Hari ini Tiyas tampak cantik dengan seragam pagar ayu yang dikenakannya. Warna tembaga yang mendominasi desain aula resepsi pernikahan itu, memberi kesan mewah suasana gedung. Walau persiapan dilakukan hanya beberapa hari namun semua berjalan lancar sesuai rencana. Namun sepertinya Tiyas sedang mencari sosok Adit di tengah berlangsungnya pesta, tapi sayang ia tidak menemukan sosok itu.

Hari pun beranjak malam, kali ini Tiyas sepertinya tidak sanggup lagi menahan jemarinya mencari nomer Adit dalam ponselnya. Namun sayang tidak ada jawaban dari Adit. Tiyas memberanikan diri menghubungi Ica. Namun Ica juga tidak menjawab panggilannya. Rasanya ia sudah tidak sanggup menahan gejolak di hatinya, rasa was-was yang tak berkesudahan. Rasa rindu yang membuncah di dadanya, seolah semua mendorongnya untuk mencari Adit. Tiyas nekad mendatangi rumah Adit.

***

Setelah menunjukkan identitasnya, Tiyas melangkah memasuki halaman rumah Adit. Langkahnya terhenti sejenak, ada rasa enggan di hatinya untuk memasuki rumah. Masih ada rasa takut dan ngeri membayangkan pemandangan di dalam rumah saat pertama kali Ia masuk bersama Ica. Namun keinginannya untuk bertemu Adit membuatnya nekad memasuki rumah mewah itu.

Matanya terbelalak saat mendapati Adit sedang menikmati setiap hisapan sabu sabu didepannya. Tangannya merangkul Ica yang terlihat terkulai lemas dalam pelukannya.

"Mas Adit!" ucapnya lirih

Adit menatapnya dengan tajam. Sebuah senyuman sinis tersungging di wajahnya.

"Mau apa Kamu kesini!" suara Adit yang nge-bas dan parau membuat nyali Tiyas ciut.

tiba tiba jantungnya berdegup kencang, ada rasa tidak nyaman dengan tatapan Adit. ia seperti tidak mengenal tatapan itu. Tatapan tajam dari mata elang yang berwarna merah itu seoalah ingin menelanjanginya.

Adit menekan sebuah remot. Tak lama berselang dua lelaki tinggi tegap datang dari belakang berjalan mendekati Adit. Tiyas menggeser posisi berdirinya, ia meningkkatkan kewaspadaan. Saat Adit memberi kode dengan melirik Tiyas, dua lelaki itu langsung membekap Tiyas, lalu menggotong nya kesebuah kamar.

Tiyas meronta-ronta, namun tidak ada yang perduli dengan jeritannya, tidak ada yang perduli dengan tangisannya. Tubuh Tiyas dihempaskan ke atas ranjang putih yang tertata rapi. Tiyas segera ke sudut tempat tidur menjauh dari dua pria itu. Saat Adit muncul dari pintu, ada rasa lega bercampur was-was. Ia benar benar tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Adit padanya.

Adit berdiri di depan ranjang itu, menatapnya dengan tajam. Kemudian ia menganggukkan kepalanya pada dua bodyguard nya. Dengan sigap mereka segera berpencar. seorang menuju meja lalu mengambil sesuatu dari laci, dan yang satu lagi mendekati Tiyas. Tiyas mencoba mengelak dari cengkraman pria itu, namun sayang tubuhnya tidak cukup kuat untuk melawan.

Tiyas terbelalak saat sebuah cairan dalam spead yang dibawa kawanan pria itu mendekatinya.

"Mas Adit! tolong Saya, Mas! jangan lakukan ini pada Saya!" tangisan Tiyas sama sekali tidak membuat Adit luluh. Ia seolah menikmati jeritan Tiyas yang memohon belas kasihannya.

Tubuh Tiyas merejang saat jarum neraka itu menembus kulitnya. Tubuhnya melemas, dunia seolah berputar, tulang tulangnya tidak sanggup menopang tubuhnya. melihat Tiyas terkulai lemas, kedua bodyguad itu segera meninggalkan kamar.

Adit mendekati Tiyas, lalu duduk tepat disampingnya. Jemarinya bergerak membelai wajah Tiyas yang basah dengan air mata. Tiyas pasrah, ia tidak punya tenaga sedikitpun bahkan hanya untuk sekedar menepis tangan Adit.

Kamu sudah baca yang ini : Jakarta In Love Part#9

Berlahan Adit membuka kancing atas baju Tiyas. Tiyas memejamkan matanya. dalam hati ia pasrah, hanya doa dan penyesalan yang ia panjatkan pada Tuhannya.

"Gadis bodoh! kenapa Kau datang kemari? Kau pikir siapa dirimu?!" suara Adit datar dan dingin.

Tiyas tidak menjawab, tidak ada kata kata yang terucap dari bibirnya. tubuhnya benar benar tidak berdaya mencegah tangan Adit yang melepas satu persatu kancing bajunya.

"Apa salahku Mas? kenapa Mas Adit tega melakukan ini padaku?" suara Tiyas lemah dan parau, masih berharap kebaikan pada diri Adit.

"Tidak ada! Aku hanya ingin mengajakmu bersenag senag! Menikmati dunia ini dengan caraku!"

Tiyas meringis. Ia tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Tiba tiba tubuhnya bergetar hebat. ada hawa dingin menjalar keselur tubuhnya. bibirnya bergetar wajahnya memucat, rasa mual dan muntah yang hebat membuat tubuhnya terguncang guncang. Adit menarik tangannya menjauhi gadis yang lemah di depannya. Adit tidak menduga reaksi tubuh Tiyas terhadap Morfin yang baru disuntikkan.

Adit seperti baru tersadar dari lamunanya, saat menyadari gadis didepannya adalah Wening Tiyas gadis yang sempat menarik perhatiannya. Ia segera mengangkat tubuh Tiyas lalu membawanya setengah berlari keluar rumah. Dua bodyguardnya yang masih menunggu di ruang depan segera membantu Adit membukakan pintu. Seorang dari mereka menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja.

"Cepat! ke rumah sakit!" perintah Adit pada bodyguard nya sembari memangku kepala Tiyas di kursi belakang mobil. Tanpa menunggu lama, Mobil itu segera melaju menuju rumah sakit.

***

Tiyas mendapat perawatan intensif, Tiyas pun masuk ruang ICU karena tidak sadarkan diri. dokter memberi penjelasan bahwa Tiyas sedang dalam masa kritis dan akan berakhir selam dua kali dua puluh emapat jam.

Adit duduk di kursi tunggu depan ICU. Ia meremat rambutnya, lalu berdiri mondar mandir dengan gelisah. Sesekali ia mengepalkan tangannya lalu meniju telapak tangan kirinya. sesekali Ia membenturkan kepalanya ke tiang beton yang berdiri dengan kokoh menghiasi lorong. Sepertinya Adit tidak punya pilihan kecuali menelpon Dirga.

 ***

Hampir saja Dirga melayangkan kepalannya ke wajah Adit, jika tidak buru buru dicegah oleh Andin. Adit tidak melawan sedikitpun. Ia memilih pasrah. dari kejauhan terlihat Ihang, Menik, dan Sadeq berlari mendekati mereka.

"Mas Dirga, bagaimana keadaan Tiyas?" tanya Ihang sembari melirik Adit penuh selidik.

Dirga tidak menjawab pertanyaan Ihang. Ia melengos, lalu duduk di kursi dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Andin menatap pria yang baru beberapa jam lalu menjadi suaminya. Dirga tak ingin membuat Andin bertanya tanya lebih dalam tentang ia dan Tiyas. Dirga mencoba menyembunyikan kekalutannya.


"Mas Dirga, pulanglah, biar kami yang menunggu Tiyas di sini, kasihan mbak Andin, ia butuh istirahat" ujar Ihang

Dirga menarik napas dalam, kemudian ia mengangguk tanda setuju, lalu mengajak Andin pulang.

Adit masih diam membisu, tatapannya kosong. Dinginnya udara malam tak sedingin hatinya yang membeku. Tak ada rasa yang yang bermain di hatinya. tak ada penyesalan, tak ada kebahagiaan, tidak adak kesedihan, semua terasa datar. Tatkala sebuah suara lantunan ayat ayat suci Alquran terdengar sayup sayup ditelingganya, napasnya memburu, darahnya berdesir. bagaikan air panas yang merangsak mengalir mencairkan darahnya yang terasa membeku, memaksa menembus hatinya yang terkunci rapat.

"Hentikan suara itu!!" bentak Adit. Matanya melotot pada Menik, tangannya mengepal, napasnya tersengal sengal.

Menik yang tersentak mendengar bentakan Adit, segera menutup Alquran pocket nya. Lalu segera menyimpannya ke dalam tas. Ihang dan Sadeq meningkatkan kewaspadaannya mengawasi setiap gerakan Adit.

