saya nggak tegel melepas dua krucil di dalam balon. Akhirnya saya nekat ikut mengapung di atas air. Wuiiih, rasanya seperti duduk di atas nutrijel. Dua krucil malah kegirangan nggak mau diam, loncat loncat ingin menggulinggkan balon. Untunglah mereka tidak tahu kalau Uminya takut bergerak, haha..

4. Flaying Fox
tetap meluncur walau takut, he

Si kakak penasaran ingin mencoba flying fox, uji nyali katanya. awalnya saya ragu dia berani meluncur, tapi akhirnya dia meluncur juga, walau berdua. salut deh buat kakak. Tiket untuk sekali naik limapuluh ribu rupiah untuk meluncur berdua dan dua puluh lima ribu jika meluncur sendiri.

5. Panahan
panahan gaya sunnah (kata babang pelatih, haha)

Setelah acara outing Class selesai, rombongan sekolahpun bubar, tapi karena kami masih lanjut ingin mencoba wahana panahan. Ini wahana yang paling saya suka. untuk sewa alat dan panahan hanya di tarif sepuluh ribu rupiah, kita akan diberi sepuluh anak panah. Jika anak panah berhasil mengenai sasaran lingkaran mereh, maka akan diberi bonus lima anak panah. Serukan?

Next, kalau kesana lagi pengen nyobain wahana yang lain. Biasanya kalau ketempat wisata yang paling bikin keki itu, fasilitas toilet, iyakan? Nah, disini nggak usah khawatir, toiletnya banyak, tersedia diberbagai tempat dan bersih. Pokoknya oke lah wisata keluarga di sini. Tamannya indah, dan bersih, hanya saja ditempat parkiran sampah berserakan. sayang ya, Gaes. Semoga kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya segera terwujud. Kalau bersih kan kita juga yang senang, kalau kotor kita juga yang kena dampaknya. 

View Post

Kehadiran ketombe pada kulit kepala sangat mengganggu penampilan. Selain rasa gatal yang bikin tangan pengen nggaruk, juga bikin krrisi pede, he... Bayangin aja saat menggaruk tiba tiba ketombe jatuhan ke baju, apalagi kalu pake warna yang gelap, ketombe akan terlihat dengan jelas. huhu...

Penyebab ketombe


Ada beberapa penyebab terjadinya ketombe pada kulit kepala, yakni:

1. Jarang keramas.
Jika jarang keramas maka jaringan kulit kepala yang mati dan kering akan menumpuk yang akhirnya menjadi ketombe.

2. Terlalu sering keramas
Jika jarang keramas bisa mengakibatkan ketombe, begitupun sebaliknya, jika terlalu sering keramas bisa menyebabkan ketombe. Hal ini terjadi karena rambut tidak punya waktu untuk proses pembuatan minyak rambut agar kulit kepala terjaga kelembabannya.

3. Kulit kering.
Kulit kering tidak hanya bisa terjadi di kepala namun di kulit tangan dan kaki juga bisa terjadi. Kulit kering inilah salah satu penyebab umum terjadinya ketombe.

4. Menggunakan produk shampoo dan conditioner yang tidak cocok
Sebelum membeli produk shampoo dan contitioner sebaiknya kenali dulu jenis kulit kepala kita agar pemilihan produk shampoo dan conditioner tepat.

5. Infeksi jamur malassezia.
Sebenarnya jamur yang bisa hidup dikulit kepala ini jika dalam jumlah sedikit tidak berarti apapun, namun jika jumlahnya berlebihan, jamur ini bisa menyebabkan iritasi pada kulit kepala yang juga menimbulkan ketombe.

Cara Menghilangkan Ketombe

sumber viva
 Ada beberapa bahan alamai yang bisa digunakan untuk menghilangkan ketombe dari kulit kepala, diantaranya:

1. Lidah Buaya
sumber pixabay

Sejak dulu lidah buaya sudah dikenal banyak manfaatnya terutama untuk rambut. Sebab pada lidah buaya mengandung protein, lemak, karbohidrat, kalsium, posfor, vitamin A,C, dan B1. Selain bisa menghitamkan rambut juga akan menguatkan akar rambut, lidah buaya juga menjadikan rambut tampak berkilau. Lidah buaya juga sangat ampuh untuk menghilangkan ketombe.

Cara menghilangkan ketombe menggunakan lidah buaya sangat mudah. Ambil selembar lidah buaya, lalu kupas kulit luarnya, ambil dagingnya lalu haluskan. Kemudian tempelkan di kepala lalu pijat pijat kepala secara berlahan dan merata, biarkan selam 30 menit. Setelah itu bilas dengan air hingga bersih.

2. Daun Sirsak
sumber uplur

 Daun sirsak sangat bermanfaat pada kesehatan tubuh kita. Karena pada daun sirsak mengandung  acetogenin yang merupakan kumpulan senyawa aktif yang memiliki aktivasi sitotoksik atau yang membunuh racun di dalam tubuh. Acetogenin ini bekerja dengan cara menghambat transport ATV (adenosinatrifosfat) atau energi yang dibutuhkan sel kanker untuk berkembang. Ajaibnyanya walau daun sirsak ini sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita, namun sangat beracun bagi serangga atau parasit. Sebab itulah daun sirsak bisa digunakan untuk mengusir kutu dan ketombe.

3. Jeruk Nipis 
sumber pixabay

Jeruk nipis menganduung vitamin C yang tinggi selain itu juga mengandung vitamin dan protein serta lemak. Kandungan vitamin C yang terdapat pada jeruk nipis akan merangsang pertumbuhan akar rambut. Jadi jeruk nipis bisa digunakan untuk menumbuhkan rambut yang mengalami kebotakan. Selain itu jeruk nipis juga berkhasiat membasmi ketombe.Cara menggunaakannyapun sangat mudah yakni peras jeruk nipis lalu campur dengan air, pijat pijat sebentar, kemudian beiarkan beberapa menit, lalu bilas dengan air.

4. Minyak keemiri
sumber liputan 6

Bukan rahasia lagi jika minyak kemiri mampu menyuburkan rambut. Namun ternyata minyak kemiri jugaa bisa menghilangkan ketombe secara alami tanpa merusaak rambut. Caramanyapun sama dengan menggunakan jeruk nipis, diborehkan lalu tungggu beberapa meniit kemudian bilas.

5. Minyak zaitun.
sumber bukalapak

Minyak zaitun juga berkhasiat menghilangkan ketombe. Cara menggunakannya sama dengan  minyak kemiri.

Nah, itulah 5 bahan yang mampu menghilangkan ketombe pada rambut secaraa alamai. Kelima bahan ini tidak hanya menghilangkan ketombe namun juga menyehatkan rambut. Selamat mencoba, ya, sahabat.

View Post