Lalu Adit pergi berjalan cepat menjauh dari ketiga insan yang masih terlihat tegang di sana.
Adit melangkah tak tentu arah, tak ada yang ia tuju selain menjauhi suara yang memekakkan telinganya. Langkahnya terhenti saat ia sadar kini berdiri tepat di depan sebuah mushola mungil.
Sayup sayup terdengar suara lantunan Ayat ayat Alquran mengalir dengan merdu dengan suara yang bergetar menahan tangis.

Adit mengepalkan tangannya, detak jantungnya kembali cepat seolah ingin berlari jauh meninggalkan suara itu. Tapi kakinya bagaikan terpatri kuat tak bisa ia gerakkan. tangannya mengepal kencang, wajahnya memerah. Amarahnya memuncak saat bayangan Tata dan putranya terbalut kain kafan kembali muncul dalam ingatannya.

Ia melangkah mendekati bangunan kecil itu, berlahan ia memasukinya, matanya nanar menatap setiap sudut ruangan yang terukir indah dengan kaligrafi berlafaskan petikan ayat ayat Quran. Ruangan tampak sepi, hanya ada sepasang mata teduh mengawasinya dari sudut ruangan.

Lalu terdengar sebuah iqomat melantun dengan merdu.  Adit mecari asal suara itu. Matanya tertuju pada seorang pria berjanggut tipis sedang berdiri bersiap menunaikan shalat. Adit memandangi dan terus memandanginya, saat tubuh itu rukuk dan sujud pada Tuhannya. Adit berjalan ke sudut belakang mushola. Matanya lekat memandangi lelaki di depannya.

Tiba tiba ada kerinduan yang membuncah di dadanya. Ada lelah yang teramat sangat di hatinya. Ada benci yang tak mampu ia ungkapkan memenuhi setiap tarikan napasnya. Ada kepiluan yang teronggok  disudut hatinya. Semua rasa itu datang memenuhi jiwanya, hingga raganya tak sanggup lagi berdiri menopang tubuhnya yang ambruk terduduk di atas sajadah hijau bermotif kubah itu.

Adit membenamkan kepalanya, kedua tangannya kencang menarik rambutnya. kini ia tak sanggup lagi menahan air matanya. Butiran bening membasahi pipinya. Banyangan Tata, Zidan dan Tiyas berputar putar di kepalnya.

"Aku pembunuh! Aku pembunuh!" bisiknya lirih

Tiba tiba rasa takut kehilangan Tiyas menyesakkan dadanya. Tubuhnya bergetar hebat. Kemudian Ia sujud. Tangannya mengepal dan menghantam hantam lantai yang beralas karpet hijau itu.

"Apa salahku, kenapa Kau permainkan Aku seperti ini?!"

Saat Adit mulai merasa lelah, Pria berjanggut tipis yang baru menyelesaikan shalatnya itu menyentuh pundaknya.

"Akhi, mari salat berjamaah. Kita puji keagunggan Sang Maha Pencipta. Kita bermohon ampun atas dosa dosa yang kita lakukan. Memohon izinNya  menyembuhkan orang orang yang kita cintai. Sesungguhnya kita hanyalah makhluk lemah yang tak berdaya di hadapanNya"

Adit bangkit dari sujudnya, mata elang itu tajam menatap lelaki asing di depannya. Ada rasa enggan dihatinya untuk melangkah menyucikan diri. Namun Ia pun menyadari, Ia hanya makhluk lemah yang tak berdaya melawan takdir Sang Pencipta. yang bisa ia lakukan hanyalah memohon belas kasih dariNya.

bersambung 

 gambar: sehatly


  










View Post

Adit berjalan meninggalkan makam istri dan anaknya. Ada rasa bahagia di hatinya saat ia berhasil menyiksa diri. Ada beban seolah berkurang di pundaknya. Baginya itulah permintaan maaf pada istri dan anaknya. Setiap kali mengenag peristiwa tragis itu, hatinya berontak, marah hingga membuatnya frustasi.

Ia tidak bisa memafkan dirinya. Ia terus berandai. Andai saja saat itu ia tidak menyuruh Tata pulang sendiri, mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi. Mungkin saat ini mereka menjadi keluarga bahagia. mungkin saat ini ia tengah bermain bola dengan Ziddan, anak yang sangat ia tunggu tunggu kelahirannya.
Namun, semua sirna dalam sekejap. Ban depan mobil yang dinaiki Tata, pecah, dan supir pribadinya tidak bisa mengendalikan mobil hingga menabrak mini bus di depannya.

Pak Bejo sendiri tidak mengalami luka parah, namun Tata mengalami pendarahan hebat, saat di larikan kerumah sakit nyawanya sudah tidak tertolong. Sementara Zidan hanya mampu bertahan satu hari karena keracunan air ketuban.

Sebelum melaju mobilnya, Adit menghubungi Ica, agar datang menemaninya di rumah. Ica adalah salah seorang lady escord nya yang paling loyal.

kamu udah baca yang ini Jakarta In Lovo Part #8

***

Di tempat lain, Menik, Tiyas dan Ihang, duduk dalam satu ruangan di rumah Pak Andre. Wita menyiapkan minuman dan cemilan kecil untuk mereka. Tak lama kemudian Pak Andre keluar dari kamar lalu duduk diantara mereka.

Tiyas menggenggam tangan Menik dengan erat. Petualannya tiga hari bersama Adit, mampu merubah rasa di hatinya. Tak adalagi amarah, tak ada lagi cemburu. Kini yang ia ingginkan hanyalah melihat Menik tersenyum.

Mata Menik berkaca-kaca menatap Tiyas yang terlihat tegar. Kini ia yakin, sahabat ceriwisnya itu sudah merelakan Ihang. Menik bisa merasakan ketertarikan Tiyas pada Adit walau ia penasaran siapa yang akan di pilih antara Adit dan Dirga.

"Hei... bengong aja, itu ditanyaain!" ujar Tiyas sembari menyikut Menik

Menik kaget alang kepalang, Ia tidak mendengar pertanyaan Pak Andre.

"Yas, apa kata Pak Andre tadi?" bisik Menik pada Tiyas sembari berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dari mata yang tertuju padanya.

"Pak Andre, Menik nanya, tadi Pak Andre ngomong apa?" ujar Tiyas dengan kencang, membuat Ihang mengulum senyumnya, Pak Andre dan Wita saling melempar senyum lebar. Sedangkan Menik, ingin rasanya ia lari kebelakang dan bersembunyi di balik tembok.

"Tiyaaaas..." suara menik hampir tak terdengar, giginya merapat, matanya melotot, dan jemarinya menyubit pinggang Tiyas, sembari menahan malu.

Tiyas berusaha menahan tawanya yang hampir meledak melihat wajah Menik yang merah bagai tomat. Begitulah Tiyas, gadis periang dan jahil membuat orang disekitarnya selalu bahagia bersamanya.

Setelah hari pernikahan di tetapkan, Ihang mengantar Menik dan Tiyas ke kosan. Menik meminta Tiyas agar malam ini nginap di kosan bersamanya.

Menik berbaring di kasur busa berukuran king size itu. Ia menatap bintang bintang akrilik yang menempel pada langit langit kosan. Hatinya berkecamuk, ada rasa rindu, bahagia, sedih bercampur jadi satu. Menjelang hari pernikahannya, rsanya ingin sekali ia bertemu dengan orang tuanya. Namun ia tidak tahu harus mencari kemana. Ia tumbuh dan besar di panti asuahan Nurul Hikmah. Penjaga panti menemukannya terbungkus kain di depan pintu panti asuhan, tanpa identitas apapun. Hanya sebuah gelang yang terbuat dari logam mulia tertulis nama Menik Pramudita, melingkar di lengan yang terbalut kain bedong.

Sedangkan Tiyas, sibuk memainkan smartphone nya. menggeser naik turunkan layar instagram di tangannya. pikirannya jauh melayang menusuri lorong waktu lima belas tahun yang lalu.

Kenangan masa kecil saat simbok dan bapak bekerja pada keluarga Adit. Orang tua Adit adalah seorang pengusaha elektronik di Jakarta. Bapak menik bekerja sebagai supir dan tukang kebun, sedangkam simbok mengurus rumah, masak dan mengerjakan semua tugas rumah tangga. Tiyas bersekolah ditempat yang sama dengan Dirga. semua keperluan Tiyas ditanggung oleh keluarga Adit.

Tiyas dan Dirga sangat dekat, mereka selalu bersama. Dirga sangat menyayangi Tiyas, ia selalu menjaga Tiyas dari teman temannya yang mencoba mengganggu Tiyas. Tiyas pun sangat manja pada Dirga, ia menganggap Dirga sebagai kakak kandungnya sendiri.

Namun berbeda dengan Adit. Bagi Tiyas, sosok Adit adalah pangeran tampan yang menjadi idolanya. Adit jarang menyapanya, namun sesekali Adit membelikan Tiyas sebungkus coklat silverqueen. Dan itu menjadi momen momen terindah bagi Tiyas. Bahkan jepitan rambut yang pernah dibelikan Adit masih ia simpan rapi di lemari pakaiannya di kampung. Namun sayang, suatu pagi yang cerah, Mami Adit kehilangan cincin berliannya, lalu menuduh simbok yang telah mencurinya.

Karena tidak merasa mengambil, simbok tidak mau mengakui kalo cincin itu ia yang mencuri. akhirnya orang tua Adit emosi dan kesal, lalu mengusir keluarga Tiyas.

Tak terasa Air mata Tiyas merembes membasahi pipinya. Tak pernah ia duka jika akan bertemu lagi dengan Dirga dan Adit.

***

Di rumah Adit tengah berlangsung sebuah party kecil. Obat obat terlarang bergeletakan di sembarang tempat. Adit berusaha menenangkan pikirannya. Ia mencoba menipu dirinya dengan kenikmatan semu. Ica yang setia menemaninya, terlihat mulai menyuntikkan cairan penenang kedalam tubuhnya, lalu terkulai lemas di pojok sudut ruangan.

***

Malam semakin larut. Rembulan tampak malu malu menampakkan dirinya dari balik awan. Hingga sang Mentari pagi mulai beranjak naik kembali ke tahtanya, melaksanakan tugas yang di embannya menyinari bumi.

Pagi ini Tiyas sudah bersiap kembali ke kantor. Wajah teduh nan ceria di balik kerudung pasmina kembali menghiasi wajahnya.

Kini ia tidak lagi menghiraukan Ihang yang lewat di depannya. Ia berusaha menyelesaikan tugas tugasnya yang banyak tertunda. Suasana kantor telihat sibuk dengan rutinitas pegawainnya. Sepasang mata mengawasi Tiyas dari sebuah layar monitor. Dirga mengawasi gerak gerik Tiyas sesekali ia tersenyum melihat tingkah Tiyas yang berecermin di layar komputer memainkan senyuman dari segala sudut di wajahnya, bak selebritis yang sedang melakukan pemotretan.

***

Baru saja Tiyas ingin berdiri meninggalkan kursinya, Dirga sudah berada tepat di sampingnya.

"Yas, Aku teraktir makan, Yuk?"

Tanpa menjawab Tiyas memandangi Dirga tanpa berkedip.

"Nggak usah terpesona gitu! Aku gak tanggung jawab ya, kalau Kamu jatuh cinta"

Tiyas nyengir mendengar ucapan Dirga. Lalu mengikuti Dirga menuju mobil.

"Mas Dirga, sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Adit? Kenapa dia sampai terjerumus pada Narkotika seperti itu?"

"Tanya aja langsung sama orangnya, bukannya Kamu dekat dengan Mas Adit?"

Tiyas menarik napas panjang. Bayangan Adit terus menempel dalam ingatannya.

"Kamu mau makan apa?" pertannyaan Dirga menyadarkan Tiyas dari lamunannya tentang Adit.

"Apa aja" jawabnya singkat

"Bekicot mau?"

Tiyas melotot lalu tersenyum sinis pada Dirga. Dirga menaikkan Alisnya sambil mengulum senyumnya.

"Makanya jawab yang benar dan jelas!" ujar pemuda berkulit Kuning langsat itu.

"Kamu mikirin Mas Adit?" selidik Dirga

"Nggak"

"Gak salah" celetuk Dirga

Tiyas menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.

"Tadinya Aku ingin ngajak Kamu nikah, tapi sepertinya itu hanya jadi mimpi di siang bolong. Sepertinya Mas Adit sudah lebih dulu memikat hati Kamu, Iya kan?"

"Entahlah Mas Dirga, mungkin Tiyas hanya bertepuk sebelah tangan. Tiyas tidak yakin apa yang Tiyas rasakan juga dirasakan oleh Mas Adit."

"Selagi Aku belum menikah dengan wanita lain, Mas Adit pasti akan menjauhi Kamu"

"Kenapa begitu" tanya Tiyas penasaran

"Karena dia peka, gak kayak Kamu. Cuek kayak bebek. Apa perlu Aku teriak pake towa, kalau Kamu adalah cinta pertamaku. Makanya bantu Aku cari jodoh!"

"Mas Dirga, Tiyas kenalin sama mbak Andin ya? Dia adalah sorang dokter yang baru saja menyelesaikan pendidikannya. Orangnya juga baik, ramah, cerdas dan cantik"

"hem, Kamu yang ataur ya pertemuan Kami, Aku ingin secepatnya menikah, kalau bisa minggu depan Kami sudah sah jadi suami istri"

"Uhuk" Tiyas terbatuk mendengar ucapan Dirga

"Mas Dirga buru-buru amat?"

"Ada yang jauh lebih penting dari urusanku, Yas!"

"Apa itu?" tanya Tiyas penasaran

"Mas Adit! Aku tidak ingin dia semakin jauh terseret dalam dunia gelapnya. Cuma Kamu yang bisa nolong Mas Adit, Yas!"

Tiyas menarik napas dalam, ia mulai cemas dengan keadaan Adit.

Bersambung

sumber gambar: iprice








View Post



Udara sejuk meniup dedaunan, melaimbai lembut menari-nari bergelantungan di dahan-dahan ramping. Tiyas menghela napas panjang, hatinya bergejolak, sejuta rasa bergantian mempermainkan perasaannya. Dirga mencoba menahan pandangannya pada Tiyas, gadis yang ia siapkan menjadi pendamping hidupnya. Namun, sepertinya ia mulai ragu dengan semua mimpinya. Gadis idamannya terlibat kasih dengan kakak kebanggaannya.

Walau ia tahu sejak dulu, ketika Tiyas masih tinggal bersama keluarganya. Tiyas sering curi pandang pada Adit  lalu menunduk. Pipinya merah merona menahan malu tatkala tanpa sengaja Adit memergoki lirikannya.

Kini Dirga hanya pasrah dengan pilihan Tiyas. Baginya memberi kebahagiaan pada dua insan yang sangat ia sayangi adalah kebahagiaan tersendiri.

"Jadi selama ini, Mas Gaga yang memberi beasiswa pada Tiyas?"

Dirga menganggukkan kepalanya

"Tapi kenapa Mas Gaga tidak menemui Tiyas?!"

Dirga menarik napas  panjang, ia mencoba mencari alasan yang tepat.

"Aku tidak mau menjerumuskan Kamu mendekati zina!" ucap Dirga datar.

Tiyas tersentak, mendengar jawaban Dirga, tiba tiba dadanya sesak, napasnya tersengal sengal, tenggorokannya mengering. Tangis Tiyas pun meledak. Ucapan Dirga bagai tamparan keras di pipinya. Seakan baru sadar dari amnesia, ia mencoba mengingat kembali dirinya yang dulu.

Seorang muslimah yang aktif berdakwah, kini tergelincir dalam kubangan dunia. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, luka yang terpendam di dadanya yang kini  samar dengan kehairan Adit dan Dirga. Tak ada lagi luka yang perih selain rasa malu, tidak ada lagi sakit hati kecuali penyesalan.

Tiyas tidak berani membuka wajahnya, ia merasa seperti telanjang di depan umum. Menik menggeser duduknya mendekati Tiyas dan mengusap kepala sahabatnya itu.

"Maafkan Aku, Yas, Aku tidak tahu tentang hubunganmu dengan Mas Ihang! Kami sudah membatalkan rencana walimahan itu!" ujar Menik berbisik pada Tiyas.

Tangis Tiyas semakin menjadi, tenggorokannya seolah tercekik, dadanya seperti dihantam sebuah batu besar. Tiba tiba ia merasa bersalah, ia begitu egois pada Menik. Meninggalkan Menik tanpa penjelasan apapun, menghukumnya dalam perasaan bersalah.

Berlahan ia berpaling menatap sahabat dekatnya itu, menatap penuh sesal, kemudian keduanya berpelukan.

"Maafkan Aku, Menik, maafkan Aku begitu egois padamu!" bisik Tiyas terbatah-batah berurai air mata.

"Aku yang minta maaf, Yas, Aku yang tidak peka padamu"

Suasana menjadi hening, Ihang menundukkan kepalanya, Dirga membuang jauh tatapannya, Pak Andre memainkan smartphonnya, sedangkan Sadeq menatap dedaunan yang terus menari.

Tiyas melepas pelukan Menik, lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam. Menik mengambil tasnya lalu menarik tangan Tiyas. Tiyas pasrah pada Menik, ia mengikuti Menik menuju toilet.

"Ganti baju, gih" Menik menyerahkan bungkusan yang berisi gamis, lalu mendorong Tiyas ke kamar mandi. Tiyas tersenyum padanya, sembari menutup pintu.

Tiyas mengenakan gamis pemberian Menik, lalu menutup seluruh Auratnya.

"Masya Allah, temanku sudah kembali seperti dulu!"

Menik segera menyambut Tiyas yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gamis hijau pemberiannya.

"Makasih ya, Nik, udah bawain Aku baju" ujar Tiyas syahdu.

Menik mengangguk dan tersenyum pada Tiyas, lalu keduanya kembali ketempat semula.

Melihat Tiyas kembali menggunakan baju takwanya, Ihang tersenyum lega, begitupun Dirga. Ada rasa senang di hati keduanya, saat melihat gadis pujaannya kembali seperti yang mereka inginkan.

Pak Andre mengajak mereka untuk kembali ke Cililitan, dan mengundang Menik dan Ihang kerumahnya. Menik melirik Tiyas seolah minta jawaban. Tiyas tersenyum tipis sembari menganguk kecil. keduanya mengerti bahasa itu, kemudian berjalan mengikuti Pak Andre dan Dirga sambil bergandengan tangan, sedangkan Ihang dan Sadeq mengiringi dari belakang.

***

Kamu sudah baca yang ini Jakarta In Love Part #7

  Ditempat lain, Adit melaju mobilnya menuju TPU Tanah Kusir, tidak ada yang ingin ia lakukan kecuali menemui almarhum istrinya.

Langkahnya terhenti di depan pusaran wanita yang amat ia cintai, ia duduk disamping pusaran itu kemudian meletakkan setangkai mawar putih, bunga favorit Tata.

"Yang, maafkan Aku ya, sudah dua hari tidak mengunjungimu. Aku sedang tertarik pada seorang wanita. Kamu jangan marah, ya?! Aku kesepian yang! Dua tahun sudah, Kamu pergi meninggalkan Aku, membawa serta calon anak kita. Ini membuatku gila! Aku gila, Yang! Aku Gila..." suara Adit terhenti, ada rasa perih di tenggorokannya. Matanya berkaca-kaca, kemudian belurian bening menetes dipipinya.

Ia memeluk gundukan tanah yang ditumbuhi rumput hijau nan lembut. Kemudian seperti biasa, ia merebahkan tubuhnya sejajar dengan makam istrinya. sesekali Adit menoleh kesebelah kiri, pada sebuah gundukan kecil yang tersemat Bin atas namanya.

Adit memandang langit mendung, awan gelap bergerak berlahan memayunginya. Ia tersenyum seolah menanti siraman dingin yang merendam punggung dan rambutnya.

Adit tertidur, hanya di tengah makam anak dan istrinya ia bisa tertidur dengan lelap. Sesekali dedaunan menampar wajahnya, namun angin kembali membelainya dan mengantar kembali ke alam mimpi. Rintik hujan mulai berjatuhan, awan mulai menumpahkan bebannya, mengguyur tubuh Adit yang terbaring lelap di antara makam anak dan istrinya. Ia terbangun saat hujan tak lagi menghantam tubuhnya.

"Pak, Adit bangun, nanti bapak sakit kelamaan tidur disini, hayuk Saya bantu?!" ucap pak Soleh penjaga makam sembari mengulurkan tangannya.

Adit bangun dari tidurnya, lalu menyatukan wajah dan lututnya, tangannya mendekap erat kakinya, ia meringkuk kedinginan. Pak Soleh memberinya handuk, yang selalu ia siapkan untuk Adit. Sebab ini bukan yang pertama dilakukan Adit.

Adit mengambil handuk pemberian Pak Soleh, lalu berdiri dan melilitkan handuk itu ketubuhnya. Kemudian mengambil payung dari tangan Pak Soleh lalu beranjak pergi.

Bersambung









View Post



Pagi itu kabut tipis menyelimuti kota Sentul, udara sejuk membelai lembut wajah Tiyas. Rambut hitam sebahu bergelombang itu, membuat setiap mata yang memandang akan berdecak kagum. Begitupun Adit, ingin rasanya ia memainkan rambut Tiyas dengan jemarinya, menarik lembut dan meluruskan gulungan rambut hitam nan lembut itu. Namun ia khawatir akan membuat Tiyas tidak nyaman. Adit mengurungkan niatnya, hanya matanya yang memandang takjup pada sosok wanita di depannya.

"Tiyas, andai Kau datang lebih awal" bisiknya dalam hati.

Dari kejauhan terlihat Menik mendekat menuju tempat Adit dan Tiyas. Menik berusaha menahan gejolak di hatinya, ia menarik napas panjang, menahan rasa yang membuncah di dadanya.

"Assalammualikum, Tiyas!" sapa Menik.

Tiyas yang melihat kehadiran Menik, Ihang, Sadeq, dan Pak Andre terperanjak dari duduknya. Ia terkejut sekali dan tidak siap dengan kehadiran mereka. .

"Me...Menik!" sahut Tiyas dengan terbata, matanya terbelalak pada Menik, kemudian bergantian menatap Ihang, Sadeq, dan Pak Andre.

Adit menoleh ke arah Menik, lalu secepat kilat melayangkan pandangannya pada Ihang. Lelaki yang ia kenal cukup dekat, lalu kembali menoleh pada Tiyas dan menatapnya dengan tajam.

Ihang segera mendekati Adit lalu membungkukkan punggungnya seperti sedang memberi hormat.

"Selamat pagi, Pak" sapanya sembari menundukkan pandangannya.

Adit menatapnya dengan tajam, ia diam sesaat sebelum menjawab salam sapa dari Ihang.

"Pagi" jawabnya singkat.

Tiyas terbelalak menatap Ihang dan Adit yang ternyata saling kenal. Matanya silih berganti menatap keduanya.

"Mas Adit kenal dengan Mas Ihang?" tanya Tiyas penasaran

"Apa pria ini yang bikin Kamu patah hati?" timpal Adit sembari menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia tampak begitu tenang dan berwibawa. Alis matanya naik menatap Tiyas yang masih berdiri.

Tiyas memalingkan wajahnya ke samping, mencoba menyembunyikan wajah yang kembali terlihat kusut dan kacau.

Menik, menatap Ihang penuh tanya. Sementara Ihang terlihat kikuk dengan keadaan yang ada, sembari ia memberi kode pada Sadeq. Seolah mengerti apa yang dimaksud Ihang, Sadeq berbalik menuju tempat parkiran.

"Tiyas, apa Kamu belum tahu, kalo Pak Adit adalah owner purusahaan Kita?" tanya Ihang pada Tiyas yang berdiri dengan tegang di sisi kiri Adit.

"Owner perusahaan Kita?" tanya Tiyas balik

Ihang mengangguk dengan wajah tak menentu. Sesekali matanya melirik Adit yang tak lepas menatap Tiyas. Adit berdiri lalu meninggalkan mereka. Ia menuju arena balapan. Tak lama kemudian makanan yang dipesan Adit datang.

Tiyas terduduk lemas, ia menarik napas dalam, lalu kembali berdiri dan meninggalkan Ihang, Menik dan pak Andre. Ia setengah berlari menyusul Adit menuju arena balapan.

Ihang mempersilakan Pak Andre dan Menik duduk. mereka memilih menunggu Adit menyelesaikan balapannya.

"Mas Adit, tunggu!" teriak Tiyas, menghentikan langkah Adit.

Adit berhenti dan menoleh pada Tiyas.

"Mas, Aku ikut ya?" ujar  Tiyas sopan

"Ikut kemana?" selidik Adit

"Ikut balapan" jawab Tiyas singkat

"hahaha... " tawa Adit terhenti ia menarik napas panjang seraya memijat kepala dengan tangan kanannya.

"Yakin, mau ikut?" tanya Adit menegaskan.

Tiyas mengangguk dengan cepat, sorot matanya tajam dan bening menatap Adit, menanti jawaban yang ia harapkan.

Tanpa menjawab, Adit memberi kode pada Tiyas dengan menggerakkan kepala ke arah mobil sembari tersenyum. Tiyas mengulum senyumnya, segera ia menuju ferrari merah yang terparkir di lintasan lomba. Sementara Adit menyapa dan menyalami beberapa rekannya yang siap bertanding dengannya. Beberapa menit kemudian ia menuju mobil lalu memasang sabuk pengaman yang diikuti oleh Tiyas.

"Masih ada waktu jika Kamu ingin turun" ucap Adit sambil melirik Tiyas yang terlihat sibuk melihat ke kanan dan kiri, mengamati para panitia yang sibuk mengambil posisi masing masing.

"Nggak Mas, Saya mau di sini, Saya percaya kok sama Mas Adit" ujar Tiyas sembari melayangkan lirikan matanya pada pria tinggi tegap disampumhnya.

Adit tersenyem mendengar jawaban Tiyas, ia sibuk memaju mundurkan kursinya, mencari posisi nyaman, kemudian menggeser-geser kaca spion depan, kanan dan kirinya. Setelah ia merasa semua sempurna, ia menyandarkan tangan kanannya pada pintu mobil dan memiringkan bahunya, sehingga ia lebih leluasa menatap Tiyas.

"Benar Pria itu yang membuatmu patah hati?" tanya Adit, kembali mengulang pertannyaan yang belum dijawab Tiyas.

Tiyas menggosok-gosok hidungnya yang tidak gatal sama sekali. Tidak ada jawaban yang ingin ia katakan. Namun bahasa tubuhnya membuat Adit tersenyum tipis sembari mengangguk anggukkan kepalanya.

"Oke, siap ya, kita akan segera balapan. Teriaklah sekencang yang Kamu mau" Adit mengulum senyumnya, melihat Tiyas menarik napas dalam.

Tak lama berselang seorang wanita tinggi langsing berpakaian kaos putih dan jeans hitam, membawa bendera hijau kotak kotak hitam. Ia berdiri disisi kiri sejajar dengan garis start. Ia menghitung mundur kemudian meniup pluit dan mengangkat bendera ditanggannya.

Segera Adit dan emapt mobil lain tancap gas, lalu melaju dengan kecepatan tinggi. Tiyas secara  spontan menutup matanya, jantungnya bedetak sangat cepat seoalah ikut berpacu di arena balapan.
Adit konsentrasi penuh mengendalikan mobilnya. Tepat ditikungan Adit menyalip satu mobil yang mendahuluinya. Tanpa sadar Tiyas menjeriat sambil menutup matanya, tubuhnya ikut terhempas kekanan saat mobil Adit berbelok dengan kecepatan tinggi.

Kamu sudah baca yang ini Jakarta In Love Part #6

Setelah jalanan kembali lurus, Tiyas mencoba membuka matanya, namun keadaan itu tidak bertahan lama, mobil Adit kembali berbelok ke kiri dengan kecepatan penuh, menyalip satu mobil lagi di depannya. Kini Adit memimpin balapan diposisi pertama. Tiyas terlihat ngos-ngosan, hormon adrenalinnya terbentuk sempurna. keringat bercucuran membasaghi kening dan punggunggnya. Dinginnya suhu di mobil tak mampu mendinginkan tubuh Tiyas.

Adit melaju mobilnya dengan kecepatan penuh, Ia ingin memberi sensasi baru pada gadis bermata jernih di sampingnya. Lima putaran diselesaikan Adit dengan selamat, ia berhasil mengalahkan empat rekannya.

"Yeeeee... Kita menang!!" terak Tiyas kegirangan saat Mobil Adit memasuki garis Finish.

Adit tersenyum puas memandangi Tiyas yang tampak kegirangan. Segera ia keluar dari mobil dan langsung di sambut pendukungnya dengan semprotan air soda yang menyembur dari botol minuman, meluncur tinggi ke udara memeriahkan suasana, sebuah kalung bunga di kalungkan ke leher Adit oleh wanita yang memegang bendera tadi. 

"Tankyou.." sahut Adit sambil melambaikan tangannya, seraya berjalan mundur menjauhi keramaian itu. Segera ia berbalik menuju pintu mobil di sisi Tiyas, lalu mempersilakan Tiyas keluar.

Tiyas keluar dari mobil, ia terlihat makin cantik dengan wajah semeringah seperti itu, senyum nya dikulum, wajahnya memerah saat Adit mengalungkan kalung bunga yang ia lepaskan dari lehernya.

Semua mata tertuju pada Tiyas, ada yang menatapnya sinis, ada yang menatapnya kagum, adapula yang mencibir. Namun dari kejauhan sepasang mata menatapnya dengan tajam.

Adit menggiring Tiyas menjauh dari kerumunan, seolah ia mengerti Tiyas sangat tidak nyaman dengan tatapan yang tertumpah padanya. Adit mengajak Tiyas kembali ke restoran untuk sarapan.

Tiyas berjalan disamping Adit dengan manja dan bangga. Ada rasa nyaman yang menghangatkan jiwanya. Karisma Adit seolah menghipnotisnya melupakan kehadiran Menik dan Ihang yang ia tinggalkan di restoran.

Sesampainya di restoran, langkah Adit terhenti, melihat Dirga yang berdiri menyambutnya.

"Sedang apa Kau di sini?" tanya Adit pada pria berjanggut tipis di depannya.

"Assalammualikum, Mas Adit" sapa Dirga seraya meraih tangan kanan Adit kemudian membungkukkan punggung dan kepalanya menempel ke tangan Adit.

Tiyas, bergantian menatap dua pria tampan di depannya. Ia mereka-reka siapa yang sedang menyalami Adit.

Adit mengernyitkan dahinya, wajahnya terlihat tegang melihat kehadiran Dirga. Ia melempar pandangannya pada Ihang, mata elang itu, membuat Ihang tidak nyaman. Ihang menunduk membenamkan kepalanya. Ia memejamkan matanya sembari menarik napas dalam. Kemudian berlahan mendekati Adit dan Dirga.

"Bisa Anda jelaskan semua ini?" tanya Adit Tegas, matanya tajam menatap Ihang seolah ingin mengulitinya, bibir tipisnya merapat, namun napasnya tetap stabil dan tenang.

"Saya yang memanggil Mas Dirga ke sini Pak!" ujar Ihang, sembari mengangguk dan tetap menunduk.

Adit melempar tatapnnya pada Dirga yang mencoba untuk tetap Tenag. Kemudian Tiyas pun tak luput dari mata elang itu. Tiyas yang tidak tahu apa yang sedang terjadi tampak bingung melihat sikap ke tiga pria gagah didepannya.

Pak Andre mencoba mencairkan suasana, lalu mengajak keempat insan itu duduk di saung restoran. Sesaat Adit bergeming, namun saat ia sadar Tiyas belum sarapan, ia pun masuk dan duduk di saung restoran. Makanan yang ia pesan sudah dingin, diliriknya Tiyas yang terlihat semangat memandang makanan di depannya. Nampak dari raut wajahnya ia sudah lapar.

"Sudah dingin" ujar Adit sembari melirik Tiyas.

Namun sepertinya Tiyas tidak peduli, rasa lapar diperutnya membuatnya tidak sabar ingin menyantap makanan yang terhidang di meja.

"Tiyas lapar, Mas Adit, biarin deh dingin" jawab Tiyas seraya mendekatkan nasi goreng di depannya. jemari panjang dan lentik itu, segera menyambar sendok dan garpu di depannya, lalu makan dengan lahap.

Adit menatap Tiyas, gejolak di hatinya semakin tidak menentu dengan kehadiran Dirga. Sepertinya ia mulai menerka-nerka siapa gadis yang ia panggil Tiyas itu. tangannya meraih air mineral yang masih tersegel di depannya, kemudian meneguknya.

"Mas Adit gak makan?" tanya Tiyas seraya menghentikan makannya.

"Saya sudah sarapan dari ruimah" jawab adit berdalih.

Setelah rasa lapar diperutmnya hilang, Tiyas menghentikan makannya, ia kikuk karena tidak ada yang menemaninya makan.

Ihang meminta Pelayan restoran membersihkan meja, lalu mengganti dengan pesanan yang baru.

"Dirga, apa gadis ini yang kamu maksud?" tanya Adit menatap Dirga dengan lekat.

Dirga menarik napas dalam, matanya beradu dengan mata saudara lelakinya itu. Berlahan ia mengangguk.

Tiyas yang memperhatikan Adit dan Dirga mencoba mempertajam telinganya, seolah khawatir ada kalimat yang terlewat. Namun suasana menjadi hening, Menik yang duduk disebelah Ihang, metap Tiyas dengan pandangan  haru.

Akhirnya Tiyas menyadari dialah topik pembicaraan Adit dan Dirga. Ia melempar pandangannya pada Ihang, mencoba menyelidiki dari pria yang membuatnya patah hati itu. Lalu bergantian menatap Adit dan Dirga.

"Adakah sesuatu yang tidak saya ketahui?" tanya Tiyas menatap  Ihang, Adit dan Dirga secara bergantian.

"Tiyas, kamu tidak mengenaliku?" tanya Dirga sembari menatap Tiyas, sesaat kemudian segera menundukkan pandangannya.

Tiyas menatap Dirga dan mencoba mengingat ingat wajah Asing di depannya. Lalu menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa mengingat apapun tentang sosok Dirga didepannya.

Lalu Dirga mengeluarkan sebuah boneka barbie yang tampak usang. Tiyas terbelalak melihat boneka yang diletakkan Dirga di meja, spontan ia meraih boneka itu.

"Mas Gaga... Pekik Tiyas sembari menutup mulutnya. Lehernya seakan tercekik yang membuat dadanya sesak. Lalu pandangannya tertuju pada Adit.

"Mas Adit...Raditya Pratama.." bisiknya hampir tak terdengar.

Adit menarik napas dalam, guratan kecewa terlukis diwajahnya.

"Wening Tiyas,... "bisiknya dalam hati, kemudian bangkit dari duduknya lalu berlalu meninggalkan Tiyas, Dirga dan teman temannya, langkahnya begitu cepat sehingga kali ini tidak ada yang bisa mencegahnya.

Bersambung


gambar: Pixabay




  







View Post

Menik membenamkan kepalanya dalam pelukan Wita, kali ini ia tak sanggup lagi menahan gejolak di hatinya. Bayangan Tiyas dan Ihang terus menghantuinya. Rasa bersalah pada Tiyas mebuat sesak di dadanya. Baginya Tiyas adalah sahabat sekaligus keluarga, walau belum lama mereka saling mengenal namun ia sangat menyayangi Tiyas. Kehadirannya dalam hidup Menik memberi arti tersendiri. Bahkan sudah dua kali Menik ikut ke kampung Tiyas. Menik dapat merasakan kehangatan dan ketulusan keluarga Tiyas,  bahkan ia diperlakukan selayaknya anggota keluarga.

Bagaimana mungkin, kini ia sanggup menyakiti sahabat yang sangat ia sayangi. Menik tak bisa menghalau air matanya yang tumpah, membuat kelopak matanya membengkak raut wajahnya terlihat sangat kusut.Wita mencoba menenangkan Menik, mengusap punggung gadis yatim piatu itu.

"Menik, sudah, jangan menangis terus, nanti kita bicarakan baik baik, ya!" pinta Wita dengan suara lembut.

 "Saya tidak tahu harus bilang apa sama Tiyas, Mbak! Kasihan Tiyas, dia pasti sangat menderita karena semua ini!" isak tangis Menik membuat suaranya serak dan terbata bata.

"Assalammualikum" suara pak andre dan Ihang  beriringan mengucap salam.

Menik menahan isak tangisnya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, namun isak tangis itu masih terdengar begitu pilu.

Ihang mengambil posisi duduk di sudut ruangan. ia duduk bersila sembari membungkukkan punggungnya, ia membenamkan kepalanya. Sementara pak Andre langsung menuju kamarnya, tak lama berselang ia keluar dengan membawa sebuah buku catatan dan pulpen. Wita pun segera menghidangkan minuman dan makanan kecil yang sudah ia siapkan.

Setelah membaca doa kafaratul majelis, pak Andre membuka percakapan.

"Akhi Ihang, Saya ingin mendngar langsung dari Antum, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Ada hubungan apa Antum dengan Tiyas?" tanya Andre antusias.

Ihang menarik napas dalam, terlihat raut lelah di wajahnya. Ia memejamkan mata dan merapatkan bibirnya, tangan kirinya menarik narik batang hidungnya yang mancung dan kini mulai memerah.

Kemudian ia menuturkan tentang kisahnya bersama Tiyas, tentang kenangan yang pernah mereka jalani saat SMA dulu, tentang Dirga yang memintanya menjauhi Tiyas, tentang beasiswa dan pekerjaan Tiyas, tentang posisinya di perusahaan yang kini ia pimpin.

Menik menyimak dengan seksama setiap kata yang terlontar dari Ihang. 

"Ukhti Menik, maaf, saya tidak bermaksud merahasiakan apapun dari Ukhti, namun masalah Tiyas ini sangat menyita energi saya" ujarnya mengakhiri penuturan panjang lebar kisahnya bersama Tiyas.

Menik, tak sanggup berkata kata, air matanya kembali tumpah tatkala bayangan Tiyas kembali melintas dalam ingatannya.

"Tiyas, maafkan Aku" jeritnya dalam hati.

"Mas, Ihang maafkan saya, sepertinya rencana walimahan ini tidak bisa kita lanjutkan, Saya tidak akan menyakiti sahabat saya sendiri, apalagi yang tersakiti adalah Tiyas" ujar Menik berurai air mata. Mata indahnya kini memerah dan sembab.

Suasana pun menjadi hening, yang terdengar hanyalah isak tangis Menik yang tak mampu lagi terbendung. Ihang diam seribu bahasa, ia mengerti apa yang dirasakan Menik. jauh dilubuk hatinya, ia juga ingin menunda walimahan yang sudah direncanakan. Ihang sama sekali tidak menyangka kalau Tiyas akan bertindak sejauh itu.

"Kalau memang keputusan Ukhti sudah bulat untuk membatalkan rencana walimahan ini, saya tidak bisa mencegahnya, semua keputusan ada pada Anti" jawab Ihang berusaha untuk tetap tenang.

"Terimakasih, mas Ihang, atas pengertiannya, bisakah saya minta tolong antarkan saya menemui Tiyas, kita bertiga harus bicara, agar tidak ada kesalahpahaman diantara kita" pinta Menik dengan suara tertahan.

udah baca ini Jakarta In Love part #5

Ihang mengernyitkan dahinya, sembari menarik napas panjang, ia bimbang untuk mengajak Menik menemui Tiyas setelah apa yang terjadi dengan Tiyas beberapa hari ini.

"Ukhti, biarkan saya dan Sadeq yang mengawasi Tiyas, saat ini sulit untuk mengajaknya bicara" pinta Ihang dengan hati hati.

"Saya ingin menemuinya, Mas, Tolong pertemukan Kami" timpal Menik memelas.

"Kalau Ukhti memang sangat ingin menemuinya, ikutlah denag saya dan Sadeq besok pagi, kita temui dia rumahnya" ujar Ihang sembari mengeluarkan handphone dan menghubungi sadeq.

"Terimakasih, Mas, besok saya tunggu di kosan" ujar Menik sembari menghapus air matanya.

"Saya Ikut" ujar pak Andre spontan

*

Pagi ini Tiyas tengah bersiap siap menunggu kedatangan Adit yang berjanji mejemputnya. Tiyas sudah berjanji bersedia menemani Adit balapan di Sirkuit Sentul. Tak lama menunggu sebuah Mobil ferrari merah berhenti tepat di depan rumah Tiyas. Segera Tiyas naik, setelah Adit keluar dan  membukakan pintu untuknya.

"Hai... sudah lama menunggu?" sapa Adit, 

"Baru kok, Mas" jawab Tiyas sembari melontarkan senyuman Tipis.

Adit membalas senyuman tipis itu dengan tatapan penuh pesona. Segera Adit membawa Tiyas bersamanya.

Tak lama Adit dan Tiyas berlalu, mobil Ihang mengikuti dari belakang. Menik tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

"Tiyas, kenapa ini jalan yang kamu tempuh untuk melampiaskan sakit hatimu" bisiknya dalam hati. Menik membuang jauh tatapannya menembus kaca Mobil. Kenangan bersama Tiyas silih berganti bermunculan saat mereka bersama bersenda gurau, saat sama sama menghafal ayat ayat suci Alquraan, saat saling kroscek hafalan hadis, membuat hatinya perih, hingga meneteskan buliran bening dari matanya.

Mobil Ihang melaju dengan kecepatan tinggi  mengikuti mobil Adit dari belakang.

Di dalam mobil Adit, terlihat Tiyas tersenyum dan tersipu malu. Adit begitu ramah dan romantis, Bagaikan gadis yang sedang kasmaran, Tiyas hampir melupakan kemelut dihatinya. Ia menikmati celotehan Adit bagaikan sihir yang menghangatkan jiwanya.

Sesampainya di lokasi Sirkuit Sentul, Adit keluar dari mobil lalu bergegas membukakan pintu disisi Tiyas. Tiyas keluar dengan anggun lalu melangkah tepat di samping Adit.

"Kita sarapan dulu ya, Non" ujar Adit sambil mempersilakan Tiyas duduk di kursi. Kemudian ia memilih menu dan memesan untuk mereka berdua. Dari kejauhan terlihat Menik mendekat, kemudian menghampiri Tiyas.

"Assalammualaikum, Tiyas!" Sapa Menik mengejutkan Tiyas. Seketika Tiyas terperanjak dari duduknya. Ia sangat terkejut dengan kehadiran Menik, Ihang, Sadeq, dan pak Andre.

Bersambung

gambar: Pixabay







View Post



Setelah pintu terbuka, Ica mengajak Tiyas masuk, walau ragu Tiyas melangkah masuk ke dalam rumah, seketika Tiyas mundur, ia tercengang dengan apa yang ia lihat. Rumah yang lebih mirip istana itu sedang mengadakan pesta narkoba. Di sebuah sofa mewah, duduk seorang pria berwajah tampan sedang menghisap sabu sabu, ditemani dua gadis cantik yang duduk di sampingnya.

Di sudut ruangan sebelah kiri, 3 lelaki dan 2 wanita sedang menyuntikkan cairan ke dalam tubuh mereka melalui urat vena di lengan. Tampak wajah wajah sakau menghiasi pemandangan isi rumah tersebut. Namun sepertinya Tiyas terlambat untuk mundur, Ica menarik tangannya seraya tersenyum.

"Pliss, Ca, Gue mau pulang" Kata Tiyas berbisik ke telinga Ica. Ica tidak menggubris ucapan Tiyas, ia malah mencengkram tangan Tiyas dan menariknya memaksa masuk.

"Hai, Mas Adit" sapa Ica ramah pada lelaki tampan yang duduk di sofa itu.

"Hai Ca, Masuk! Sama siapa, Lo?" Tanya Adit sambil menoleh ke arah Tiyas.

"Ohiya, kenalin, Mas, ini Tiyas teman kuliah Aku" jawab Ica dengan manja, sembari memeluk dan menempelkan pipi kanan dan kirinya pada wajah Adit.

"Halo Cantik, sini gabung, yuk!" sapa Adit pada Tiyas.

Menyadari dirinya dalam bahaya, Tiyas mencoba untuk tetap tenang, ia mendekati Adit lalu duduk disebelah Ica. Barang barang menyesatkan itu terhidang dengan bebas di meja tamu, sepertinya Ica sudah terbiasa menggunakan barang haram itu, nampak dari caranya memindahkan cairan dalam ampul kedalam spead. Tiyas menatap Ica dalam diam. Matanya terpejam saat melihat jarum  menembus kulit Ica.

"Mau coba, Yas?" tanya Ica sambil mendekatkan satu ampul heroin dan sebuah jarum suntik pada Tiyas.

Tiyas menggeleng sembari melotot dan menggeser duduknya menjauhi barang haram itu. Adit tersenyum melihat tingkah Tiyas yang sejak awal telah menarik perhatiannya. Tubuh Ica melemas, ia berdiri dan berjalan gontai menuju sofa di sudut kiri ruangan, lalu terkulai lemas. Tiyas tampak gelisah matanya nanar menatap sekeliling. Adit menggeser duduk dan mendekat pada Tiyas, seraya memberi kode pada lala dan Gita untuk menyingkir.

Adit memandangi Tiyas dengan senyuman manis. Jantung Tiyas seolah berhenti berdetak, jika bisa memilih ia ingin segera menghilang di telan bumi. Penyesalan muali terukir diwajahnya, bening bening air mata mulai menetes berlahan membasahi pipinya yang putih bersih.

"Kamu ingin keluar dari sini?" tanya Adit, seolah bisa membaca isi hati Tiyas. Berlahan Tiyas mengangguk dengan wajah memelas. Adit beranjak dari duduknya, lalu mengambil kunci mobil dari dalam laci.


"Yuk!, Aku antar Kamu pulang" segera Tiyas berdiri dan berjalan mengikuti pemilik rumah itu.

"Mas Adit, Saya pulang sendiri saja" kata Tiyas saat Adit ingin menyalakan mobil Alfard yang terparkir di altar taman. Seolah tak mendengar, Adit membuka pintu mobil sembari memberi isyarat pada Tiyas untuk masuk ke dalam mobil. Walau tidak ingin, namun Tiyas tak kuasa menahan langkahnya menuju mobil. Tak lama kemudian, Mobil meninggalkan tempat itu.

Dari kaca spion Tiyas melihat sebuah mobil Innova dengan plat polisi yang sangat ia kenal mengikkuti dari belakang.

"Sedang apa mas Ihang di sini?" bisiknya dalam hati. Ingin rasanya ia turun dan berlari ke mobil Ihang, namun ia khawatir akan menyeret Ihang dalam masalah besar. Tiyas memilih diam, pasrah mengikuti kemana Adit akan membawanya pergi.

"Tiyas, temani Aku makan sebentar, boleh?" tanya Adit, sopan.Tiyas yang memang sangat lapar, menganggung berlahan.

Adit melaju dengan kecepatan tinggi, lima menit kemudian mereka sudah sampai di Citos Jakarta Selatan. Adit memakai jasa vale untuk memarkirkan mobilnya. Saat tiyas ingin turun dari mobil, Adit menahannya.

"Hei, tunggu sebentar, jangan turun dulu!" ujarnya sambil menatap wajah Tiyas penuh pesona.

 Lalu ia segera turun dari mobil, setengah berlari ia mengitari depan mobil menuju pintu mobil tempat duduk Tiyas. Dengan lembut ia membuka pintu, tanpa sentuhan ia mempersilakan Tiyas turun dari mobil. Dada Tiyas berdesir mendapat perlakuan dari Adit, Andaikan ia tidak melihat Adit menghisab sabu sabu di rumah itu, mungkin hatinya akan berbunga bunga. Sekilas Tiyas melihat mobil Ihang yang baru memasuki gerbang Citos.

"Mas Ihang" bisiknya dalam hati, seraya berpaling dan mengikuti langkah Adit.

Ditengah keramaian Mall, ingin rasanya Tiyas melarikan diri menghilang ditengah kerumunan pengunjung, namun entah mengapa kakinya enggan untuk menjauh dari Adit.

kamu sudah baca yang ini Jakarta In Love Part#4

Sesampainya di restoran yang dituju, Adit mempersilakan Tiyas duduk, pengusaha muda itu menarik kursi untuk Tiyas lalu merapatkannya kembali saat Tiyas akan duduk. Bak seorang ratu, Tiyas duduk dengan anggun. Tak lama berselang seorang pramusaji datang menghampiri dan menyerahkan album menu makanan. Adit mulai mencari menu yang akan dipesan, sementara Tiyas hanya diam tanpa menyentuh album menu didepannya.

"Saya pesan wagyu steak sirloin satu" kata adit pada pramusaji, lalu ia menatap Tiyas yang tepat di depannya. Melihat Tiyas yang tidak memilih menunya, ia segera inisiatif memesan makanan untuk gadis berhidung mancung yang baru merebut hatinya.

"Dua, ya, mbak" pesannya pada pramusaji, ia juga memesan minuman untuk mereka berdua. Setelah pelayan restoran itu kembali meninggalkan mereka, Adit mencoba mencairkan suasana.

"Kamu kenal Ica di mana,  Yas?" tanya Adit hati hati.

"Kami Kuliah di kampus yang sama, Mas" jawab Tiyas singkat. Adit menganggukan kepalanya tanda mengerti.

"Aku tahu Kamu gadis baik baik, hanya saja aku heran, kenapa Kamu bisa bergaul dengan Ica? Kamu sedang butuh uang?" tanya Adit menyelidik.

Tiyas merapikan duduknya, terlihat ia salah tingkah, tangannya sibuk merapikan rambut hitam yang bergelombang di bagian ujung rambutnya.

"Atau jangan jangan... lagi patah hati?" selidikt Adit membulatkan matanya pada Tiyas.

Perasaan Tiyas semakin tidak menentu, Malu, takut, sedih, semua beraduk menjadi satu. Tidak ada sepatah kata yang terucap dari bibir tipisnya, selain air mata yang kembali tergenang di kelopak matanya. Sementara hidung dan pipinya memerah bagaikan tomat matang.

Adit mengetuk meje memainkan jemarinya seolah mengikuti irama, seakan bisa merasakan kegalauan gadis di depannya.

"Jangan hancurkan dirimu dalam kegelapan, Nona! Belum terlambat untuk kembali"

Kata kata Adit bagaikan angin surga yang membelai lembut wajahnya, namun tidak mampu mengobati luka di hatinya. Ia benar benar tidak siap dengan rencana pernikahan Ihang dan Menik. Namun perhatian Adit membuatnya merasa nyaman, terlihat wajahnya mulai melemas, perasaan kalut saat di rumah Adit tadi mulai menguap dari ingatannya.

"Mas Adit juga sepertinya bukan lelaki kasar" tandas Tiyas mengejutkan Adit.

"Hahaha" Adit tertawa sejenak

"Tiyas, kalau saja pandang pertama kita bukan di rumah itu..." Adit menghentikan kata katanya, ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya berlahan.
Dua orang pramusaji mengantar pesanan mereka, lalu menata meja dengan pesanan.

"Masih ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya pramusaji tersebut.

"Tidak, terimakasih" jawab Adit sembil mengangkat tangan kanannya.

"Adit menggeser pesanan Tiyas, lalu merapikan duduknya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap terlihat semakin maco dengan kaca mata hitam tergantung di kerah bajunya kaos putih yang dikenakannya.

Tiyas menyantap makanan di depannya, rasa lapar yang sudah sampai puncak kepalanya menepis sejenak sakit di hatinya. Adit tersenyum menatap Tiyas yang mulai sibuk memotong Steak di depannya.  Adit mengambil magkuk mirip lampu aladin yang terlihat mewah dengan warna silver di dekat Tiyas, lalu menuangkannya ke dalam hot stone di depan Tiyas.

Bagai tuan puteri, Tiyas diperlakukan sangat istimewa oleh Adit, walau merasa tersanjung, namun Tiyas mengunci hatinya rapat rapat, rasa nyaman dan takut beradu dalam hatinya.

Setelah selesai menikmati hidangan di restoran itu, Adit mengajak Tiyas nonton film, karena perlakuan Adit yang sangat sopan padanya, ia menganguk setuju.

Kini Tiyas punya tempat pelarian untuk melupakan sejenak rasa perih di hatinya. Adit memberinya perhatian melebihi siapapun yang pernah ia kenal. Namun Anak pertama pemilik perusahaan Elektronik di Jakarta ini, tidak pernah mencoba menyentuh Tiyas. Bahkan ia dengan rela melayani dan memperlakukan Tiyas bak puteri raja.

*
 Di tempat lain, Menik terlibat pembicaraan serius di rumah pak Andre, bening air mata menetes berlahan dari pelupuk matanta.

"Mbak Wita, tolong sampaikan pada pak Andre batalkan rencana walimahan ini!" ujar menik berurai air mata.  Wita memeluk Menik, mengusap kepala yang terbalut hijab coklat dengan penuh kasih sayang.

bersambung. 

gambar: pixabay














View Post

Hingar bingar suara musik berpadu dengan gemerlap lampu menghiasi ruang yang terasa begitu asing bagi Tiyas. Ini kali pertama ia memasuki gemerlap dunia malam yang selama ini tak pernah ia bayangkan. Ada rasa cemas di hatinya, namun bayangan Ihang dan Menik terus melekat dalam ingatannya hingga membuatnya kalap.

Ica menarik tangan Tiyas menuju meja bar, dan memesan segelas bir putih, Tiyas, sesaat ragu untuk meneguk minuman di depannya. 

"Hai Nona, nggak pengen icip icip? dijamin deh, kamu akan merasakan nikmatnya surga dunia" bisik Ica ke telinga Tiyas. 

Tiyas melirik ke arah Ica kemudian kembali memandangi Minuman haram itu ditangannya. berlahan ia mulai mencicipi bir putih itu. Sontak saja wajahnya mengkerut, ia merasa hidung dan kepalanya seperti baru disetrum.

" wahaha... emang begitu, Yas, kalau baru pertama mencoba, tunggu sebentar lagi, lo, pasti suka" teriak Ica sembari menarik tangan Tiyas menuju ke bawah sinar lampu yang kemerlapan mengikutui irama musik arembi yang dimainkan DJ.

Ica mulai menggoyangkan tangannya mengikuti alunan musik, ia terlihat malu malu, namun berlahan tubuhnya mulai borgoyang hanyut dalam hingar bingar suasana. Hingga malam semakin larut, Tiyas mulai sempoyongan, Ica tersenyum melihat temannya yang mulai mabuk. Bergegas ia memanggil taxi, lalu mengantar tiyas pulang ke kontrakan barunya. 

*

pagi ini tiyas bangun kesiangan, walau kepalanya terasa pusing namun ia memaksa dirinya untuk tetap berangkat ke kantor. Ia berpacu dengan waktu, kali ini ia memutuskan naik ojek online saja, agar sampai lebih cepat. Sesampainya di kantor, Tiyas segera menuju meja kerjannya. Beberapa pasang mata menatapnya dengan tajam, hari ini Tiyas terlihat sedikit kusut, tidak seperti biasanya yang selalu tampil sempurna. Tidak lama ia duduk, telephone di mejanya berdering. 

"Tiyas, kemari sebentar" tanpa menjawab, Tiyas menutup telphone lalu bergegas menuju ruangan Ihang. 

"Assalammualaikum" jawabnya dengan wajah sinis. 

"waalaikum salam, duduk" jawab Ihang sambil menatapnya dengan tajam. 
 Tiyas duduk di kursi tepat didepan meja Ihang. 
 

"Dari mana saja kamu, jam segini baru sampai kantor?" tanya Ihang dengan wajah ketat. 

"Dari rumah" jawab menik singkat sambil memalingkan wajahnya.

"Kemana Kamu semalam?, kenapa tidak hadir dirapat panitia kemaren di masjid Intirub?" tanya ihang, matanya menatap tajam gadis cantik didepannya. 

"Bisa nggak sih, nggak usah ngurusin urusan orang lain? usil amat, ya?!" jawab Tiyas sebel, bibir tipisnya terlihat merapat dan membulat.

kamu udah baca yang ini Jakarta In Love Part #3

Ihang menghela napas panjang, Tiyas berhasil membuatnya sedih, kalut dan bingung dirinya. Ia kehabisan kata kata, pria tampan yang juga CEO di perusahaan tersebut, menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi hitam yang empuk di belakangnya, tangannya memijat mijat batang hidungnya yang mulai memerah sambil memejamkan mata. 

Tiyas melirik puas, senyuman tips sinis terukir di wajahnya. Lalu ia bangkit dari duduk dan meninggalkan ruangan Ihang. 

Ihang menatap punggung tiyas hingga lenyap dibalik pintu. Segera ia menghubungi Sadeq, kali ini ia meminta pemuda yang baru saja hijrah itu untuk mengikuti dan mengawal Tiyas.

*

Malam ini, Tiyas kembali janjian dengan Ica, pergi ke club malam. ia menggunakan style sedikit terbuka, walau ia menggunakan Celan panjang namun ia kombinasikan dengan blous kuning dengan leher lebar yang memperlihatkan belahan dadanya. Dari kejauhan sepasang mata menatapnya dan mengikuti. 

Kali ini Tiyas tidak lagi kaku seperti sebelumnya, Ia kembali meneguk minuman yang akan membuat salat nya tidak bernilai selama empat puluh hari. Ia kembali larut dalam alunan musik disko yang dimainkan oleh DJ.Sesekali ia kembali ke meja bar untuk meneguk minumannya. Hingga kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya. sebelum tubuhnya ambruk ke lantai, Sadeq menangkap tubuhnya, lalu memopongnya kedalam sebuah mobil. Setelah merebahkan Tubuh Tiyas di kursi tangah, Sadeh segera meminta Ihang untuk datang ke lokasi.

Tak lama menunggu Ihang segera datang, ada rasa kesal di hatinya melihat ulah Tiyas. Segera Sadeq dan Ihang mengantar Tiyas ke kontrakannya. 


Pagi ini cuaca mendung, langit terlihat kelam, sekelam hati Tiyas yang baru saja bangun tidur. Ia bingung dengan keberadaannya di rumah, ia menduga Ica yang telah mengantarnya pulang seperti malam sebelumnya. Ia tersentak dari lamunanya saat dering panggilan masuk di handphone nya berbunyi. 

"Tiyas, ntar sore kita jalan yuk, kerumah teman gue, ada party seru, loh! Kita malam mingguan di sana" Ujar Ica bersemangat. 

" Oke, Gue ikut ya" jawab Tiyas singkat, ia kembali memeluk gulingnya dan melanjutkan tidur. 

*
"Assalammualikum Tiyas, woi buka pintunya donk!" Ica menggedor rumah Tiyas, tak lama berselang, Tiyas membuka pintu dan mempersilakan Ica masuk. 

"Astaga, yas, Lo, belum mandi?" tanya Ica dengan mata melotot melihat Tiyas yang masih menggunakan baju tadi malam saat mereka ke club. 

"hee... Gue ketiduran, Ca, bentar, ya, Gue mandi nggak lama kok" Kata Tiyas sembari menuju kamar mandi. 

Setelah hampir satu jam bersiap siap Tiyas dan Ica segera berangkat. Ica melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena jalanan masih lengang. 

"Ca, Gue lapar nih, kita beli makan sebebtar, yuk!" Kata Tiyas.

"Duhh, ntar kita ketinggalan , Non! Bentar lagi kita nyampe kok, di sana tuh banyak makanan, Lo mau makan apa aja bebas!" Jawab Ica dengan semangat berapi-api. Tiyas menghela napas panjang menahan perih diperutnya karena dari tadi malam ia belum makan nasi. 

 "Yuk, Yas, Kita udah nyampe" kata Ica sambil melepas sabuk pengamannya. Tiyas mengikutinya dan segera keluar dari mobil. Matanya tajam menatap sekeliling, terlihat sebuah rumah mewah dan megah di depannya.

"Permisi Pak, Kami mau izin masuk, ini undangan dan kartu pengenal saya" kata Ica seraya menyerahkan sebuah kartu undangan dan KTP miliknya pada satpam dari balik pintu pagar besi yang tinggi menjulang. Setelah di cek, satpam pun mengizinkan mereka masuk. 

Pintu pagar pun dibuka, terlihat halaman luas membentang, di pojok sebelah kiri terdapat kolam renang dengan genangan air biru memenuhi isi kolam. taman nan indah dah patung patung eksotik menghiasi setiap sudut taman. 

Ica menarik tangan Tiyas yang terlihat ragu untuk masuk. Ica membuka pintu rumah yang lebih mirip seperti pintu istana itu. Seketika Tiyas mundur, ia tercengang degan apa yang ia lihat. 

bersambung

sumber gambar: Pixabay

View Post